Ronaldo vs Modric: Duel Pamungkas Legenda di Toronto, Siapa yang Pamit?
Baca dalam 60 detik
- Portugal dan Croatia akan bertemu di babak 32 besar Piala Dunia 2026 di Toronto, laga yang bisa menjadi penampilan terakhir Cristiano Ronaldo dan Luka Modric di panggung akbar.
- Kedua megabintang, yang pernah bersama di Real Madrid, mendapat sambutan luar biasa dari penggemar di Toronto, dengan atribut mereka mendominasi jalanan kota.
- Pelatih Portugal Roberto Martinez menekankan bahwa usia hanyalah angka, sementara Modric mengakui karier internasionalnya mendekati titik akhir.

Toronto menjadi sakbis pertarungan dua legenda hidup sepak bola, Cristiano Ronaldo dan Luka Modric, yang akan saling sikut di babak 32 besar Piala Dunia 2026. Laga di Toronto Stadium pada Kamis (1/7) ini bukan sekadar perebutan tiket ke babak berikutnya, melainkan juga bisa menjadi momen perpisahan bagi dua ikon yang telah mendominasi olahraga ini selama dua dekade.
Suasana kota Toronto sudah berubah menjadi lautan jersey merah-hijau Portugal dan merah-putih Croatia. Para suporter Portugal bahkan sempat menghentikan lalu lintas di salah satu jalan tol utama kota demi melihat bus tim kesayangan mereka. Perayaan Canada Day yang bertepatan dengan laga ini semakin menambah semarak, tetapi perhatian utama tetap tertuju pada duel dua pemain berusia 41 tahun yang sama-sama menginjak usia senja karier.
Portugal datang dengan performa yang belum konsisten, sementara Croatia harus mengakui kelemahan mereka saat dibuka telak oleh Inggris. Tanpa favorit yang jelas, laga ini diprediksi berlangsung ketat. Namun, satu hal yang pasti: atmosfer stadion akan membara. Suporter Croatia sudah menunjukkan kemampuan mereka menguasai sudut-sudut Toronto saat laga grup melawan Panama.
Pelatih Portugal, Roberto Martinez, menolak anggapan bahwa usia menjadi kelemahan. "Kami berbicara tentang pemain yang berada di atas opini publik. Mereka istimewa karena umur panjang di sepak bola," ujarnya. "Luka Modric, yang sudah berusia 40 tahun, masih bermain dalam jumlah pertandingan yang sangat signifikan. Sama dengan kapten kami: usia hanyalah angka." Martinez juga menekankan peran mereka sebagai panutan di ruang ganti, yang menginspirasi jutaan atlet muda.
Kiper Croatia, Dominik Livakovic, menyebut Ronaldo dan Modric sebagai "dua raksasa sepak bola yang telah meninggalkan jejak." Namun, ia cepat mengalihkan fokus ke target tim: "Saya dan seluruh tim akan melakukan segalanya agar Luka bisa melanjutkan perjalanannya." Modric sendiri mengakui bahwa ia mendekati fase penentu dalam karier internasionalnya. "Saya tahu saya telah mencapai fase tertentu dalam karier saya," katanya. Sementara itu, Ronaldo sudah menegaskan bahwa Piala Dunia ini adalah yang terakhir baginya.
Hubungan keduanya, yang dibangun selama enam tahun di Real Madrid, dipenuhi rasa saling menghormati. Ronaldo pernah mengatakan bahwa menonton Modric bermain adalah "kesenangan", sedangkan Modric menyebut Ronaldo sebagai "pribadi luar biasa dengan hati yang besar." Kini, mereka akan berhadapan di sisi berlawanan lapangan, dan salah satu dari mereka harus mengakhiri perjalanan Piala Dunia yang tak terlupakan.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, duel ini menjadi pengingat bahwa era dua ikon global akan segera berakhir. Meski tak ada wakil Asia Tenggara di turnamen ini, pertandingan seperti ini tetap menyedot perhatian karena nilai historis dan emosionalnya. Pertanyaannya, akankah Toronto menjadi saksi bisu akhir dari sebuah generasi emas sepak bola dunia?



