Fashion di Wimbledon: Taylor Fritz Tiru Gaya Federer, Tapi Waspada Kutukan Pakaian
Baca dalam 60 detik
- Petenis Amerika Taylor Fritz lolos dari kekalahan di babak pertama Wimbledon setelah tampil memukau dengan setelan jas putih ala Roger Federer.
- Fritz mengaku gugup karena khawatir tersingkir lebih awal saat mengenakan pakaian mencolok, sebuah tekanan yang juga dirasakan petenis lain.
- Fenomena fashion di lapangan tenis kian marak, dari kimono Naomi Osaka hingga blazer Novak Djokovic, menambah dimensi baru dalam olahraga ini.

Taylor Fritz, unggulan keenam asal Amerika Serikat, berhasil melewati babak pertama Wimbledon tanpa tersandung, meskipun ia tampil dengan setelan jas putih yang mengingatkan pada ikon tenis Roger Federer. Kemenangan 6-3, 6-4, 6-3 atas Dusan Lajovic di Lapangan Satu menjadi bukti bahwa penampilan spektakuler tidak selalu berujung pada hasil buruk.
Fritz mengaku bahwa pilihan busana yang berani justru meningkatkan tekanan mentalnya. "Jika kamu tampil dengan pakaian lengkap lalu kalah di babak pertama, kamu akan terlihat bodoh," ujarnya. Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan: sejarah mencatat banyak petenis yang tampil mencolok justru gagal di awal turnamen. Frances Tiafoe, rekan senegaranya, bahkan sempat bercanda bahwa "kamu tidak bisa berjalan dengan pakaian keren lalu tersingkir di ronde pertama."
Fenomena fashion di Wimbledon bukanlah hal baru. Naomi Osaka, mantan nomor satu dunia, tiba di SW19 dengan kimono panjang putih bersih, mematuhi aturan all-white turnamen. Sebelumnya, ia memukau publik di Roland Garros dengan gaun emas berkilau yang disebut "Menara Eiffel di malam hari" dan busana terinspirasi ubur-ubur di Australia Terbuka. Novak Djokovic pun tak ketinggalan, meski hanya mengenakan blazer kustom Lacoste untuk pertandingan pertamanya melawan Wu Yibing.
Fritz mengaku awalnya ragu saat sponsor Hugo Boss mengusulkan ide jas putih tersebut. "Saya tidak yakin 100 persen, tapi setelah melihat foto-foto setelah pertandingan, rasanya cukup oke," katanya. Ia menambahkan bahwa sebagai atlet yang disponsori, sulit untuk menolak permintaan sponsor. "Beberapa orang akan menyukainya, yang lain akan menganggapnya berlebihan," ujarnya.
Fashion di lapangan tenis kini menjadi bagian dari strategi personal branding atlet. Di Indonesia, tren ini mulai terlihat di turnamen lokal, di mana pemain muda kerap tampil dengan pakaian mencolok untuk menarik perhatian sponsor dan penggemar. Namun, seperti diingatkan Fritz, risiko tampil menor adalah tekanan ekstra untuk tampil sempurna di atas lapangan.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah: akankah tren fashion ini terus berkembang, atau justru menjadi bumerang bagi petenis yang gagal membuktikan diri? Wimbledon 2024 mungkin menjadi panggung bagi lebih banyak kejutan mode, tetapi satu hal pasti: kemenangan tetap menjadi aksesori terbaik di lapangan hijau.



