Rybakina Lolos dari Kejutan Debutan Wimbledon: Performa Inkonsisten Jadi Pekerjaan Rumah
Baca dalam 60 detik
- Elena Rybakina, unggulan kedua dan juara Wimbledon 2022, nyaris tersingkir di babak pertama oleh debutan Lois Boisson sebelum menang 6-4, 1-6, 6-3.
- Boisson, yang belum pernah menang di lapangan rumput, memanfaatkan 35 kesalahan sendiri Rybakina dan memaksakan set ketiga sebelum cedera betis mengganggu permainannya.
- Kemenangan ini menjadi alarm bagi Rybakina yang mengaku perlu banyak perbaikan, sementara petenis Indonesia masih menanti kejutan serupa di turnamen Grand Slam.

Elena Rybakina, unggulan kedua dan juara Wimbledon 2022, nyaris tersungkur di babak pertama turnamen tenis paling bergengsi di dunia setelah menghadapi perlawanan sengit dari debutan asal Prancis, Lois Boisson, Selasa (30/6). Petenis berusia 27 tahun itu akhirnya menang dengan skor 6-4, 1-6, 6-3, namun performanya jauh dari meyakinkan dan memunculkan tanda tanya besar jelang laga-laga selanjutnya.
Pertandingan di Court One berlangsung dramatis. Rybakina, yang juga juara Australian Open 2024, tampil dominan di set pertama dengan memenangi 6-4. Namun, Boisson yang baru pertama kali bermain di lapangan rumput Wimbledon justru tampil agresif di set kedua. Ia memanfaatkan 13 kesalahan sendiri Rybakina dan memenangi set tersebut dengan telak 6-1. "Ini pertandingan yang sangat sulit, apalagi saya tidak datang dengan banyak kemenangan. Saya harus benar-benar berjuang," ujar Rybakina usai laga.
Boisson, yang tahun lalu mengejutkan banyak pihak dengan melaju ke semifinal Prancis Terbuka sebelum tersingkir di babak pertama tahun ini, menunjukkan ketangguhan mental luar biasa. Ia meminta medical timeout pada kedudukan 4-1 di set kedua karena masalah pada betis kirinya. Meski sempat kesakitan setelah terjatuh di set ketiga saat menghadapi tiga break point pada kedudukan 3-4, ia mampu menyelamatkan dua di antaranya sebelum akhirnya Rybakina memastikan break dan menutup pertandingan dengan servis gemilang.
Rybakina mengakui bahwa persentase servisnya tidak maksimal, sehingga memudahkan lawan untuk mengembalikan bola. "Persentase servis saya tidak bagus, jadi ketika dia bisa mengembalikan servis pertama dengan baik, tidak mudah untuk mematahkannya," katanya. Ia juga mengaku banyak berdiskusi dengan tim pelatihnya selama medical timeout untuk mencari solusi. "Mereka hanya mencoba menyemangati saya, meminta saya terus bergerak, memperbaiki footwork, dan saya senang bisa melewatinya."
Kemenangan ini menjadi pengingat bahwa persaingan di tenis putri semakin ketat. Boisson, yang lolos kualifikasi, hampir saja menciptakan kejutan besar. Bagi Rybakina, laga ini menjadi alarm untuk segera memperbaiki konsistensi permainan. "Saya perlu banyak perbaikan, tapi saya senang mendapat kesempatan lain," ucapnya.
Dari sudut pandang Indonesia, pertandingan ini menyoroti betapa sulitnya menembus babak utama Wimbledon, apalagi meraih kemenangan. Petenis Indonesia masih berjuang di level yang lebih rendah, namun kisah Boissonโyang nyaris mengalahkan unggulan keduaโbisa menjadi inspirasi. Dengan kerja keras dan keberuntungan, bukan tidak mungkin suatu hari petenis Indonesia mampu menyaingi para bintang dunia. Namun, untuk itu diperlukan pembinaan usia dini, turnamen internasional yang lebih banyak, dan dukungan finansial yang memadai.
Ke depan, Rybakina harus segera menemukan performa terbaiknya jika ingin mempertahankan gelar. Lawan berikutnya mungkin tidak akan semurah hati Boisson yang cedera. Pertanyaan besarnya: apakah ini hanya awal dari keterpurukan atau justru momentum kebangkitan? Wimbledon masih panjang, dan setiap pertandingan adalah ujian.



