Petenis Ukraina Snigur Singkirkan Unggulan Kedelapan Svitolina di Babak Awal Wimbledon
Baca dalam 60 detik
- Daria Snigur, petenis peringkat 77 dunia, mengalahkan Elina Svitolina 7-5, 6-2 dalam 68 menit di babak pertama Wimbledon.
- Kemenangan ini menjadi yang pertama bagi Snigur melawan pemain top-10 sejak 2023, sekaligus memperpanjang penantian Svitolina untuk gelar Grand Slam perdana.
- Pertandingan sesama Ukraina ini menyoroti persaingan internal yang ketat di tengah konflik negara, dengan Snigur mengaku gugup menghadapi rekan senegaranya.

Kegagalan Elina Svitolina meraih gelar Grand Slam pertamanya berlanjut setelah ia tersingkir di babak pertama Wimbledon oleh rekan senegaranya, Daria Snigur, dalam pertandingan yang berlangsung cepat pada Selasa (30/6). Unggulan kedelapan asal Ukraina itu takluk 7-5, 6-2 hanya dalam waktu 68 menit di Lapangan Dua All England Club.
Svitolina, yang dua kali mencapai semifinal Wimbledon, memulai pertandingan dengan dominan dengan memimpin 4-0 di set pertama. Namun, Snigur yang berusia 24 tahun mampu membalikkan keadaan dengan memenangkan tujuh game berikutnya untuk merebut set pertama. Momentum itu berlanjut ke set kedua, di mana Snigur mematahkan servis Svitolina di game kelima dan tidak pernah melihat ke belakang.
Kemenangan ini menjadi yang pertama bagi Snigur melawan pemain peringkat 10 besar sejak 2023. Petenis peringkat 77 dunia itu mengaku sangat gugup menghadapi Svitolina, yang saat ini menjadi petenis putri terbaik Ukraina. "Saya sangat gugup. Elina adalah yang terbaik di Ukraina sekarang. Ini awal yang sulit bagi saya," ujar Snigur seusai pertandingan. Ia juga menyebut Wimbledon sebagai turnamen favoritnya dan merayakan kemenangan dengan gaya seperti pemain sepak bola.
Di sisi lain, Svitolina mengakui penampilannya tidak maksimal. Ia menyebut beberapa faktor memengaruhi performanya, termasuk kelelahan setelah musim tanah liat yang panjang. "Saya tidak akan mengatakan saya berada di 100 persen seperti yang saya inginkan. Sayangnya, ini yang terjadi," kata Svitolina. Ia juga menambahkan bahwa rumput di Wimbledon sangat tidak terduga dan lawannya lebih nyaman bermain di permukaan tersebut.
Bagi penggemar tenis di Indonesia, pertandingan ini menjadi pengingat akan persaingan sengit di level tertinggi, terutama di tengah konflik yang melanda Ukraina. Snigur dan Svitolina sama-sama berasal dari negara yang sedang berperang, namun mereka tetap profesional di lapangan. Kemenangan Snigur juga menunjukkan bahwa peringkat bukanlah segalanya, mengingat ia mampu mengalahkan unggulan kedelapan dengan percaya diri.
Snigur selanjutnya akan menghadapi pemain kualifikasi asal Prancis, Leolia Jeanjean, di babak kedua. Sementara bagi Svitolina, kekalahan ini memberinya waktu istirahat setelah jadwal padat Eropa. "Sekarang saya punya waktu untuk beristirahat, akhirnya. Setelah Roland Garros dan rangkaian turnamen Eropa yang sibuk, saya tidak punya banyak waktu untuk istirahat," ujarnya.
Pertanyaan yang muncul adalah apakah Snigur mampu melanjutkan performa impresifnya dan melaju lebih jauh di Wimbledon? Ataukah ini hanya kejutan sesaat? Yang jelas, petenis muda Ukraina itu telah menunjukkan bahwa ia layak diperhitungkan di turnamen Grand Slam.



