Pelatih Sheffield United Sebut Pemain Maddy Cusack 'Psiko' Sebelum Meninggal, Terungkap di Sidang
Baca dalam 60 detik
- Sidang kematian Maddy Cusack mengungkap pelatih Jonathan Morgan kerap melontarkan komentar merendahkan, termasuk menyebut pemain itu 'psiko' dan mengkritik berat badannya.
- Rekan setim dan kekasih Cusack, Grace Riglar, bersaksi bahwa Morgan melakukan 'mind games' dengan menurunkan Cusack secara tidak konsisten, yang dianggap sebagai serangan pribadi.
- Kasus ini menyoroti pentingnya perlindungan kesehatan mental atlet, terutama di sepak bola wanita yang kerap menghadapi tekanan psikologis dari pelatih.

Pelatih tim wanita Sheffield United, Jonathan Morgan, disebut kerap melakukan tekanan psikologis terhadap pemainnya Maddy Cusack sebelum kematiannya pada September 2023. Dalam sidang di Pengadilan Koroner Chesterfield, terungkap bahwa Morgan pernah memanggil Cusack dengan sebutan 'psiko' dari pinggir lapangan dan kerap mengomentari berat badan serta hubungan pribadi pemain berusia 27 tahun itu.
Cusack ditemukan tak sadarkan diri oleh ayahnya di rumah keluarga di Horsley, Derbyshire, pada 20 September 2023 dan meninggal di hari yang sama. Sidang yang digelar Selasa lalu mendengarkan kesaksian Grace Riglar, rekan setim sekaligus kekasih Cusack, yang mengungkapkan bahwa Cusack merasa cemas sejak Morgan bergabung dengan klub. Sebelumnya, Cusack pernah bekerja sama dengan Morgan di Leicester City dan memiliki pengalaman buruk.
Menurut Riglar, Morgan tidak hanya melontarkan komentar ofensif, tetapi juga menerapkan rotasi pemain yang tidak konsisten. "Dia terbiasa menjadi starter di setiap pertandingan, anggota tim yang penting. Saat Jonathan datang, dia sering keluar-masuk dari tim utama. Dia melihat itu sebagai kemunduran. Dia merasa itu semacam serangan pribadi, bahwa Jonathan bermain 'mind games' dengan menurunkannya satu pekan dan mencadangkannya pekan berikutnya," ujar Riglar di persidangan.
Riglar juga mengungkapkan bahwa Morgan kerap memanggilnya 'Mrs Cusack' di depan pemain lain, yang membuat Cusack tidak nyaman. "Kami ingin menjaga hubungan tetap profesional. Sisi sepak bola dan hubungan pribadi sangat terpisah," kata Riglar. Selain itu, Morgan diduga mengomentari berat badan Cusack, yang mendorongnya mengubah pola makan—tidak mengonsumsi karbohidrat, melewatkan sarapan, dan melakukan lari tambahan—meskipun ia adalah salah satu pemain paling bugar di tim.
Sidang juga mengungkap bahwa Cusack menjadi 'paranoid' di awal musim baru dan merasa tidak memiliki tempat untuk berbicara tanpa takut informasi itu sampai ke Morgan. Ia bahkan telah mendapatkan surat keterangan sakit dari dokter untuk cuti dari pekerjaan paruh waktunya sebagai pemain dan pekerjaan penuh waktu di bagian pemasaran Sheffield United. Cusack juga diberi resep obat anti-cemas. Sebelum meninggal, ia sempat bercerita kepada kekasihnya ingin pindah ke Dubai dan menjadi pramugari, serta telah mencari pekerjaan baru secara daring. "Dia tidak ingin kembali bermain sepak bola. Saya rasa dia tidak tahu cara keluar dari situasi itu," tambah Riglar.
Kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya perlindungan kesehatan mental atlet, terutama di sepak bola wanita yang kerap menghadapi tekanan dari pelatih dan manajemen. Di Indonesia, meskipun belum ada kasus serupa yang mencuat, isu kesehatan mental atlet mulai mendapat perhatian. Beberapa klub dan federasi telah mulai menyediakan layanan konseling, namun implementasinya masih belum merata. Pertanyaan yang muncul: apakah sepak bola Indonesia sudah cukup siap melindungi pemain dari tekanan psikologis semacam ini?



