Sekolah di Osaka Ajarkan Anak Bertahan dari Kemiskinan dan Kekerasan Rumah Tangga
Baca dalam 60 detik
- Nishinari High School di Osaka menerapkan pendekatan pendidikan yang berfokus pada pemulihan trauma siswa dari latar belakang keluarga bermasalah.
- Guru tidak menghukum siswa bermasalah, melainkan menggali akar masalah yang sering kali berasal dari kemiskinan dan kekerasan domestik.
- Program ini diharapkan mencetak lulusan yang mampu membangun masyarakat yang lebih peduli, bukan justru melanggengkan siklus ketidakadilan.

Di balik gemerlap kota Osaka, sebuah sekolah menengah atas di distrik Nishinari—kawasan yang identik dengan kantong kemiskinan—menawarkan model pendidikan yang tak lazim: menjadikan trauma dan kesulitan hidup siswa sebagai bahan ajar utama. Osaka Prefectural Nishinari High School tidak hanya mengajarkan matematika atau sejarah, tetapi juga keterampilan bertahan hidup dan keberanian melawan ketidakadilan.
Salah satu alumninya, Sakura Ichimoto (31), tiga tahun lalu berbagi kisah kelam di hadapan siswa aktif. Ia tumbuh tanpa figur ayah sejak kelas lima, sementara ibunya yang tidak stabil mental sering mengancam bunuh diri dan berkali-kali overdosis. Ichimoto kecil harus menelepon ambulans sendiri. Makanan sehari-hari hanya pesan-antar atau nasi kotak. Puncaknya, ibunya pernah mengacungkan pisau dapur sambil berteriak, "Aku akan membunuhmu, lalu bunuh diri." Di depan teman-teman, ia berpura-pura ceria, tetapi di dalam hatinya ia hanya ingin "lenyap sama sekali".
Ichimoto mengaku tidak pernah tahu seperti apa keluarga "normal". Norma sosial ia pelajari sendiri. Karena itu, ia bersyukur Nishinari High "membantu saya belajar keterampilan yang diperlukan untuk hidup mandiri". Salah satu pelajaran paling berharga adalah berani bersuara ketika ada yang salah. Setelah lulus, ia bekerja sebagai pemandu bus wisata, tetapi gaji awal yang diterima puluhan ribu yen lebih rendah dari yang dijanjikan. Ia membawa slip gaji ke sekolah, dan seorang guru menghubungi majikannya. Gajinya pun dikoreksi.
Kepala Sekolah Katsuji Yamada (69) menekankan perubahan pola pikir guru. Ia melarang guru memarahi siswa secara refleks. Sebaliknya, mereka harus bertanya, "Mengapa masalah ini terjadi pada anak ini?" dan saling berbagi informasi. Yamada belajar dari para siswanya bahwa akar masalah sering kali bukan pada anak, melainkan pada lingkungan rumah—dan lebih jauh lagi, pada problem sosial yang membuat keluarga mereka terpuruk. "Mengapa anak-anak ini yang harus terluka?" tanya Yumiko Mori (55), guru senior yang menangani dukungan kehidupan sehari-hari. Ketika seorang siswa sering terlambat, ia bertanya dengan santai, "Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?" Siswa itu pun curhat, "Ibu saya kerja malam, jadi saya harus mengantar adik ke tempat penitipan anak."
Jika sekolah tidak mengajarkan mereka, para siswa mungkin akan terus percaya bahwa keadaan yang mereka alami adalah kesalahan mereka sendiri atau keluarga mereka. Ketika terluka oleh prasangka masyarakat, mereka hanya tahu cara bertahan. Bahkan, mereka bisa melukai orang lain yang rentan tanpa mempertimbangkan situasinya. "Selama mereka di sini, kami akan melakukan apa pun yang kami bisa," tegas Mori. Ichimoto masih percaya pada guru-gurunya. Ia berkata kepada siswa saat ini, "Guru-guru ini akan mengulurkan tangan untuk membantumu. Dan setelah mereka memegang tanganmu, saya rasa mereka tidak akan melepaskannya."
Kolaborasi dengan dinas kesejahteraan pemerintah dan kelompok dukungan swasta juga dilakukan untuk memperbaiki kondisi hidup siswa. Sejak tahun ajaran 2024, sekolah ini ditunjuk dalam program "Step School" Prefektur Osaka, yang membantu anak-anak yang kesulitan secara akademik di SD dan SMP untuk membangun kemampuan memasuki masyarakat sambil mempelajari kembali dasar-dasar. Beberapa keluarga bahkan tidak mampu membeli seragam sekolah. Para alumni menyumbangkan seragam bekas mereka. "Karena mereka saling memahami keadaan, mereka mengulurkan tangan," kata Yamada. Semangat itu telah mengakar di sekolah.
Tahun ajaran ini kemungkinan menjadi tahun terakhir Yamada mengajar. "Saya ingin sekolah ini menjadi tempat di mana anak-anak tidak menyerah pada masyarakat yang dingin dan tanpa harapan, tetapi justru menemukan alasan untuk percaya bahwa masyarakat masih layak dipercaya," ujarnya. Dengan harapan itu, ia ingin para lulusan Nishinari High menjadi orang-orang yang membangun masyarakat yang lebih baik. Pertanyaannya, mampukah model pendidikan seperti ini direplikasi di Indonesia, di mana kemiskinan dan kekerasan rumah tangga juga menjadi masalah kronis yang memengaruhi jutaan anak?



