Cape Verde Cetak Sejarah: Tim Terkecil yang Lolos ke Fase Gugur, Tantang Argentina
Baca dalam 60 detik
- Cape Verde menjadi negara dengan populasi paling sedikit yang pernah menembus babak knockout Piala Dunia, setelah tiga kali imbang di fase grup.
- Kiper Vozinha, yang masih tanpa klub, menjadi pahlawan dengan dua clean sheet, termasuk saat menahan Spanyol dan Arab Saudi.
- Laga melawan Argentina di babak 32 besar akan menjadi ujian terbesar bagi semangat juang tim debutan asal Afrika ini.

Kiper veteran Cape Verde, Vozinha, menegaskan bahwa skuadnya telah membuktikan diri mampu bersaing di level tertinggi setelah sukses melaju ke babak 32 besar Piala Dunia 2026. Tim debutan dari kepulauan kecil di Afrika itu akan berhadapan dengan juara bertahan Argentina di Miami, Jumat pekan depan.
Cape Verde finis sebagai runner-up Grup H setelah meraih tiga hasil imbang beruntun, termasuk menahan Arab Saudi 0-0 pada laga terakhir. Hasil itu memastikan mereka menjadi negara dengan populasi paling sedikitโsekitar 500.000 jiwaโyang pernah mencapai fase gugur turnamen sepak bola terbesar di dunia.
Vozinha, yang genap berusia 40 tahun, mencatatkan dua clean sheet di turnamen ini. Penampilan gemilangnya saat membungkam juara Eropa Spanyol membuat namanya melambung. Namun, kiper yang saat ini berstatus bebas transfer itu menolak disebut sebagai pahlawan tunggal. "Kami datang dari negara kecil, tapi kami datang untuk bersaing. Mungkin banyak yang meremehkan kami, tetapi kami tunjukkan kualitas sesungguhnya," ujarnya kepada wartawan setelah laga kontra Arab Saudi.
Bagi Vozinha, pencapaian ini adalah buah dari identitas tim yang jelas dan semangat pantang menyerah. "Kami tunjukkan ketangguhan rakyat Cape Verde. Kami mungkin kecil, tapi hati kami besar. Kami adalah pejuang," tegasnya. Kisahnya kian mengharukan karena sang ibu, Ana Candida Evora, bisa menyaksikan langsung pertandingan di Houston setelah pemerintah AS membantu proses visa.
Kesuksesan Cape Verde menjadi inspirasi bagi negara-negara kecil, termasuk Indonesia, yang memiliki populasi jauh lebih besar namun masih berjuang menembus Piala Dunia. Pelajaran berharga dari Cape Verde adalah pentingnya membangun identitas permainan yang jelas dan mentalitas juara, meski tanpa pemain bintang yang bermain di liga top Eropa. Vozinha sendiri mengakui bahwa pemain Cape Verde mampu bermain di kompetisi mana pun, dan mereka datang ke Piala Dunia untuk membuktikannya.
Kini, perhatian tertuju pada laga melawan Argentina yang diperkuat Lionel Messi. Vozinha menyebut pertandingan itu sebagai mimpi yang menjadi kenyataan. "Bagi pemain mana pun, menghadapi Argentina dan Messi adalah mimpi. Kami akan menikmati momen ini dan berjuang sekuat tenaga," ujarnya. Pertanyaan besarnya: bisakah dongeng Cape Verde berlanjut, atau Argentina akan menghentikan laju tim debutan yang penuh kejutan ini?



