Krisis Rangers Makin Dalam: McInnes Gagal Bangkit, Suporter Geram
Baca dalam 60 detik
- Empat laga tanpa kemenangan, Rangers tersingkir dari kualifikasi Europa League setelah kalah agregat 2-3 dari Jagiellonia Bialystok.
- Manajer Derek McInnes mengakui skuad belum siap tampil di kompetisi elite, meski sudah menghabiskan jutaan pound untuk sembilan pemain baru.
- Tekanan publik Ibrox kian memuncak; sebagian pendukung menuntut kembalinya James Tavernier untuk memulihkan kepemimpinan tim.

Kekalahan agregat 2-3 dari Jagiellonia Bialystok pada leg kedua babak kualifikasi ketiga Europa League, Kamis (1/8) dini hari WIB, memastikan Rangers tersingkir lebih awal dari kompetisi antarklub Eropa musim ini. Hasil imbang 1-1 di Ibrox itu tak cukup mengejar defisit gol, dan suporter yang sudah kecewa mulai meninggalkan stadion sebelum peluit panjang berbunyi. Ini merupakan awal terburuk bagi manajer Derek McInnes dibandingkan pendahulunya dalam empat laga pertama, sebuah sinyal bahaya yang sulit diabaikan.
McInnes, yang musim lalu nyaris merebut gelar Liga Skotlandia bersama Hearts, ditunjuk untuk membangun kembali kejayaan Rangers. Namun, dari sembilan rekrutan anyar yang menghabiskan dana besar, performa tim justru jauh dari harapan. “Klub ini dibangun untuk Liga Champions dan Liga Europa, tapi saya tidak yakin tim ini siap,” ujarnya seusai laga, mengakui bahwa kualitas skuad masih kurang. Ia menekankan perlunya tambahan pemain berkualitas dan pemulihan kepercayaan diri tim.
Masalah utama yang diidentifikasi McInnes adalah inkonsistensi dalam 90 menit permainan. Pada babak pertama, Rangers tampil dominan, tetapi kehilangan kendali setelah jeda. Keputusan taktis mengganti gelandang Thelo Aasgaard dengan bek sayap Ross McCrorie untuk mengubah formasi menjadi empat bek justru dipertanyakan. Mantan gelandang Rangers, Andy Halliday, menilai perubahan itu tidak efektif. “Alasannya masuk akal, tapi tidak berhasil,” katanya di BBC Radio Scotland. “Mereka kehilangan kendali tanpa tambahan pemain di lini tengah.”
Di tengah kekalahan ini, kabar buruk lain datang dari cedera panjang Youssef Chermiti yang diderita striker muda itu setelah Rangers menolak tawaran besar untuknya. Akibatnya, klub harus berburu penyerang baru di sisa bursa transfer, selain wingers dan bek yang sudah menjadi target. PSV Eindhoven dikabarkan akan melepas winger Couhaib Driouech ke Ibrox, namun Halliday menilai skuad saat ini seharusnya sudah cukup untuk mengalahkan tim-tim seperti Dundee United, Hibernian, dan bahkan Jagiellonia. “Skuad yang ada sekarang seharusnya bisa menang,” tegasnya.
Kapten baru Lawrence Shankland, yang diharapkan menjadi juru kunci gol, justru kesulitan menghadapi tekanan publik. Mantan striker Rangers, Steven Thompson, menyoroti beban mental yang dipikul Shankland. “Ini soal beratnya bermain untuk Rangers, beratnya tidak memulai dengan baik, dan beratnya ketika melakukan kesalahan,” ujarnya. “Di klub sebelumnya, kesalahan kecil mungkin dimaklumi, tapi di sini, setiap sentuhan buruk langsung disorot.”
Tekanan terhadap McInnes semakin nyata. Sebagian pendukung menuntut pergantian manajer, sementara yang lain meminta kesabaran. Namun, Halliday menyarankan langkah berani: menghubungi mantan kapten James Tavernier yang masih berstatus bebas transfer. “Dia peningkatan langsung,” kata Halliday. “Kemampuannya bermain di bawah tekanan dan tidak takut melakukan kesalahan adalah yang dibutuhkan tim ini.” Tavernier, yang dilepas pada musim panas ini, dinilai bisa menjadi solusi atas kurangnya kepemimpinan di lini belakang.
Kekalahan ini membuat Rangers harus melakoni play-off Conference League melawan Jablonec dari Republik Ceko. Namun, dengan masalah internal yang belum tuntas, apakah McInnes mampu membalikkan keadaan? Pertanyaan itu kini menggantung di udara Ibrox. Jika tidak segera ada perbaikan, bukan tidak mungkin kursi kepelatihan akan kembali berputar, mengulang nasib Russell Martin musim lalu.



