Delapan Perusahaan Siap IPO di BEI, Sektor Kesehatan Mendominasi
Baca dalam 60 detik
- Bursa Efek Indonesia mencatat delapan emiten baru dalam pipeline IPO, dengan mayoritas berasal dari sektor kesehatan.
- Sebanyak enam dari delapan calon emiten memiliki aset di atas Rp250 miliar, menunjukkan dominasi perusahaan besar.
- Enam perusahaan dijadwalkan melantai pada Juli 2026, termasuk emiten milik Raffi Ahmad, PT RANS Entertainment Indonesia.

Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mencatatkan geliat pasar modal dengan delapan perusahaan yang tengah mengantre untuk melaksanakan penawaran umum perdana (IPO). Dari jumlah tersebut, sektor kesehatan mendominasi dengan empat calon emiten, sementara sisanya tersebar di sektor konsumen dan infrastruktur.
Direktur Penilaian BEI, I Gede Nyoman Yetna, mengungkapkan bahwa pipeline pencatatan saham ini masih aktif hingga akhir Juni 2026. "Hingga saat ini, terdapat delapan perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (29/6/2026).
Dominasi sektor kesehatan mencerminkan tren positif industri ini pasca-pandemi, di mana kebutuhan layanan kesehatan dan diagnostik terus meningkat. Keempat emiten kesehatan tersebut di antaranya PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) dan PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI), yang bergerak di bidang laboratorium dan rumah sakit.
Menariknya, mayoritas calon emiten masuk kategori perusahaan besar dengan aset di atas Rp250 miliar. Hanya satu perusahaan beraset kecil (di bawah Rp50 miliar) dan satu beraset menengah (Rp50-250 miliar). Hal ini menunjukkan bahwa BEI masih menjadi tujuan utama bagi perusahaan-perusahaan mapan untuk menggalang dana dari publik.
Enam dari delapan perusahaan tersebut dijadwalkan melantai pada Juli 2026. Selain emiten kesehatan, terdapat pula PT Niramas Utama Tbk (JELI) yang bergerak di sektor konsumen, PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) di bidang infrastruktur, serta PT Bach Multi Global Tbk (BACH) dan PT RANS Entertainment Indonesia Tbk (RANS) milik selebritas Raffi Ahmad.
Bagi investor Indonesia, antrean IPO ini membuka peluang diversifikasi portofolio, khususnya di sektor kesehatan yang tengah naik daun. Namun, perlu dicermati bahwa valuasi perusahaan besar kerap lebih tinggi, sehingga potensi capital gain mungkin lebih terbatas dibandingkan emiten kecil. Analis menyarankan investor untuk mencermati prospek bisnis masing-masing emiten sebelum memutuskan berpartisipasi.
Ke depan, BEI diharapkan terus mendorong lebih banyak perusahaan, termasuk dari sektor UMKM, untuk memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan. Pertanyaannya, akankah tren IPO ini berlanjut di semester kedua 2026 seiring dengan kondisi ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian?



