Misi Aditya-L1 Ungkap 93% Energi Korona Matahari Berasal dari Medan Magnet: Terobosan Ilmuwan India
Baca dalam 60 detik
- Studi terbaru Aditya-L1 mengungkap bahwa 93% energi yang memanaskan korona Matahari berasal dari sambungan ulang medan magnet, bukan gelombang permukaan.
- Temuan ini menjawab misteri lama mengapa suhu korona (2 juta °C) jauh lebih panas daripada permukaan Matahari (5.500 °C), dan bagaimana ia tetap panas setelah semburan massa korona.
- Hasil riset yang dipublikasikan di Astrophysical Journal Letters ini menjadi tolok ukur baru bagi penelitian astrofisika surya, termasuk potensi dampaknya pada prediksi cuaca antariksa yang memengaruhi satelit dan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia.

Misteri mengapa atmosfer terluar Matahari, yang dikenal sebagai korona, bersuhu jutaan derajat lebih panas daripada permukaannya akhirnya mulai terkuak. Misi observasi surya pertama India, Aditya-L1, berhasil mengungkap bahwa 93 persen energi yang menjaga suhu ekstrem korona berasal dari proses sambungan ulang medan magnet, bukan dari gelombang yang dihasilkan gejolak permukaan Matahari. Temuan ini tidak hanya menjawab teka-teki fisika yang membingungkan para ilmuwan selama puluhan tahun, tetapi juga membuka jalan bagi pemahaman yang lebih baik tentang cuaca antariksa yang berdampak langsung pada teknologi modern di Bumi.
Dalam studi yang dipublikasikan di Astrophysical Journal Letters, tim astrofisikawan yang dipimpin Profesor R. Ramesh dari Indian Institute of Astrophysics (IIA) menganalisis data dari koronagraf Velc (Visible Emission Line Coronagraph) yang dibawa Aditya-L1. Mereka mengamati semburan massa korona (CME) yang sangat energik pada 5 Agustus 2024. Hasilnya, dalam 10 jam setelah CME, garis-garis medan magnet yang kusut kembali terhubung dan energi korona pulih sepenuhnya. "Kami melihat bahwa dalam 10 jam setelah CME, garis medan yang kusut mampu kembali ke posisi semula, mereka terhubung kembali dan energi korona dikonfigurasi ulang," ungkap Prof. Ramesh.
Fenomena ini menjelaskan mengapa korona tetap panas meskipun terus kehilangan energi melalui semburan matahari. Jika energi tidak segera dipulihkan, Matahari akan kehilangan seluruh energinya dan Bumi akan membeku permanen. Namun, kenyataannya tidak demikian. "Sekarang jika Matahari kehilangan energi dalam jumlah besar dengan setiap CME dan tidak diisi ulang, bintang di pusat tata surya kita akan kehilangan semua energinya dan Bumi akan terjerumus ke dalam pembekuan yang tidak dapat dipulihkan," jelas Prof. Ramesh. Ia menambahkan bahwa ada mekanisme yang memungkinkan korona mempertahankan suhu tingginya, dan penelitian ini berhasil mengukur kontribusi masing-masing mekanisme.
Selama ini, para ilmuwan menduga dua faktor utama yang memanaskan korona: gelombang yang dihasilkan oleh gejolak permukaan Matahari (mirip ombak laut yang membawa buih ke pantai) dan sambungan ulang medan magnet yang terus-menerus terjadi. Namun, penelitian Prof. Ramesh menunjukkan bahwa kontribusi gelombang hanya sekitar 7 persen, sementara 93 persen lainnya berasal dari proses sambungan ulang medan magnet. "Meskipun gelombang yang dihasilkan oleh gerakan menggelegak di permukaan Matahari menghasilkan dan mengangkut energi, kontribusinya sangat kecil—mereka hanya memasok 7 persen dari kebutuhan energi. Sisanya 93 persen berasal dari konfigurasi ulang Matahari dan pemulihan energi yang hilang," paparnya.
Temuan ini memiliki implikasi luas, terutama bagi negara-negara yang berada di khatulistiwa seperti Indonesia. Cuaca antariksa yang dipicu oleh CME dapat menyebabkan badai geomagnetik yang mengganggu satelit komunikasi, sistem navigasi, dan jaringan listrik. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang mekanisme pemanasan korona, para ilmuwan dapat meningkatkan prediksi aktivitas matahari dan memitigasi dampaknya terhadap infrastruktur teknologi. "Data ini memberikan tolok ukur penting untuk studi masa depan tentang mekanisme pembangkit energi potensial di atmosfer Matahari," kata Prof. Ramesh. "Saya pikir mereka akan membantu menjawab pertanyaan mendasar fisika yang menentang logika."
Bagi Indonesia, yang memiliki ketergantungan tinggi pada satelit untuk telekomunikasi dan observasi cuaca, penelitian ini menjadi pengingat akan pentingnya investasi dalam ilmu antariksa. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah memiliki program pengamatan matahari, dan kolaborasi internasional seperti ini dapat memperkuat kapasitas Indonesia dalam memantau aktivitas matahari. Pertanyaannya, apakah Indonesia akan mengambil peran lebih aktif dalam riset semacam ini untuk melindungi infrastruktur kritisnya dari ancaman badai matahari di masa depan?



