Rekor Hujan Jepang Tewaskan Empat Orang, Ribuan Penumpang Terjebak di Bandara Narita
Baca dalam 60 detik
- Curah hujan tertinggi dalam sejarah melanda Prefektur Chiba, memicu banjir dan tanah longsor yang menewaskan empat orang serta melumpuhkan transportasi.
- Sekitar 27.000 rumah kehilangan aliran listrik dan 7.000 calon penumpang menginap di Bandara Narita akibat akses darat terputus.
- Peristiwa ini menjadi ujian bagi kesiapsiagaan infrastruktur Jepang menghadapi cuaca ekstrem yang semakin sering dipicu perubahan iklim.

Banjir bandang akibat hujan dengan intensitas tertinggi yang pernah tercatat di Jepang melumpuhkan sebagian besar wilayah timur negeri itu, menewaskan sedikitnya empat orang dan menjebak ribuan penumpang di Bandara Internasional Narita, Jumat (14/8).
Prefektur Chiba, yang berbatasan langsung dengan Tokyo, menerima lebih dari 360 milimeter curah hujan dalam 24 jamโangka yang belum pernah terjadi sejak pencatatan dimulai. Air dengan cepat menggenangi jalan raya dan rel kereta, memicu peringatan tanah longsor dan memutus aliran listrik bagi puluhan ribu rumah tangga.
Badan Meteorologi Jepang (JMA) untuk pertama kalinya mengeluarkan peringatan hujan lebat level tertinggi untuk kawasan Chiba. Gubernur Chiba, Toshihito Kumagai, menggambarkan situasi ini sebagai "sangat tidak biasa bahkan menurut standar cuaca historis Jepang". Ia mengaku belum pernah menghadapi bencana seperti ini sepanjang kariernya.
Perusahaan listrik Tokyo Electric Power (TEPCO) melaporkan sekitar 27.000 rumah tangga di Chiba, Ibaraki, dan Tochigi masih gelap gulita hingga Jumat pagi. Personel militer telah dikerahkan untuk membantu evakuasi dan distribusi bantuan, sementara ratusan warga menghabiskan malam di tempat penampungan darurat.
Di Bandara Narita, salah satu gerbang udara utama Jepang, sekitar 7.000 orang terpaksa menginap di terminal karena jalan tol dan rel kereta yang menghubungkan bandara dengan Tokyo ditutup. Juru bicara bandara memastikan seluruh penerbangan Jumat tetap beroperasi normal, meski Japan Airlines mengingatkan adanya potensi penundaan. Staf bandara membagikan air minum, makanan, dan kantong tidur secara gratis kepada para penumpang yang terjebak.
Seorang penumpang yang menginap di bandara mengaku tidak pernah membayangkan akan tidur di lantai terminal. "Kami tidak akan pernah melupakan perjalanan ini," ujarnya kepada NHK. Sementara itu, seorang pemilik usaha di Ichikawa mengaku khawatir tidak bisa membuka tokonya dalam beberapa hari ke depan karena listrik padam.
Bagi Indonesia, bencana ini menjadi pengingat akan kerentanan negara kepulauan terhadap cuaca ekstrem. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah berulang kali memperingatkan bahwa fenomena seperti ini berpotensi meningkat frekuensinya di kawasan Asia Tenggara. Infrastruktur bandara dan transportasi publik di kota-kota besar Indonesia, seperti Jakarta dan Surabaya, juga menghadapi risiko serupa ketika hujan deras melanda.
Para ilmuwan iklim menegaskan bahwa pemanasan global akibat aktivitas manusia membuat peristiwa cuaca ekstrem semakin sering, berkepanjangan, dan intens. Data JMA menunjukkan tren peningkatan curah hujan ekstrem di Jepang dalam beberapa dekade terakhir, sejalan dengan proyeksi model iklim global.
Pemerintah Jepang kini menghadapi pertanyaan mendesak: apakah sistem peringatan dini dan infrastruktur drainase yang ada mampu mengimbangi laju perubahan iklim? Gubernur Kumagai sendiri mengakui bahwa respons terhadap bencana kali ini berjalan di luar prosedur normal, menandakan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap rencana kontingensi.
Ke depan, insiden ini akan menjadi studi kasus penting bagi negara-negara yang bergantung pada bandara sebagai simpul ekonomi, termasuk Indonesia. Apakah otoritas penerbangan dan transportasi di kawasan ini siap menghadapi skenario serupa ketika hujan ekstrem melumpuhkan akses darat?



