Brunei Tegaskan Komitmen Perdagangan di CPTPP: Peluang Baru bagi Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- Brunei kembali menegaskan dukungannya terhadap CPTPP sebagai motor pertumbuhan ekonomi kawasan, dengan fokus pada perluasan akses pasar.
- Indonesia, bersama Uni Emirat Arab dan Filipina, akan memulai diskusi persiapan aksesi ke CPTPP, membuka potensi integrasi ekonomi yang lebih luas.
- Para menteri CPTPP sepakat memperkuat kerja sama fasilitasi perdagangan dan dialog investasi dengan ASEAN dan Uni Eropa untuk merespons dinamika global.

Brunei Darussalam kembali menegaskan komitmennya terhadap perdagangan yang saling menguntungkan dalam kerangka Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP), dengan penekanan pada manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat. Pernyataan ini disampaikan Menteri Koordinator Kebijakan Ekonomi sekaligus Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Brunei, Dato Seri Setia Dr Abdul Manaf Metussin, dalam Pertemuan Komisi CPTPP ke-10 dan Pertemuan Tingkat Menteri yang digelar secara virtual.
Dalam forum tersebut, Brunei menyatakan dukungan berkelanjutan untuk perluasan CPTPP, terutama karena dinilai mampu membuka akses pasar yang lebih luas bagi eksportir dan konsumen. Dato Seri Setia Dr Abdul Manaf juga mencatat proses aksesi Uruguay yang tengah berjalan, serta menyambut dimulainya diskusi persiapan dengan Uni Emirat Arab, Indonesia, dan Filipina. Langkah ini menandai babak baru dalam upaya memperluas jangkauan perjanjian dagang yang mencakup 12 negara di kawasan Asia-Pasifik dan sekitarnya.
Pertemuan yang dipimpin oleh Wakil Menteri Perindustrian dan Perdagangan Vietnam, Nguyen Sinh Nhat Tan, dihadiri oleh para menteri CPTPP serta perwakilan dari Australia, Kanada, Chili, Jepang, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Peru, Singapura, Inggris, dan Vietnam. Dalam kesempatan itu, para menteri menegaskan kembali komitmen kolektif terhadap lingkungan perdagangan global yang terbuka dan adil dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) sebagai porosnya. Mereka juga menyambut penyelesaian aksesi Kosta Rika dan mencatat kemajuan positif proses aksesi Uruguay.
Bagi Indonesia, keterlibatan dalam diskusi persiapan aksesi CPTPP membuka peluang strategis. Sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, aksesi ke CPTPP dapat memperluas akses pasar ke negara-negara maju seperti Jepang, Kanada, dan Inggris, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Namun, tantangan seperti kesiapan industri dalam negeri dan harmonisasi regulasi perlu diantisipasi. Langkah ini sejalan dengan upaya Indonesia untuk meningkatkan daya saing ekspor dan menarik investasi asing langsung.
Para menteri juga sepakat untuk memperdalam kerja sama fasilitasi perdagangan dan menekankan pentingnya memajukan negosiasi peningkatan (upgrade) agar CPTPP tetap responsif terhadap perkembangan global. Salah satu fokus utama adalah memperkuat dialog perdagangan dan investasi dengan ASEAN dan Uni Eropa. Selain itu, secara resmi disahkan Pernyataan Bersama Menteri tentang Ekspansi, Implementasi, dan Kerja Sama, serta Pernyataan Menteri tentang Keamanan Energi dan Rantai Pasok untuk Produk Energi Esensial dan Produk Terdampak Lainnya.
Ke depan, pertanyaan mendasar adalah sejauh mana Indonesia dapat memanfaatkan momentum ini untuk mendorong transformasi ekonomi nasional. Apakah aksesi CPTPP akan menjadi katalis bagi reformasi struktural dan peningkatan daya saing, atau justru menimbulkan tekanan bagi sektor-sektor yang belum siap? Jawabannya akan sangat bergantung pada kesiapan pemerintah dan pelaku usaha dalam merespons dinamika perdagangan global yang semakin terintegrasi.



