Pangeran Mahkota Jepang Buka Suara soal Krisis Suksesi: Dukung Kaisar, Soroti Peran Perempuan
Baca dalam 60 detik
- Pangeran Mahkota Fumihito untuk pertama kalinya menanggapi revisi UU Rumah Tangga Kekaisaran, menyatakan setuju dengan pandangan Kaisar Naruhito.
- Revisi UU yang berlaku 24 Oktober memungkinkan adopsi pria dari keluarga cabang dan mempertahankan status perempuan yang menikah dengan rakyat biasa, tetapi tidak mengubah sistem suksesi khusus laki-laki.
- Dengan hanya tiga pewaris laki-laki, Jepang masih menghadapi tantangan besar dalam menjaga kelangsungan takhta, sementara dukungan publik terhadap Kaisar perempuan terus menguat.

Pangeran Mahkota Jepang, Fumihito, akhirnya angkat bicara mengenai kontroversi penyusutan jumlah anggota keluarga kekaisaran. Dalam konferensi pers di Kediaman Akasaka, Kamis (14/8/2026), ia menyatakan simpati dan persetujuannya terhadap pernyataan Kaisar Naruhito yang dua bulan lalu berharap agar perdebatan soal suksesi mendapat pemahaman publik.
"Saya juga punya banyak hal untuk dipikirkan. Saya percaya (Kaisar) memiliki pandangan yang tepat, dan saya setuju dengannya," ujar Fumihito, seperti dilansir Kyodo. Pernyataan ini menjadi yang pertama sejak pemerintah merevisi Undang-Undang Rumah Tangga Kekaisaran pada bulan lalu, sebuah langkah yang dinilai sebagian kalangan masih setengah hati.
Revisi UU yang diumumkan pada Juli lalu memperbolehkan adopsi anak laki-laki dari keluarga cabang kekaisaran yang dulu kehilangan statusnya, serta mengizinkan anggota perempuan yang menikah dengan rakyat biasa untuk tetap mempertahankan status kekaisaran mereka. Namun, aturan yang akan berlaku efektif pada 24 Oktober ini tetap mempertahankan sistem suksesi yang hanya mengakui pewaris laki-laki. Dengan demikian, isu mendasar mengenai kemungkinan Kaisar perempuan atau pewaris dari garis ibu masih menggantung.
Kaisar Naruhito sendiri selama ini cenderung menghindari komentar langsung, tetapi pada Juni lalu ia menyampaikan harapan agar diskusi tentang cara mempertahankan jumlah anggota keluarga kekaisaran juga mendapat pengertian rakyat. Pernyataan itu muncul di tengah kekhawatiran bahwa hanya ada tiga pewaris laki-laki yang tersisa, yaitu Pangeran Hisahito (putra Fumihito) dan dua paman Kaisar.
Fumihito, yang juga dikenal sebagai Pangeran Akishino, menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam isu ini. "Penting bagi masyarakat untuk terus maju. Bukankah penting bagi banyak orang untuk memikirkan bagaimana seharusnya keadaan ini?" katanya. Ia juga menegaskan bahwa peran anggota keluarga kekaisaran perempuan tidak berbeda dengan laki-laki. "Saya percaya tugas keluarga kekaisaran adalah merespons permintaan masyarakat... Saya tidak berpikir ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki," tambahnya.
Konteks Indonesia: Meski Jepang adalah negara dengan sistem monarki konstitusional yang unik, perdebatan tentang kesetaraan gender dalam suksesi kekaisaran ini relevan dengan diskusi di Indonesia mengenai representasi perempuan dalam kepemimpinan. Di Indonesia, meskipun tidak ada monarki, isu keterwakilan perempuan di ranah publik sering kali menjadi sorotan. Menurut data Badan Pusat Statistik, keterwakilan perempuan di parlemen baru mencapai sekitar 21 persen, masih jauh dari target 30 persen. Perdebatan di Jepang ini bisa menjadi pengingat bahwa kesetaraan gender dalam struktur kekuasaan masih menjadi pekerjaan rumah di banyak negara, termasuk Indonesia.
Menjelang kunjungan resmi ke Paraguay pada 18-26 Agustus untuk memperingati 90 tahun imigrasi Jepang ke negara Amerika Selatan itu, Fumihito dan istrinya, Putri Kiko, tampak ingin menunjukkan bahwa keluarga kekaisaran tetap solid di tengah isu yang memanas. Namun, pertanyaan mendasar tetap menggantung: apakah Jepang akan berani mengubah konstitusi untuk mengakui Kaisar perempuan? Dengan dukungan publik yang kuat, tekanan terhadap pemerintah untuk merevisi sistem suksesi kemungkinan akan terus meningkat. Akankah langkah kompromi berupa adopsi dan status perempuan ini cukup untuk meredam kritik, atau justru memicu tuntutan perubahan yang lebih fundamental?



