BRI Salurkan Rp1 Miliar untuk UMKM Pangan Lokal Lewat Program Desa Brilian
Baca dalam 60 detik
- BRI mengucurkan dana CSR Rp1 miliar ke lima desa pemenang program Desa Brilian untuk mengembangkan olahan pangan lokal.
- Program ini menyasar UMKM pangan agar naik kelas dan berdaya saing, sejalan dengan target pemerintah mendorong ekonomi desa.
- Ke depan, skema pendampingan dan hibah seperti ini diharapkan menjadi model replikasi bagi korporasi lain dalam memberdayakan UMKM.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk menyalurkan dana corporate social responsibility (CSR) sebesar Rp1 miliar kepada lima desa terpilih melalui program Desa Brilian. Dana tersebut difokuskan untuk mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor olahan pangan lokal, sebagai bagian dari strategi perseroan mendorong UMKM naik kelas.
Program yang berjalan sepanjang 2023 ini tidak hanya memberikan bantuan finansial, tetapi juga pendampingan dan pelatihan intensif bagi pelaku UMKM. Menurut manajemen BRI, pendekatan holistik diperlukan agar UMKM tidak sekadar mendapat modal, tetapi juga mampu meningkatkan kualitas produk, efisiensi produksi, serta akses pasar. "Kami ingin UMKM tumbuh berkelanjutan dan mampu bersaing, bukan hanya di pasar lokal tetapi juga nasional," ujar salah satu pejabat BRI dalam keterangan resmi.
Lima desa yang terpilih merupakan pemenang dari seleksi ketat berdasarkan potensi pangan lokal dan kesiapan SDM. Masing-masing desa menerima dana hibah yang dialokasikan untuk pembangunan fasilitas produksi, pengemasan, dan pemasaran digital. BRI juga menggandeng mitra lokal dan akademisi untuk memberikan pelatihan teknis, seperti teknik pengolahan yang higienis, manajemen keuangan sederhana, dan strategi branding.
Bagi Indonesia, pemberdayaan UMKM pangan lokal memiliki dampak strategis. Sektor ini menyerap jutaan tenaga kerja dan menjadi tulang punggung ekonomi perdesaan. Namun, banyak UMKM masih terkendala akses permodalan, teknologi, dan pasar. Program seperti Desa Brilian diharapkan menjadi katalis yang memutus rantai kemiskinan dan menciptakan lapangan kerja baru. Apalagi, tren konsumen yang semakin menyukai produk lokal dan alami membuka peluang besar bagi UMKM pangan.
Ke depan, BRI berencana memperluas jangkauan program ke lebih banyak desa, dengan skema pendanaan yang lebih fleksibel. Pertanyaan yang muncul adalah apakah model pendampingan ini bisa direplikasi oleh bank BUMN lain atau bahkan swasta? Jika berhasil, bukan tidak mungkin ekosistem UMKM pangan lokal Indonesia akan semakin kokoh dan mampu bersaing di pasar global.



