Naira Terus Tertekan: Investor Asing Kabur dari Pasar Saham Nigeria
Baca dalam 60 detik
- Naira melemah 0,2% terhadap dolar AS di pasar resmi Nigeria akibat aksi jual besar-besaran investor asing.
- Tekanan pada naira diperparah oleh sikap hawkish The Fed dan kekhawatiran inflasi menjelang pemilu 2027.
- Partisipasi investor asing di bursa Nigeria turun 25,9% pada Mei 2026, sementara investor domestik mendominasi 90,5% transaksi.

Naira Nigeria kembali terdepresiasi terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Senin (22/6/2026), menyusul gelombang aksi jual saham oleh investor asing yang kian intensif. Nilai tukar resmi di Nigerian Foreign Exchange Market (NFEM) melemah 0,20% ke level N1.383,63 per dolar, dari posisi penutupan pekan lalu di N1.380,93.
Data harian Bank Sentral Nigeria (CBN) menunjukkan transaksi di jendela NFEM terjadi dalam rentang N1.377,50 hingga N1.390 per dolar, mencerminkan kelangkaan valuta asing yang memicu tekanan likuiditas. Meski volume transaksi antar bank melonjak lebih dari 80% menjadi 223,9 juta dolar, peningkatan tersebut justru mengindikasikan bahwa bank membukukan pembayaran internasional klien yang lebih besar, bukan tambahan pasokan valas baru.
Analis menilai tanpa intervensi langsung dari CBN, tekanan terhadap naira akan berlanjut seiring minimnya aliran dolar masuk ke pasar resmi. Sikap hawkish bank sentral AS (The Fed) mulai diperhitungkan investor asing, membuat aset berbasis naira semakin tidak kompetitif tanpa pengetatan kebijakan lebih lanjut. Faktor lain yang membebani adalah aksi flight to safety menjelang tahun politik 2027, yang menguras valas dari pasar domestik.
Pasar saham Nigeria sendiri terus berdarah akibat sentimen negatif investor di tengah inflasi yang dipercepat oleh belanja menjelang pemilu 2027. Ekonom dan analis Broadstreet yang dikutip MarketForces Africa memperkirakan suku bunga dan inflasi tinggi akan bertahan dalam waktu dekat. Investor asing juga mulai mempertimbangkan risiko mempertahankan dana panas (hot money) di pasar lokal.
Laporan terbaru Nigerian Exchange (NGX) menunjukkan aktivitas investasi portofolio asing (FPI) melemah pada Mei 2026, turun 25,9% secara bulanan menjadi 183,6 miliar naira (133,7 juta dolar AS) dari 247,8 miliar naira (180,2 juta dolar AS) pada April. Ini merupakan penurunan bulan kedua berturut-turut. CSL Stockbrokers Limited mencatat transaksi FPI hanya menyumbang 9,5% dari total omzet pasar, turun dari 13,7% pada bulan sebelumnya.
Meski aktivitas asing melambat, total omzet pasar justru naik menjadi 1,9 triliun naira (1,4 miliar dolar AS) pada Mei, didorong oleh partisipasi domestik yang meningkat 13,2% menjadi 1,8 triliun naira (1,3 miliar dolar AS). Investor domestik kini menguasai 90,5% aktivitas pasar, naik dari 86,3% pada April. Pasar saham Nigeria tetap tangguh berkat laba korporasi yang solid, reformasi kebijakan, dan perkembangan positif seperti rencana reklasifikasi saham Nigeria ke dalam FTSE Russell Frontier Market Index pada September 2026 serta potensi pencatatan saham Dangote Refinery di NGX.
Bagi Indonesia, fenomena serupa bisa menjadi pelajaran penting. Ketergantungan pada investor asing di pasar keuangan domestik membuat nilai tukar rentan terhadap perubahan sentimen global. Langkah Nigeria yang memperkuat partisipasi investor lokal patut dicermati, meski tekanan inflasi dan politik tetap menjadi tantangan utama. Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: mampukah otoritas Nigeria menahan pelemahan naira tanpa mengorbankan stabilitas pasar modal?



