Harga Minyak Melesat: Serangan Balik AS-Iran Ancam Pasokan Global
Baca dalam 60 detik
- Brent dan WTI naik sekitar 1% setelah militer AS melancarkan serangan baru ke target Iran di dekat Selat Hormuz, menyusul serangan pesawat nirawak Iran ke kapal tanker minyak.
- Ketegangan ini mengaburkan prospek gencatan senjata yang sempat disepakati kedua negara, dengan Iran disebut menolak mematuhi kesepakatan awal.
- Di sisi lain, serangan Ukraina terhadap kilang Rusia yang melumpuhkan 30% kapasitas pengolahan serta sinyal kenaikan suku bunga The Fed ikut menekan dinamika pasar.

Harga minyak mentah dunia melonjak pada awal pekan ini setelah militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan ke sejumlah titik di Iran, memicu kekhawatiran baru akan terganggunya pasokan dari jalur strategis Selat Hormuz. Brent tercatat di level 73,22 dolar AS per barel, naik 0,8 persen, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat sekitar satu persen menjadi 69,96 dolar AS.
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa gelombang serangan terbaru merupakan respons atas aksi Iran yang menembakkan pesawat nirawak ke kapal tanker berbendera Panama, M/T Kiku, saat melintas di dekat Selat Hormuz. Kapal tersebut diketahui membawa lebih dari dua juta barel minyak mentah. Serangan udara AS disebut terjadi setelah Iran diberi kesempatan untuk mematuhi gencatan senjata yang disepakati sehari sebelumnya, namun menurut CENTCOM, Tehran justru memilih untuk melanjutkan agresi.
Ketegangan di kawasan Teluk ini menjadi ujian bagi kesepakatan damai yang sempat dilaporkan oleh Axios, di mana AS dan Iran disebut setuju untuk menghentikan saling serang dan akan bertemu di Qatar pada 30 Juni untuk membahas sengketa Selat Hormuz. Namun, serangan terbaru menunjukkan bahwa gencatan senjata tersebut rapuh. Anggota Kongres dari Partai Demokrat, Ro Khanna, bahkan mengecam tindakan Presiden Donald Trump dan mengancam akan membawa pemerintahannya ke pengadilan jika perang tidak dihentikan.
Konflik Rusia-Ukraina turut memperkeruh prospek pasokan energi global. Presiden Rusia Vladimir Putin pada Minggu mengumumkan bahwa negaranya mulai menggunakan cadangan bahan bakar dan tengah mempertimbangkan larangan ekspor solar. Sebelumnya, Moskow telah memberlakukan larangan sementara ekspor bensin dan avtur untuk menjaga stabilitas harga di dalam negeri. Langkah ini diambil setelah Ukraina mengklaim berhasil menyerang 16 kilang utama Rusia dan melumpuhkan lebih dari 30 persen kapasitas pengolahan minyak negeri Beruang Merah.
Di tengah ketidakpastian geopolitik, pernyataan Putin yang menyebut negosiasi masih berlangsung dan kedua belah pihak bisa menghentikan serangan jarak jauh sempat meredam kenaikan harga. Namun, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Presiden Federal Reserve Minneapolis, Neel Kashkari, mengubah proyeksinya dari satu kali pemangkasan suku bunga pada Maret menjadi satu kali kenaikan pada Juni, yang berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menekan permintaan energi.
Bagi Indonesia, fluktuasi harga minyak dunia berdampak langsung pada beban subsidi energi dan anggaran negara. Kenaikan harga acuan minyak mentah Indonesia (ICP) dapat memperlebar defisit subsidi BBM dan LPG, sementara risiko gangguan pasokan dari Selat Hormuz mengingatkan kembali pentingnya diversifikasi sumber impor minyak. Pemerintah perlu mencermati dinamika ini dalam menyusun kebijakan energi nasional ke depan.
Ke depan, pasar masih akan mencermati apakah pertemuan AS-Iran di Qatar benar-benar membuahkan kesepakatan yang langgeng, atau justru eskalasi baru akan kembali terjadi. Di saat yang sama, ketahanan infrastruktur energi Rusia terhadap serangan Ukraina serta sikap The Fed terhadap inflasi akan menjadi variabel penentu arah harga minyak dalam beberapa pekan mendatang.



