Topan Mekkhala Mendekati Jepang, Satu Orang Hilang Akibat Longsor
Baca dalam 60 detik
- Topan Mekkhala bergerak ke timur laut menuju wilayah Tokai dan Kanto, membawa hujan deras dan angin kencang yang memecahkan rekor.
- Seorang pria berusia 70-an dilaporkan hilang setelah longsor di Yamaguchi, sementara delapan orang terluka di empat prefektur.
- Sekitar 70.000 rumah tangga di Chiba dan Kanagawa menerima imbauan evakuasi, dengan perkiraan curah hujan hingga 250 mm di Tokai.

Topan Mekkhala, yang bergerak di perairan selatan Shikoku pada Sabtu pagi (27/6), diprediksi akan mendekati wilayah Tokai dan Kanto hingga malam hari. Badai ini telah memicu hujan lebat dan angin kencang yang memecahkan rekor di sejumlah daerah, serta menyebabkan satu orang hilang akibat tanah longsor di Prefektur Yamaguchi.
Berdasarkan data Badan Meteorologi Jepang (JMA), pada pukul 09.00 waktu setempat, Mekkhala berada sekitar 220 kilometer di selatan-barat daya Tanjung Muroto, Prefektur Kochi, dengan tekanan atmosfer 992 hektopaskal dan kecepatan angin maksimum 20 meter per detik. Topan ini bergerak ke timur laut dengan kecepatan 45 km/jam dan diperkirakan akan mencapai Kanto pada Sabtu malam, sebelum menjauh ke perairan timur Semenanjung Boso pada Minggu pagi.
Hujan deras telah mengguyur Prefektur Chiba sejak pagi, dengan curah hujan per jam mencapai 55,5 milimeter di Kimitsu dan 42 milimeter di Ichiharaโrekor tertinggi untuk bulan Juni. Angin kencang juga tercatat, dengan kecepatan maksimum sementara 29,3 meter per detik di Oshima, Tokyo, dan 29,1 meter per detik di Katsuura, Chiba.
Topan ini juga meninggalkan jejak kerusakan di berbagai wilayah. Menurut data Yomiuri Shimbun hingga pukul 09.00 Sabtu, longsor di Hirao, Yamaguchi, menyebabkan seorang pria berusia 70-an hilang. Delapan orang lainnya dilaporkan terluka di Nara, Yamaguchi, Kumamoto, dan Kagoshima. Kerusakan rumah terjadi di lima prefektur, termasuk Osaka dan Kyoto, dengan delapan rumah rusak. Sekitar 400 rumah, terutama di Jepang barat, mengalami banjir di atas atau di bawah lantai.
Imbauan evakuasi telah dikeluarkan untuk 70.000 rumah tangga di Prefektur Chiba dan Kanagawa. JMA memperkirakan curah hujan hingga 250 milimeter di wilayah Tokai dalam 24 jam hingga Minggu pagi, diikuti 200 milimeter di Kanto-Koshin dan 150 milimeter di Kinki. Badan tersebut mengimbau warga untuk waspada terhadap tanah longsor.
Dampak pada transportasi relatif terbatas. Kereta peluru Tokaido dan Tohoku Shinkansen beroperasi sesuai jadwal, meskipun beberapa jalur konvensional di wilayah metropolitan Tokyo, seperti Jalur Tokaido, sempat menangguhkan layanan sejak kereta pertama. Sementara itu, All Nippon Airways membatalkan enam penerbangan yang menghubungkan Pulau Hachijojima.
Bagi Indonesia, meskipun tidak terdampak langsung, fenomena ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi, terutama di musim hujan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah memperingatkan potensi cuaca ekstrem di beberapa wilayah Indonesia. Dengan perubahan iklim global, intensitas siklon tropis diperkirakan meningkat, sehingga mitigasi bencana perlu terus diperkuat.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah Jepang, yang memiliki sistem peringatan dini dan infrastruktur tangguh, mampu meminimalkan korban jiwa dan kerugian material akibat badai yang semakin sering terjadi. Sementara itu, warga di wilayah terdampak diimbau untuk tetap waspada dan mengikuti arahan otoritas setempat.



