Turis Anjlok 48%, Pariwisata Kamboja Terpuruk Meski Bandara Baru Beroperasi
Baca dalam 60 detik
- Kamboja mencatat 1,54 juta wisatawan asing pada Januari-Mei 2026, turun hampir setengah dari periode sama tahun sebelumnya.
- Konflik perbatasan dengan Thailand dan isu pusat penipuan menjadi faktor utama penurunan drastis, terutama dari Thailand yang anjlok 96%.
- Investasi bandara baru senilai miliaran dolar belum mampu menyelamatkan sektor pariwisata yang menyumbang 10% PDB Kamboja.

Industri pariwisata Kamboja, yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian, justru mengalami kontraksi tajam di tengah megahnya dua bandara internasional baru yang baru beroperasi. Data resmi Kementerian Pariwisata menunjukkan jumlah wisatawan asing yang masuk ke negara itu pada lima bulan pertama 2026 hanya mencapai 1,54 juta orang, merosot 48 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 2,95 juta kunjungan.
Penurunan ini tidak merata di semua negara asal. Wisatawan dari Eropa dan Amerika Serikat relatif stabil, bahkan sedikit meningkat. Namun, kedatangan dari China dan Vietnam masing-masing turun 19 persen dan 25 persen. Yang paling dramatis adalah anjloknya wisatawan Thailand hingga 96 persen, seiring memburuknya hubungan bilateral kedua negara.
Konflik bersenjata di sepanjang perbatasan Thailand-Kamboja tahun lalu menjadi pemicu utama. Sebagian besar jalur perbatasan ditutup, dan sekitar satu juta warga terpaksa mengungsi sementara. Tak hanya itu, Thailand juga memberlakukan pembatasan perjalanan dengan alasan Kamboja dinilai gagal memberantas pusat penipuan daring yang marak di wilayahnya. Banyak laporan tentang migran yang ditahan paksa dan dipekerjakan di pusat-pusat tersebut, merusak citra Kamboja sebagai destinasi wisata yang aman.
Bagi Indonesia, kondisi ini menjadi pengingat bahwa ketergantungan berlebihan pada satu sektor dan kerentanan geopolitik bisa berdampak sistemik. Kamboja telah menginvestasikan miliaran dolar untuk membangun bandara baru di Siem Reap (dekat Angkor Wat) dan Phnom Penh, yang dirancang untuk menarik penerbangan langsung jarak jauh tanpa transit di Bangkok atau Singapura. Namun, infrastruktur saja tidak cukup jika stabilitas politik dan keamanan terganggu.
Angkor Wat, kompleks candi seluas 160 hektar yang menjadi ikon utama, tetap menjadi daya tarik utama. Namun, jumlah pengunjung yang menurun drastis mengindikasikan bahwa faktor non-pariwisata seperti konflik dan isu keamanan lebih dominan dalam menentukan keputusan wisatawan. Para analis memperkirakan pemulihan sektor ini akan bergantung pada normalisasi hubungan dengan Thailand dan upaya serius memberantas praktik penipuan yang merusak reputasi.
Ke depan, Kamboja harus segera memperbaiki citra dan membangun kembali kepercayaan pasar. Pertanyaan besarnya adalah: mampukan pemerintah Phnom Penh mengatasi akar masalah sebelum musim puncak kunjungan berikutnya tiba?



