SpaceX Masuk Indeks Russell: Saham Melonjak, Valuasi Rp32.000 Triliun Mengundang Kontroversi
Baca dalam 60 detik
- Saham SpaceX ditutup naik tipis 0,15% pada Jumat (25/6) menjelang masuknya perusahaan ke dalam indeks Russell, memicu pembelian miliaran dolar oleh dana pasif.
- Valuasi SpaceX mencapai US$2 triliun, setara Amazon, meski perusahaan masih merugi US$4,9 miliar tahun lalu dan hanya 5% sahamnya yang diperdagangkan di bursa.
- Masuknya SpaceX ke Nasdaq 100 pada 7 Juli mendatang akan memaksa dana indeks besar seperti Invesco QQQ ETF untuk menambah kepemilikan sahamnya.

Saham SpaceX ditutup menguat tipis 0,15% pada Jumat (25/6) di tengah persiapan perusahaan antariksa milik Elon Musk untuk masuk ke dalam indeks Russell, sebuah langkah yang memaksa dana kelolaan pasif bernilai miliaran dolar AS untuk membeli sahamnya. Peristiwa ini menjadi ujian bagi valuasi spektakuler SpaceX yang mencapai US$2 triliun—hampir setara Amazon—meskipun fundamental keuangan perusahaan masih menunjukkan kerugian besar.
Volume perdagangan saham SpaceX mencapai US$19 miliar pada hari tersebut, dengan hampir separuh transaksi terjadi di menit-menit akhir sesi. Sejak melakukan penawaran umum perdana (IPO) bulan ini, saham SpaceX telah mengalami volatilitas ekstrem: melonjak 67% ke level tertinggi intraday US$225,64 pada 16 Juni, lalu ambles ke posisi penutupan US$153,23 pada Jumat lalu. Meski demikian, harga saat ini masih jauh di atas harga IPO US$135.
FTSE Russell, penyedia indeks, akan memasukkan SpaceX ke dalam indeks Russell AS setelah penutupan perdagangan Jumat sebagai bagian dari rekonstitusi indeks setengah tahunan. Konsekuensinya, dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) yang melacak indeks Russell, seperti iShares Russell 1000 ETF, harus menyesuaikan portofolio mereka sebelum sesi Senin. Menurut Melissa Roberts, analis kuantitatif di Stephens, dana pasif perlu membeli saham SpaceX senilai lebih dari US$4 miliar untuk mencocokkan bobot indeks yang mereka ikuti.
Fenomena ini menyoroti ketimpangan antara kapitalisasi pasar raksasa dan jumlah saham yang beredar. Dari total valuasi US$2 triliun, hanya sekitar US$100 miliar saham SpaceX yang tercatat di bursa; sisanya dimiliki oleh Elon Musk, orang dalam, dan karyawan. Kondisi ini membuat pergerakan harga saham rentan terhadap tekanan beli atau jual yang tidak proporsional.
SpaceX juga akan masuk ke indeks Nasdaq 100 pada 7 Juli, sebagaimana dikonfirmasi oleh operator bursa Nasdaq. Langkah ini akan memaksa dana besar seperti Invesco QQQ ETF untuk menambah kepemilikan saham SpaceX. Namun, S&P Global menolak memasukkan SpaceX ke dalam S&P 500 dengan alasan perusahaan belum memenuhi syarat profitabilitas: aturan indeks tersebut mensyaratkan laba positif pada kuartal terakhir dan akumulasi empat kuartal terakhir.
Dengan valuasi yang mencapai 107 kali penjualan proyeksi 2025—jauh di atas rasio Nvidia yang hanya 21 kali—SpaceX dinilai sangat mahal oleh sebagian analis. Namun, investor optimistis perusahaan akan mendominasi pasar internet satelit, kecerdasan buatan, dan peluncuran antariksa komersial yang dipercaya akan menjadi tulang punggung infrastruktur global dekade mendatang.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat potensi ekspansi layanan Starlink—anak usaha SpaceX—yang telah menjajaki kerja sama dengan pemerintah untuk menyediakan akses internet di daerah terpencil. Jika valuasi SpaceX terus meroket, dampaknya bisa dirasakan pada biaya investasi dan ketersediaan layanan di pasar berkembang seperti Indonesia.
Ke depan, pertanyaan kunci adalah apakah SpaceX mampu membuktikan profitabilitas dalam waktu dekat untuk memenuhi syarat masuk S&P 500, ataukah investor akan terus memaklumi kerugian demi prospek dominasi pasar masa depan? Jawabannya akan menentukan apakah reli saham ini berkelanjutan atau sekadar gelembung spekulatif.



