Meta Rambah Pasar Prediksi: Zuckerberg Incar Kemitraan dengan Polymarket dan Kalshi
Baca dalam 60 detik
- CEO Meta mendorong eksplorasi kerja sama dengan platform prediksi populer Polymarket dan Kalshi untuk aplikasi serupa bernama Arena.
- Arena akan menggunakan sistem poin ala video game, bukan uang sungguhan, menyasar pengguna usia 18โ34 tahun dengan target 100 juta pengguna aktif bulanan.
- Langkah ini berpotensi mempengaruhi regulasi platform prediksi di Indonesia, mengingat maraknya judi online dan pengawasan ketat OJK.

Mark Zuckerberg secara langsung memerintahkan tim eksekutif Meta untuk menjajaki kerja sama dengan Polymarket dan Kalshi, dua platform prediksi terkemuka yang tengah naik daun. Langkah ini diambil di tengah pengembangan aplikasi prediksi internal Meta yang diberi nama Arena, demikian dilaporkan New York Times mengutip tiga karyawan yang mengetahui rencana tersebut.
Keputusan Zuckerberg menunjukkan ambisi Meta untuk masuk ke pasar prediksi yang kian populer, terutama setelah gelombang taruhan politik pada Pemilu AS 2024. Polymarket dan Kalshi memungkinkan pengguna memasang taruhan uang sungguhan pada berbagai peristiwa, mulai dari kebijakan moneter hingga turnamen olahraga. Namun, Meta memilih pendekatan berbeda: Arena akan menggunakan sistem poin layaknya permainan video, bukan uang asli, untuk menghindari risiko regulasi perjudian.
Menurut laporan, target demografis Arena adalah kelompok usia 18 hingga 34 tahun, dengan ambisi mencapai 100 juta pengguna aktif bulanan. Aplikasi ini saat ini masih dalam tahap uji coba internal dan belum dipastikan akan dirilis. Meta berencana mengintegrasikan sebagian fitur Arena ke dalam Facebook dan Messenger jika peluncuran resmi terjadi.
Fenomena platform prediksi telah menarik perhatian regulator di berbagai negara. Di AS, perdagangan yang tepat waktu menjelang pengumuman kebijakan mengejutkan Presiden Donald Trump diduga menghasilkan keuntungan jutaan dolar bagi sejumlah pedagang anonim, memicu kekhawatiran akan manipulasi pasar. Sementara itu, di Indonesia, platform serupa berpotensi menghadapi hambatan hukum karena praktik taruhan uang sungguhan dapat dikategorikan sebagai judi online yang dilarang.
Konteks Indonesia menjadi relevan mengingat maraknya platform judi online ilegal yang meresahkan masyarakat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kementerian Komunikasi dan Informatika terus memperketat pengawasan terhadap transaksi keuangan mencurigakan dan situs perjudian. Jika Meta meluncurkan Arena dengan sistem poin, model ini bisa menjadi celah hukum yang menarik perhatian regulator Tanah Air. Namun, integrasi dengan Facebook dan Messenger โ yang memiliki basis pengguna besar di Indonesia โ berpotensi memperluas adopsi aplikasi prediksi di kalangan anak muda.
Menurut analis teknologi, langkah Meta mencerminkan upaya diversifikasi pendapatan di luar iklan digital. Pasar prediksi menawarkan sumber pendapatan baru melalui biaya transaksi atau monetisasi data pengguna. Namun, tantangan regulasi dan reputasi tetap menjadi penghalang utama. Pertanyaan besarnya: akankah Arena benar-benar dirilis, atau hanya sekadar eksperimen internal yang kandas di tengah jalan?



