Fenomena Squishy dan Nostalgia: Pasar Tradisional Seoul Bangkit Berkat Generasi Muda
Baca dalam 60 detik
- Pasar mainan dan loak di Seoul dibanjiri pengunjung usia 20-30 tahun yang berburu squishy dan barang retro murah.
- Fenomena ini didorong oleh pencarian 'mikro-kesenangan'—hiburan terjangkau yang memberikan kepuasan instan di tengah tekanan ekonomi.
- Para pedagang mencatat lonjakan penjualan hingga tiga kali lipat, namun keberlanjutan tren bergantung pada kemampuan pasar bertransformasi menjadi destinasi wisata.

Antrean panjang di depan toko grosir mainan di Dongdaemun Stationery and Toy Street, Seoul, pada akhir pekan lalu bukan untuk kopi kekinian, melainkan untuk berburu squishy—mainan lunak yang bisa diremas dan perlahan kembali ke bentuk semula. Pemandangan itu menjadi bukti bahwa pasar tradisional di ibu kota Korea Selatan kini menjelma menjadi surga baru bagi generasi milenial dan Gen Z yang haus hiburan murah dan nostalgia.
Di kawasan Dongdaemun, pengunjung dewasa berusia 20-30 tahun memadati lorong-lorong sempit, membandingkan tekstur squishy berbentuk donat, pangsit, kapibara, hingga karakter kartun. Tak jauh dari sana, Pasar Loak Dongmyo juga kebanjiran pembeli muda yang asyik menyusuri tumpukan pakaian bekas, kamera vintage, dan pernak-pernik retro. Dua kawasan ini mungkin tampak mengusung tren berbeda, tetapi sama-sama menuai berkah dari pergeseran perilaku konsumen: mencari pengalaman murah yang memberi kepuasan emosional cepat.
Fenomena ini tidak lepas dari menjamurnya istilah mallang-i di media sosial—mainan remas lembut yang dijual dengan harga 2.000 hingga 3.000 won (sekitar Rp23.000-Rp35.000). “Saya kaget melihat begitu banyak orang berburu mallang-i,” ujar Kim Na-yeon, mahasiswi berusia 24 tahun. “Bentuk dan teksturnya beragam, dan yang paling penting, harganya murah dibanding kesenangan yang saya dapatkan.” Koh Hyo-kyung, pekerja kantoran 30 tahun, mengaku membeli beberapa squishy setelah melihat unggahan di media sosial. “Membantu meredakan stres. Di kantor, saya sering meremasnya. Cara murah untuk melepas penat,” katanya.
Para pedagang lama mengaku tak menyangka perubahan secepat ini. Lee (70), pemilik toko mainan yang berjualan puluhan tahun di distrik tersebut, menuturkan bahwa setahun lalu hampir tidak ada perempuan muda di area itu. “Lalu orang-orang mulai memposting tempat ini di media sosial, dan sekarang pelanggan dewasa meningkat lebih dari tiga kali lipat,” katanya. Ia menambahkan, squishy dan bola lilin—mainan dengan lapisan lilin yang bisa dipecahkan—sering ludes begitu dipajang. “Penjualan naik signifikan. Toko tetangga pun ikut berganti dagangan,” ujarnya.
Psikolog melihat fenomena ini sebagai respons terhadap tekanan hidup modern. Choi Young-eun, profesor psikologi di Universitas Chung-Ang, menjelaskan bahwa mainan fidget memberikan umpan balik sensorik instan yang mengalihkan pikiran dari stres. “Saat seseorang meremas squishy atau memecahkan bola lilin, mereka mendapat respons taktil langsung. Itu bisa mengalihkan perhatian dari pikiran negatif dan menciptakan rasa lega,” paparnya. Sementara itu, Lee Hong-joo, profesor ekonomi konsumen di Universitas Sookmyung, menyebut tren ini sebagai bagian dari “mikro-kesenangan”—pengalaman kecil dan murah yang memberi rasa imbalan tanpa komitmen finansial besar. “Squishy hanya beberapa ribu won, tetapi proses memilih, menyentuh, dan membagikannya di media sosial menciptakan nilai di luar produk itu sendiri,” katanya.
Di Indonesia, fenomena serupa mulai terlihat dengan maraknya mainan pop it dan fidget spinner beberapa tahun lalu. Namun, kebangkitan pasar tradisional ala Seoul belum tampak di Tanah Air. Pasar loak seperti Pasar Senen atau Pasar Baru di Jakarta masih didominasi pemburu barang antik, bukan generasi muda yang mencari hiburan instan. Meski demikian, tren global ini bisa menjadi pelajaran bagi pengelola pasar tradisional Indonesia untuk beradaptasi dengan selera anak muda, misalnya dengan menyediakan zona mainan retro atau menggelar acara tematik yang bisa viral di media sosial.
Pertanyaan besarnya, apakah momentum ini hanya sekadar demam sesaat? Para pedagang di Seoul berharap pengunjung tidak hanya datang untuk membeli mainan viral, tetapi juga menjadikan kawasan itu sebagai destinasi yang layak dikunjungi kembali. Jika pasar tradisional mampu bertransformasi menjadi ruang nostalgia dan komunitas yang autentik, bukan tidak mungkin tren ini akan bertahan lama—dan menjadi cetak biru bagi pasar-pasar lain di Asia.



