Menggantikan Guardiola: Maresca Buka Suara soal Tekanan dan Masa Depan Manchester City
Baca dalam 60 detik
- Enzo Maresca mengaku tak terbebani perbandingan dengan Pep Guardiola meski mengambil alih tim yang telah memenangi 17 trofi besar.
- Pelatih asal Italia itu menyoroti perubahan taktik di Premier League, terutama meningkatnya gol dari situasi bola mati, yang menjadi fokus perbaikan City.
- Masa depan Rodri dan pemilihan kapten baru menjadi dua keputusan krusial yang harus segera diambil Maresca menjelang Community Shield.

Enzo Maresca mengakui bahwa menggantikan Pep Guardiola di Manchester City adalah sebuah kehormatan sekaligus tantangan terbesar dalam karier kepelatihannya. Dalam wawancara perdananya dengan media Inggris di Seoul, ia menegaskan bahwa tekanan untuk menyamai pencapaian pendahulunya tidak akan memengaruhinya, meski ia sadar setiap hasil akan dibandingkan dengan era Guardiola.
Maresca, yang pernah menjadi asisten Guardiola saat City meraih treble pada musim 2022-23, resmi ditunjuk sebagai manajer baru pada akhir Juni lalu. Ia menggantikan pelatih asal Spanyol yang memutuskan mundur setelah mengoleksi 17 trofi besar, termasuk enam gelar Premier League dan satu Liga Champions. Sebelum menandatangani kontrak, Maresca sempat bertemu Guardiola di Barcelona untuk berdiskusi selama beberapa jam, sebuah pertemuan yang ia nilai sangat berguna untuk memahami filosofi yang telah tertanam di klub.
"Setelah 10 pertandingan, entah kami dapat 10, 20, atau 30 poin, orang akan membandingkannya dengan Pep. Itu tidak memberi tekanan pada saya," ujar Maresca. "Dia adalah manajer terbaik di dunia selama 15 atau 20 tahun terakhir. Mengikutinya mungkin pekerjaan yang mustahil, tapi pada saat yang sama itu adalah hak istimewa."
Maresca juga mengungkapkan bahwa ia telah mempelajari kecerdasan buatan (AI) melalui dua kelas master selama jeda enam bulan setelah meninggalkan Chelsea. Ia ingin memahami teknologi yang kini mulai digunakan banyak pelatih untuk mencari keunggulan marginal. Namun, ia sadar bahwa kesuksesan di City tidak hanya bergantung pada AI, melainkan pada kemampuan beradaptasi dengan perubahan lanskap Premier League.
Salah satu perubahan terbesar yang ia soroti adalah meningkatnya gol dari situasi bola mati. Musim lalu, Arsenal mencetak 25 gol dari set-piece, termasuk 19 dari tendangan sudut, yang menjadi catatan penting bagi City. "Kami harus mencoba meningkatkan aspek ini," kata Maresca. Meski aturan baru tentang batas waktu tendangan gawang dan lemparan ke dalam akan diberlakukan untuk mempercepat permainan, ia tetap meyakini Premier League adalah liga terbaik dengan pemain dan manajer terbaik.
Selain taktik, Maresca juga harus segera memutuskan siapa kapten baru setelah kepergian Bernardo Silva. Saat ini, Ruben Dias, Erling Haaland, dan Rodri menjadi kandidat utama. Maresca mengaku ingin pemain lokal masuk dalam komite kepemimpinan, dan ia bercanda tentang kemungkinan Haaland menjadi kapten. "Jika Erling menjadi kapten, kami punya masalah. Bayangkan, setiap kali dia mencetak gol, dia akan merayakannya dan tidak datang ke bangku cadangan untuk instruksi," candanya. Ia juga menegaskan bahwa masa depan Rodri akan menjadi keputusan penting, mengingat Barcelona sempat mengajukan tawaran.
Maresca juga menyinggung staf pelatihnya yang multibahasa, termasuk asisten Danny Walker yang telah bekerja sama sejak di akademi City. "Kami sarapan dengan beans on toast, makan malam dengan bir. Dia tahu semua pemain muda seperti Nico O'Reilly dan Rico Lewis sejak mereka berusia enam tahun," tuturnya. Ia menekankan bahwa standar di City sangat tinggi: "Jika kami tidak memenangi pertandingan, kami semua akan pulang."
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, langkah Maresca ini menarik untuk disimak karena menunjukkan bagaimana klub besar Eropa beradaptasi dengan perubahan pelatih. Kehadiran pelatih Italia yang pernah menangani Leicester dan Chelsea ini juga menjadi sorotan, mengingat banyak pemain Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang kini merambah liga Eropa. Pertanyaan besarnya: dapatkah Maresca mempertahankan dominasi City di tengah persaingan ketat dari Arsenal, Liverpool, dan klub-klub lain yang semakin kuat?



