Bali Ganti MRT dengan Trem Listrik Rp2,2 Triliun untuk Atasi Macet
Baca dalam 60 detik
- Pemprov Bali resmi mengalihkan proyek transportasi massal dari MRT ke sistem trem listrik ART senilai Rp2,2 triliun, dengan rute perdana bandaraโCanggu.
- Keputusan ini diambil setelah proyek MRT senilai Rp20 miliar yang groundbreaking 2024 gagal menarik investor, menandai perombakan strategi infrastruktur.
- Trem ART dinilai lebih murah dan mudah dibangun karena memanfaatkan jalan existing, namun ahli mengingatkan risiko tambah macet jika tidak dikaji matang.

Pemerintah Provinsi Bali memutuskan untuk meninggalkan rencana pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) dan beralih ke sistem trem listrik otonom atau Autonomous Rail Rapid Transit (ART) dengan nilai investasi mencapai Rp2,2 triliun. Langkah ini diambil sebagai upaya baru mengurai kemacetan kronis di kawasan wisata, dengan rute perdana yang menghubungkan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai menuju Canggu, salah satu destinasi favorit wisatawan mancanegara.
Gubernur Bali, I Wayan Koster, mengungkapkan bahwa proyek ART ini akan menggantikan MRT yang sebelumnya telah melakukan groundbreaking pada 2024. Proyek MRT senilai Rp20 miliar itu mandek karena gagal menarik minat investor yang cukup. Menurut Koster, ART dipilih karena secara teknologi lebih efisien dan mudah diimplementasikan, terutama karena sistemnya dirancang menyatu dengan jaringan jalan yang sudah ada, tanpa perlu melakukan pengeboran bawah tanah ekstensif seperti yang dibutuhkan MRT.
Pembangunan trem listrik ini direncanakan dimulai tahun depan, menunggu terbitnya peraturan gubernur. Pendanaan proyek akan melibatkan PT Kereta Api Indonesia (KAI), dengan estimasi biaya fase pertama sebesar Rp1,2 triliun dan fase kedua Rp1 triliun. Namun, Kepala Dinas Perhubungan Bali, Kadek Mudarta, menegaskan bahwa skema pembiayaan masih dalam tahap diskusi. "Opsi yang ada adalah KAI yang melakukan investasi, tetapi besaran investasi untuk sarana, prasarana, dan biaya operasional akan ditentukan setelah studi kelayakan selesai," ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Badung, yang menjadi lokasi operasional trem, telah menyiapkan langkah pendukung dengan merencanakan pelebaran jalan utama menjadi 24 meter dan menyediakan jalur khusus trem. Selain itu, alokasi dana sebesar Rp980 miliar disiapkan untuk pembebasan lahan sepanjang koridor trem selama tiga tahun, dari 2027 hingga 2029. Fasilitas park and ride juga akan dibangun di sejumlah titik wisata strategis untuk mengurangi parkir liar yang selama ini menjadi salah satu pemicu kemacetan.
Meski menyambut baik proyek ini, pengamat tata kota dari Universitas Udayana, Rumawan Salain, mengingatkan perlunya kajian komprehensif. Ia menyoroti potensi kontradiksi: jika trem menggunakan jalan existing, justru bisa memperparah kemacetan. "Kalau trem memakai jalan yang ada, bukankah itu akan menambah macet? Itu juga harus dipertimbangkan," katanya. Salain menekankan bahwa trem tidak boleh berdiri sendiri, melainkan harus terintegrasi dengan kebijakan transportasi publik yang lebih luas, termasuk optimalisasi Trans Metro Dewata dan penegakan aturan tata ruang yang lebih ketat.
Kemacetan di Bali memang sudah menjadi masalah akut selama bertahun-tahun, dipicu oleh jalan sempit, parkir liar, dan volume kendaraan yang tinggi. Minimnya jaringan transportasi publik membuat warga dan turis sangat bergantung pada kendaraan pribadi. Selain trem, pemerintah juga berencana mengembangkan layanan water taxi yang menghubungkan bandara dengan Canggu melalui laut, dengan estimasi waktu tempuh sekitar 30 menit, jauh lebih cepat dibandingkan perjalanan darat yang bisa memakan waktu satu hingga dua jam. Konstruksi water taxi ditargetkan dimulai bulan ini dan berlanjut hingga Juli 2027.
Ke depan, keberhasilan proyek ART ini akan sangat bergantung pada hasil studi kelayakan yang belum dimulai. Pertanyaan besarnya adalah apakah pemerintah mampu menyeimbangkan kebutuhan infrastruktur dengan kelestarian lingkungan dan kenyamanan warga lokal. Apakah peralihan dari MRT ke trem ini akan menjadi solusi jangka panjang atau sekadar penundaan masalah? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun yang jelas, Bali sedang berupaya keras mencari formula tepat untuk mengurai kemacetan tanpa mengorbankan daya tarik wisatanya.



