Trump Bela Infantino di Tengah Gelombang Kritik: FIFA Terancam Pecah?
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump secara terbuka mendukung Gianni Infantino, menyebut pemecatannya sebagai 'kesalahan besar' di tengah desakan tiga konfederasi besar.
- UEFA, CONCACAF, dan AFC menandatangani surat terbuka yang menuduh Infantino merusak kepercayaan melalui penipuan, menyusul rencana investasi swasta yang gagal.
- Dukungan Trump dan CAF serta CONMEBOL menciptakan polarisasi menjelang pemilihan presiden FIFA 2027, dengan Infantino berpotensi melawan penantang dari CONCACAF.

Washington, D.C. โ Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara mengejutkan membela Presiden FIFA Gianni Infantino di tengah krisis kepemimpinan yang melanda badan sepak bola dunia. Dalam unggahan di platform Truth Social pada Senin (10/8), Trump menegaskan bahwa mengganti Infantino akan menjadi "kesalahan besar" dan menyebutnya sebagai pemimpin yang "fantastis" karena telah menggelar Piala Dunia paling sukses sepanjang sejarah. Pernyataan ini muncul hanya beberapa hari setelah tiga konfederasi sepak bola terbesar di dunia โ UEFA, CONCACAF, dan AFC โ menandatangani surat terbuka yang menuduh Infantino merusak kepercayaan melalui "penipuan" dan menuntut perubahan kepemimpinan.
Ketegangan ini bermula dari rencana Infantino yang kontroversial untuk menjual sebagian hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta. Rencana tersebut menuai kecaman luas dan akhirnya ditarik kembali, tetapi meninggalkan luka yang dalam. UEFA bahkan mengancam akan memboikot Piala Dunia jika rencana itu diteruskan, menyebutnya sebagai "kesepakatan gelap yang buruk". Surat terbuka yang dirilis Senin lalu menegaskan bahwa kepemimpinan dalam sepak bola bukanlah properti pribadi, dan ketika kepercayaan rusak, tugas seorang pemimpin telah ditinggalkan.
Dukungan Trump terhadap Infantino menjadi kontras dengan sikap Federasi Sepak Bola AS (US Soccer) yang ikut mengkritik presiden FIFA tersebut. Trump, yang menerima "Penghargaan Perdamaian FIFA" dari Infantino pada undian Piala Dunia tahun lalu, menilai bahwa tanpa Infantino, FIFA tidak akan pernah mencapai kesuksesan dan profitabilitas yang sama. Namun, kritik justru datang dari dalam tubuh FIFA sendiri. Tiga konfederasi besar menilai bahwa pertemuan darurat yang digelar di Maroko pekan lalu, yang memberikan dukungan penuh kepada Infantino, hanyalah kelanjutan dari pola perilaku yang bermasalah.
Menariknya, dukungan terhadap Infantino juga datang dari Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) dan sebagian besar CONMEBOL. Namun, presiden CONCACAF, Victor Montagliani, disebut-sebut sebagai kandidat potensial penantang Infantino. Pemilihan presiden FIFA dijadwalkan pada Maret 2027, dan batas pendaftaran kandidat jatuh pada 18 November tahun ini. Meskipun awalnya Infantino diprediksi akan melenggang tanpa lawan setelah sukses menggelar Piala Dunia 2026 di AS, Meksiko, dan Kanada, rencana investasi swasta yang gagal telah membuka peluang bagi oposisi.
Di Indonesia, dinamika politik FIFA ini patut dicermati. Sebagai negara dengan basis penggemar sepak bola yang besar, Indonesia memiliki kepentingan langsung dalam arah kebijakan FIFA, terutama terkait pengembangan sepak bola nasional dan potensi menjadi tuan rumah turnamen internasional. Konflik internal FIFA dapat memengaruhi alokasi dana pembangunan infrastruktur dan program pengembangan yang selama ini dinikmati oleh negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Selain itu, sikap PSSI dalam pemilihan nanti akan menjadi sorotan, mengingat posisi Indonesia yang selama ini cenderung netral namun memiliki hubungan baik dengan sejumlah tokoh kunci FIFA.
Surat terbuka dari tiga konfederasi tersebut juga menyoroti bahwa pertumbuhan sepak bola selama dekade terakhir bukanlah hasil kerja satu individu, melainkan produk kolektif dari FIFA, konfederasi, asosiasi anggota, dan ribuan orang yang mendedikasikan hidupnya untuk olahraga ini. Mereka mengecam gaya kepemimpinan Infantino yang dianggap "menempatkan dirinya di atas kolektif" dan menuntut akuntabilitas serta keterbukaan. "Ketika kepercayaan rusak melalui penipuan, ketika seseorang menempatkan dirinya di atas kolektif yang memberinya wewenang, maka tugas itu telah ditinggalkan," demikian bunyi pernyataan mereka.
Di sisi lain, Infantino masih memiliki basis dukungan yang solid, termasuk dari Meksiko, Kuwait, dan Qatar โ negara tempat ia memiliki rumah. Dukungan dari CAF dan CONMEBOL juga menjadi modal penting. Namun, dengan adanya ancaman boikot dari UEFA dan kritik tajam dari konfederasi lain, posisi Infantino kini tidak lagi sekuat sebelumnya. Pertanyaannya, akankah dukungan Trump dan sekutu-sekutunya mampu meredam gelombang oposisi? Atau justru semakin memperdalam perpecahan di tubuh FIFA?
Ke depan, langkah Infantino dalam merespons surat terbuka tersebut akan menentukan arah politik FIFA. Jika ia gagal meyakinkan konfederasi-konfederasi besar untuk tetap berada di jalurnya, bukan tidak mungkin pemilihan 2027 akan menjadi ajang pertarungan sengit yang mengguncang tatanan sepak bola global. Bagi Indonesia, stabilitas FIFA sangat penting untuk memastikan program-program pengembangan sepak bola di tanah air terus berjalan. Akankah PSSI mengambil sikap tegas dalam pemilihan nanti? Atau tetap bermanuver di antara dua kubu yang bertikai? Waktu yang akan menjawab.



