TNI AU Siapkan Tol Probolinggo-Banyuwangi Jadi Landasan Darurat Pesawat
Baca dalam 60 detik
- TNI AU tengah mengkaji ruas Tol Probolinggo-Banyuwangi sebagai landasan alternatif pesawat tempur saat pangkalan utama lumpuh.
- Kajian teknis dan keselamatan menjadi prioritas sebelum ruas tol di Jawa Timur itu resmi difungsikan untuk operasi militer.
- Langkah ini menandai sinergi infrastruktur sipil-militer yang kian erat, seiring tren pemanfaatan jalan tol untuk kepentingan pertahanan.

TNI Angkatan Udara tengah menimbang penggunaan ruas Tol Probolinggo-Banyuwangi sebagai landasan darurat pesawat tempur, sebuah langkah yang menyiapkan jalur operasi alternatif ketika pangkalan udara utama tidak dapat difungsikan dalam situasi genting. Rencana ini mengemuka di tengah upaya modernisasi alutsista dan penguatan ketahanan nasional, sekaligus menegaskan bahwa infrastruktur sipil kini berperan ganda dalam arsitektur pertahanan.
Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsekal Pertama I Nyoman Suadnyana, menyatakan bahwa sejumlah ruas tol di Jawa Timur tengah dipertimbangkan, dan Tol Probolinggo-Banyuwangi menjadi salah satu kandidat utama. Namun, ia menegaskan bahwa status tersebut masih bersifat kajian awal. "Itu jadi salah satu rencana, tapi hingga saat ini masih ditinjau," ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa.
Wacana ini menguat setelah rapat internal yang dipimpin Wakil Kepala Staf TNI AU, Marsekal Madya Tedi Rizalihadi, di Markas Besar TNI AU, Cilangkap, Jakarta, Senin (10/8). Dalam forum tersebut, dibahas secara mendalam kebutuhan teknis yang harus dipenuhi agar jalan tol layak dijadikan landasan pesawat, mulai dari dimensi geometri jalan, kekuatan perkerasan, hingga prosedur pengamanan wilayah sekitar.
Langkah TNI AU ini bukan tanpa preseden. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sebelumnya telah menyiapkan Tol Banda Aceh-Sigli sebagai landasan darurat pesawat tempur, dan ruas tol di Ibu Kota Nusantara (IKN) juga dirancang agar dapat difungsikan sebagai runway. Tren ini menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur jalan tol di Indonesia kini kerap mengadopsi standar ganda: melayani mobilitas publik sekaligus menjadi aset strategis pertahanan.
Bagi Indonesia, pemanfaatan jalan tol sebagai landasan darurat memiliki signifikansi strategis yang tinggi. Dengan ribuan pulau dan geografi yang tersebar, ketergantungan pada pangkalan udara permanen menjadi titik rawan. Ketika bencana alam atau konflik melumpuhkan landasan utama, ruas tol yang tersebar dapat menjadi jaring pengaman mobilitas udara. Namun, tantangan teknisnya tidak sederhana: tidak semua ruas tol memiliki ketebalan perkerasan yang cukup untuk menahan beban pesawat tempur, dan faktor keselamatan warga sipil di sekitar jalur harus menjadi pertimbangan utama.
Nyoman menekankan bahwa seluruh tahapan persiapan akan mengedepankan keselamatan dan keamanan. "Wakasau menekankan agar seluruh unsur yang terlibat melaksanakan persiapan secara cermat dengan tetap mengutamakan faktor keselamatan dan keamanan dalam setiap tahapan kegiatan," katanya. Ini menandakan bahwa meskipun urgensinya tinggi, TNI AU tidak akan terburu-buru menetapkan ruas tol tertentu sebelum semua aspek teknis teruji.
Kajian yang dilakukan TNI AU mencakup kesiapan teknis dan aspek keselamatan, termasuk simulasi pendaratan, pengaturan lalu lintas, dan koordinasi dengan pemangku kepentingan terkait. Meski Tol Probolinggo-Banyuwangi masuk dalam daftar, Nyoman menegaskan bahwa belum ada keputusan final. "TNI AU akan melanjutkan peninjauan dan persiapan teknis sebelum rencana penggunaan jalan tol sebagai landasan alternatif dapat dilaksanakan," jelasnya.
Ke depan, publik akan mencermati sejauh mana keseriusan TNI AU dalam merealisasikan wacana ini. Apakah Tol Probolinggo-Banyuwangi akan menjadi landasan darurat pertama yang benar-benar beroperasi di Jawa Timur, atau mungkinkah ruas tol lain yang lebih memenuhi syarat justru diprioritaskan? Yang jelas, kolaborasi antara Kementerian PUPR dan TNI AU dalam proyek-proyek serupa akan menjadi indikator penting bagi arah kebijakan pertahanan berbasis infrastruktur sipil di Indonesia.



