Tuchel Masih Mencari Formula Ideal di Sisi Sayap, Inggris Hadapi DR Congo
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Thomas Tuchel telah menggunakan sembilan kombinasi bek sayap dan winger berbeda dalam tiga laga awal Piala Dunia, menandakan belum ditemukannya solusi optimal di sektor sayap.
- Ketidakstabilan lini belakang menjadi kelemahan utama Inggris, dengan tiga gol kebobolan dan celah yang kerap dieksploitasi lawan, meski tim sukses lolos ke babak 32 besar.
- Pertandingan melawan DR Congo pada Rabu akan menjadi ujian konsistensi, di mana Tuchel dituntut segera menemukan komposisi terbaik sebelum menghadapi lawan yang lebih berat.

Thomas Tuchel masih terus merotasi komposisi pemain di sisi sayap Inggris hingga tiga pertandingan fase grup Piala Dunia 2026, menandakan bahwa pelatih asal Jerman itu belum menemukan formula ideal untuk mengoptimalkan potensi tim. Meski berhasil lolos sebagai juara grup, perubahan konstan di beberapa posisi membuat skuad The Three Lions belum memiliki bentuk tim inti yang stabil.
Sejauh ini, Tuchel telah mencoba sembilan kombinasi berbeda antara bek sayap dan winger, melibatkan delapan pemain dalam 270 menit pertandingan. Cedera yang menimpa Reece James dan Jarell Quansah di posisi bek kanan, serta kondisi Bukayo Saka yang belum pulih seratus persen, menjadi faktor yang memaksa pelatih terus bereksperimen. Namun, hasilnya belum memuaskan: Inggris belum mampu memberikan ancaman konsisten dari sisi sayap, sementara lini belakang kerap tampil goyah setiap kali mendapat tekanan.
Analis sepak bola Alan Shearer, dalam analisisnya untuk BBC Sport, menggarisbawahi bahwa ketidakstabilan pertahanan menjadi kekhawatiran utama. โKami terlihat tidak nyaman setiap kali tim lawan menyerang. Itu masalah besar,โ ujarnya. Meski demikian, Shearer mencatat bahwa beberapa pemain kunci seperti Jude Bellingham, Harry Kane, Jordan Pickford, dan Declan Rice telah tampil gemilang dan menjadi tulang punggung tim. Bellingham, misalnya, mencetak gol penentu kemenangan melawan Panama dari situasi sepak pojok yang tidak terlalu istimewa, menunjukkan kemampuan individu yang bisa diandalkan saat tim kesulitan.
Shearer juga menyoroti pola serangan yang kurang variatif. Saat melawan Panama, kedua winger Inggris, Rashford dan Saka, cenderung memotong ke dalam untuk melepaskan umpan melengkung yang mudah diantisipasi bek lawan. Sebaliknya, gol Kane tercipta dari umpan silang Bellingham yang melebar, menunjukkan bahwa serangan dari luar lebih efektif. โKami lebih berbahaya ketika mereka pergi ke sisi luar lalu mengirim umpan silang,โ kata Shearer.
Menjelang laga babak 32 besar melawan DR Congo di Atlanta, Rabu mendatang, Tuchel kemungkinan akan kembali merombak lini belakang. Duje Spence atau Ezri Konsa bisa menjadi opsi di bek kanan, sementara John Stones berpotensi berduet dengan Marc Guehi di tengah. Shearer menilai bahwa perubahan yang terus-menerus ini merupakan risiko besar, terutama karena beberapa pemain yang dipilih memiliki riwayat cedera. โIni adalah pertaruhan besar,โ tegasnya.
DR Congo diprediksi akan bermain bertahan seperti Ghana dan Panama, mengandalkan serangan balik. Inggris harus menunjukkan pembelajaran dari laga sebelumnya, terutama dalam hal memecah pertahanan rapat dan meningkatkan stabilitas di belakang. Shearer mengingatkan bahwa jika pola rotasi ini terus berlanjut, Inggris akan kesulitan menghadapi lawan-lawan yang lebih kuat di babak selanjutnya. โKami harus berhenti memindahkan pemain dan menemukan stabilitas di lini belakang,โ pungkasnya.



