Letusan Toba 74.000 Tahun Lalu Tak Separah Dugaan, Riset Danau Purba Afrika Bongkar Fakta Baru
Baca dalam 60 detik
- Studi sedimen Danau Chala di Afrika Timur menunjukkan pendinginan global akibat supererupsi Toba hanya sekitar 0,5 derajat Celsius, jauh lebih kecil dari perkiraan sebelumnya.
- Gangguan iklim pasca-letusan berlangsung singkat, sekitar 18 bulan, dengan pola sedimen kembali normal pada tahun ketiga, menepis teori 'musim dingin vulkanik' berkepanjangan.
- Temuan ini membuka wawasan baru tentang ketahanan manusia purba dan menjadi bahan evaluasi model prediksi dampak letusan gunung api raksasa di masa depan.

Letusan Gunung Toba di Sumatra sekitar 74.000 tahun lalu selama ini dianggap sebagai salah satu bencana vulkanik terbesar yang pernah mengancam keberlangsungan hidup manusia purba. Namun, riset terbaru yang dipublikasikan di jurnal Science Advances mengungkap fakta mengejutkan: dampak iklim dari supererupsi tersebut ternyata jauh lebih ringan dari yang selama ini dibayangkan, bahkan cenderung berada dalam rentang variasi alamiah yang mampu diadaptasi oleh nenek moyang kita.
Tim peneliti internasional yang dipimpin oleh Jinheum Park, geosaintis dari Johannes Gutenberg University Mainz, Jerman, berhasil membuktikan hal ini dengan menganalisis sedimen di dasar Danau Chala, sebuah danau kawah kecil di lereng Gunung Kilimanjaro, perbatasan Kenya-Tanzania. Danau sedalam 90 meter ini memiliki karakteristik unik: airnya tidak pernah berputar total hingga ke dasar, sehingga sedimen yang mengendap tersusun sangat teratur setiap tahun, seperti cincin tahunan pada pohon. Kondisi ini memungkinkan para peneliti untuk 'membaca' sejarah iklim secara presisi, sesuatu yang sulit dilakukan pada sedimen laut atau danau biasa yang cenderung tercampur.
Dari lapisan sedimen tersebut, tim menemukan lapisan abu vulkanik Toba yang hanya setebal 0,3 milimeter—lebih tipis dari selembar kertas dan tak terlihat mata telanjang. Dengan menggunakan lapisan abu sebagai penanda waktu, mereka menelusuri sedimen sepanjang 450 tahun yang mengapit peristiwa letusan, dianalisis setiap dua hingga tiga tahun melalui kombinasi pengamatan mikroskop, pemindaian kimia, dan penghitungan fosil diatom. Hasilnya, gangguan iklim yang dipicu letusan Toba hanya berlangsung sekitar 18 bulan. Pada tahun pertama, diatom mengalami stres akibat berkurangnya cahaya matahari, tetapi musim kering berikutnya justru memicu ledakan populasi diatom yang lebih besar karena permukaan danau yang lebih dingin memperdalam sirkulasi air. Pola sedimen baru kembali normal pada tahun ketiga.
Lebih lanjut, dengan membandingkan perubahan kimia dalam sedimen dengan data zaman es terakhir, tim memperkirakan penurunan suhu global akibat letusan Toba hanya sekitar setengah derajat Celsius. Angka ini masih dalam rentang variasi iklim alami yang biasa dihadapi manusia purba, sehingga teori 'musim dingin vulkanik' yang memicu kepunahan massal menjadi tidak relevan. Menurut Park, letusan Toba terjadi sekitar Januari atau Februari—musim dingin di belahan bumi utara—yang membuat aerosol sulfat lebih cepat menyebar ke kutub dan menipis di wilayah khatulistiwa Afrika, tempat manusia purba bermukim saat itu. Hal ini menjelaskan mengapa dampak di Afrika Timur relatif ringan, meski belahan bumi utara yang lebih banyak daratan mengalami pendinginan sedikit lebih besar.
Temuan ini memiliki implikasi penting bagi Indonesia, yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik dengan banyak gunung api aktif, termasuk Toba yang masih memiliki kaldera raksasa. Meski letusan sebesar Toba sangat kecil kemungkinannya terulang dalam waktu dekat, penelitian ini menyoroti perlunya pemodelan dampak letusan yang lebih akurat. Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, dalam keterangan terpisah, menilai bahwa riset semacam ini membantu pemerintah dalam menyusun rencana mitigasi bencana berbasis data ilmiah, terutama untuk potensi letusan gunung api super di masa depan. Namun, ia juga mengingatkan bahwa dampak letusan bisa berbeda-beda tergantung kondisi geografis dan iklim regional.
Meski demikian, Park mengakui keterbatasan studinya. Danau Chala hanya merekam sinyal iklim regional di Afrika Timur, bukan dampak global. Oleh karena itu, penelitian lanjutan dengan metode serupa di lokasi lain yang juga terpapar abu Toba—misalnya di Samudra Hindia atau daratan Asia—sangat diperlukan untuk memetakan dampak sebenarnya secara lebih komprehensif. Pertanyaan yang muncul kemudian: apakah temuan ini akan mengubah paradigma tentang kerentanan manusia purba terhadap bencana alam, dan bagaimana kita memaknai risiko letusan supervolcano di tengah perubahan iklim yang semakin kompleks saat ini?



