Bank of Korea Sinyalkan Kenaikan Bunga Lanjutan: Inflasi dan Pertumbuhan Jadi Pertimbangan Utama
Baca dalam 60 detik
- Wakil Gubernur Senior Bank of Korea, Ryoo Sang-dai, mengisyaratkan kemungkinan besar penyesuaian suku bunga acuan menyusul tekanan inflasi yang masih membara.
- Langkah ini sejalan dengan pemulihan ekonomi yang didorong ekspor chip, meski inflasi Juli sedikit melandai.
- Keputusan akhir akan bergantung pada data ekspor dan belanja kartu kredit, dengan nilai tukar won yang masih tinggi menjadi perhatian.

Bank sentral Korea Selatan (Bank of Korea/BOK) kembali membuka peluang pengetatan kebijakan moneter. Wakil Gubernur Senior yang akan segera mengakhiri masa jabatannya, Ryoo Sang-dai, menyatakan bahwa kenaikan suku bunga acuan masih sangat mungkin dilakukan untuk meredam tekanan inflasi yang dipicu kuatnya permintaan domestik.
Dalam konferensi pers yang digelar Selasa (11/8), Ryoo menegaskan bahwa tanpa adanya guncangan luar biasa, kenaikan suku bunga tambahan adalah skenario yang paling realistis. Ia juga menekankan bahwa kebijakan suku bunga BOK bersifat pre-emptif, sehingga langkah lanjutan akan diambil dengan mempertimbangkan proyeksi pertumbuhan dan inflasi ke depan.
Pernyataan ini muncul hanya beberapa pekan setelah BOK menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam 3,5 tahun terakhir. Langkah tersebut diambil di tengah pertumbuhan ekonomi yang solid, terutama didorong oleh melonjaknya ekspor chip di tengah gencarnya permintaan global untuk kecerdasan buatan (AI). Ekonomi Korea Selatan, yang sangat bergantung pada perdagangan, bahkan mencatatkan pertumbuhan kuartal kedua yang melampaui ekspektasi.
Ryoo menilai bahwa inflasi yang terjadi saat ini lebih banyak disebabkan oleh sisi permintaan, bukan guncangan pasokan seperti konflik di Timur Tengah. Pemulihan ekonomi domestik diperkirakan akan terus menghasilkan tekanan harga secara bertahap dan persisten, sehingga respons kebijakan moneter menjadi keniscayaan.
Meski data inflasi Juli menunjukkan pelandaian ke level terendah dalam tiga bulan, para pengambil kebijakan tetap waspada terhadap tekanan ke atas. Pasar pun belum sepenuhnya mengesampingkan kemungkinan kenaikan suku bunga secara beruntun pada pertemuan bulan ini. Namun, Ryoo enggan memberikan sinyal mengenai besaran atau kecepatan kenaikan selanjutnya.
Ia menyebutkan bahwa jika dirinya masih menjabat pada pertemuan 27 Agustus mendatang, ia akan mencermati data ekspor dan belanja kartu kredit sebagai bahan pertimbangan. Sementara itu, penguatan nilai tukar won dan volatilitas pasar saham memang layak didiskusikan, tetapi bukan menjadi faktor utama dalam pengambilan keputusan.
Mengenai nilai tukar, Ryoo menilai level 1.400 won per dolar AS masih tergolong tinggi dan memberikan tekanan signifikan pada inflasi. Meski tren jangka panjang menunjukkan potensi pelemahan dolar, ia memperkirakan penurunan won tidak akan terjadi cepat karena masih ada faktor-faktor temporer yang memengaruhinya.
Bagi Indonesia, sikap hawkish BOK ini patut dicermati. Sebagai sesama negara berkembang di Asia, kebijakan moneter ketat di Korea Selatan dapat memengaruhi arus modal asing di kawasan. Jika BOK terus menaikkan suku bunga, daya tarik aset keuangan Korea meningkat, berpotensi mengalihkan sebagian investasi portofolio dari negara-negara seperti Indonesia. Meski demikian, fundamental ekonomi Indonesia yang ditopang konsumsi domestik dan harga komoditas yang masih tinggi diharapkan mampu menjaga stabilitas.
Ke depan, keputusan BOK pada akhir Agustus akan menjadi penanda arah kebijakan moneter di Asia. Pertanyaannya, apakah bank sentral lain di kawasan, termasuk Bank Indonesia, akan mengikuti langkah serupa untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi? Yang jelas, ketidakpastian global masih menjadi faktor yang harus diwaspadai.



