Nasib Liam Lawson di F1: Antara Rekan Setim yang Kian Tajam dan Bayang-Bayang Masa Lalu
Baca dalam 60 detik
- Liam Lawson, pebalap Racing Bulls, berada di posisi kesembilan klasemen, namun performa impresif rekan setimnya Arvid Lindblad mulai mengancam posisinya di F1.
- Kegagalan Lawson saat membela Red Bull pada awal 2025 masih membayangi, membuat peluangnya kembali ke tim utama sangat tipis di bawah kepemimpinan baru.
- Keputusan Red Bull untuk mempromosikan Isack Hadjar dan munculnya bakat muda seperti Leonardo Fornaroli semakin mempersempit ruang bagi Lawson untuk bertahan.

Liam Lawson, pebalap asal Selandia Baru yang kini membela Racing Bulls, tengah berada dalam tekanan besar untuk membuktikan diri di Formula 1. Meski duduk di peringkat kesembilan klasemen pebalap, statusnya sebagai 'yang terbaik di antara yang lain' di belakang empat tim terdepan mulai dipertanyakan seiring performa impresif rekan setimnya, Arvid Lindblad, yang baru berstatus rookie.
Lawson, yang memiliki pengalaman lebih banyak dibanding Lindblad, seharusnya mampu tampil lebih dominan. Namun, data menunjukkan bahwa Lindblad hanya tertinggal 20 poin di klasemen, dan dalam hal kecepatan murni, keduanya hampir tidak terpaut. Bahkan, dalam sesi kualifikasi, Lawson unggul tipis 6-5, tetapi kecepatan rata-rata Lindblad justru lebih baik 0,017 detik. Ini menjadi sinyal bahwa kursi Lawson di Racing Bulls tidak lagi aman.
Manajer tim Racing Bulls, Alan Permane, mengakui bahwa kedua pebalapnya memiliki performa yang sangat dekat. "Kami punya dua pebalap cepat yang sangat berimbang," ujarnya. Namun, situasi ini justru menjadi bumerang bagi Lawson, karena tim pengembangan Red Bull memang bertugas menyiapkan pebalap untuk tim utama. Jika Lawson tidak mampu menunjukkan keunggulan yang jelas atas Lindblad, maka peluangnya untuk kembali ke Red Bull semakin menipis.
Konteks Indonesia: Persaingan ketat di dalam tim seperti yang dialami Lawson juga relevan dengan perkembangan pebalap muda Indonesia di kancah balap internasional. Dengan semakin kompetitifnya jalur pembinaan pebalap di Eropa, peluang bagi pebalap Asia Tenggara, termasuk Indonesia, untuk menembus F1 membutuhkan lebih dari sekadar bakat; mereka harus mampu mengalahkan rekan setimnya secara konsisten, seperti yang dituntut dari Lawson.
Sejarah menjadi musuh terbesar Lawson. Dua balapan buruknya bersama Max Verstappen di awal musim 2025 membuat Red Bull mengambil keputusan tegas: menurunkannya kembali ke Racing Bulls dan menukarnya dengan Yuki Tsunoda. Setelah itu, Lawson juga kalah telak dari Isack Hadjar, yang kemudian justru dipromosikan ke Red Bull. Kini, dengan kepemimpinan baru di Red Bull, yaitu Laurent Mekies dan Gwen Lagrue, masih menjadi pertanyaan apakah mereka akan memberi kesempatan kedua bagi Lawson.
Di sisi lain, muncul nama Leonardo Fornaroli, juara F2 yang juga anggota program pengembangan pebalap McLaren. Fornaroli dikabarkan berpeluang mendapatkan kursi di Haas, yang saat ini sedang mempertimbangkan masa depan Esteban Ocon. Jika Fornaroli berhasil masuk F1, maka persaingan untuk mendapatkan kursi di tim-tim kecil akan semakin ketat, dan Lawson harus bersaing dengan nama-nama baru yang lebih muda.
Fenomena pebalap yang mampu bersaing memperebutkan gelar dengan mobil inferior menjadi diskusi menarik. Nama-nama seperti Fernando Alonso, yang pada 2012 hampir mengalahkan Sebastian Vettel dengan mobil keempat tercepat, menjadi inspirasi. Namun, untuk Lawson, jalan untuk sekadar bertahan di F1 saja sudah penuh rintangan. Pertanyaannya, apakah ia mampu bangkit dan membuktikan bahwa dirinya layak berada di grid, atau akan tersingkir oleh generasi baru yang lebih agresif?



