Melawan Stigma Bahasa Bhojpuri: Dua Musisi Bihar Mengubah Narasi Lewat Folk dan Hip-Hop
Baca dalam 60 detik
- Lagu folk Kachaudi Gali yang dibawakan Utpal Udit dan Rekha Bhardwaj di Coke Studio Bharat menuai jutaan tayangan, menyoroti kekayaan budaya Bhojpuri yang kerap terpinggirkan.
- Bhojpuri, bahasa yang dituturkan puluhan juta orang di India dan diaspora, sering distigma sebagai bahasa kelas rendah akibat industri musik komersial yang sarat sindiran seksual.
- Dua pendekatan berbeda—Utpal Udit dengan revival folk dan Sanket Shikriwal dengan fusi hip-hop—berusaha mengembalikan martabat bahasa dan budaya Bhojpuri.

Sebuah lagu folk berusia seabad yang mengisahkan perpisahan, kolonialisme, dan kerinduan tiba-tiba menjadi fenomena di jagat musik India. Dibawakan oleh Utpal Udit, penyanyi asal Bihar, bersama vokalis kondang Rekha Bhardwaj, Kachaudi Gali sukses mengumpulkan jutaan penonton di Coke Studio Bharat, edisi India dari waralaba musik populer yang kerap memperkenalkan tradisi daerah ke khalayak luas Asia Selatan. Namun di balik kesuksesan itu, tersimpan pergulatan yang lebih dalam: bagaimana sebuah bahasa dengan sejarah sastra yang kaya—Bhojpuri—berjuang melepaskan diri dari stigma sebagai bahasa kelas dua.
Bhojpuri dituturkan oleh puluhan juta orang di India utara dan diaspora dari Karibia hingga Pasifik. Bahasa ini memiliki khazanah luar biasa berupa lagu rakyat, puisi, cerita, dan teater. Namun bagi banyak orang India, Bhojpuri identik dengan industri musik yang sarat sindiran seksual, misogini, dan humor vulgar. Di film dan televisi, aksen Bihari sering dijadikan bahan lelucon atau digambarkan sebagai tokoh pinggiran. "Sakit rasanya ketika Anda sangat terikat dengan musik akar budaya, tetapi orang lain memandangnya rendah," ujar Upit kepada BBC. "Saya benar-benar ingin mengubah itu."
Lahir di distrik Saharsa, Udit tumbuh berpindah-pindah karena pekerjaan ayahnya, menyerap tradisi folk di sepanjang jalan. Ia kemudian mendalami karya Bhikhari Thakur dan Mahendra Misir, para penyair dan dramawan yang membentuk imajinasi folk Bihar. Tema migrasi menjadi benang merah dalam musik Bhojpuri—mencerminkan realitas Bihar sebagai salah satu negara bagian termiskin di India, yang penduduknya sejak era kolonial hingga kini harus merantau mencari nafkah. Lagu Jani Ja Bideswa Ke Or dari drama Bidesiya karya Thakur, misalnya, menggambarkan seorang istri yang meratapi kepergian suaminya. Ditulis lebih dari seabad lalu, temanya tetap relevan hingga kini.
Udit tidak hanya bernyanyi; ia juga aktif memberikan penjelasan sejarah dan makna budaya di media sosial. Pendekatan inilah yang menarik perhatian Khwab, produser Kachaudi Gali. "Saya melihat videonya di Instagram, lalu membaca penjelasannya tentang sejarah lagu itu. Saya langsung tersentak. Saya tahu sesuatu yang signifikan harus lahir dari sini," kenang Khwab. Mereka kemudian berkolaborasi mengaransemen ulang lagu tersebut dengan tetap mempertahankan instrumen tradisional seperti shehnai, tabla, dholak, harmonium, dan dotara, namun dikemas dengan aransemen modern. "Ini tentang melestarikan apa yang mungkin hilang sambil menciptakan sesuatu yang segar. Saya ingin orang lain sadar bahwa musik folk juga bisa keren," kata Khwab.
Namun tidak semua seniman memilih jalur revival masa lalu. Rapper Sanket Shikriwal, yang juga berasal dari Bihar, justru meruntuhkan stereotip Bhojpuri lewat fusi yang berani. Dalam musiknya, Bhojpuri berpadu dengan jazz, spoken word, dan hip-hop. Kenangan desa berdampingan dengan referensi Franz Kafka dan John Coltrane. Bihar muncul bersama Mumbai; migrasi berbaur dengan budaya internet. Musiknya kerap kasar, mengandung bahasa jalanan dan makian. Namun Shikriwal menolak anggapan bahwa kata-kata kasar adalah masalah. "Saya tidak menggunakan makian demi citra jagoan. Itu cara saya mengekspresikan kegelisahan," ujarnya. Ia mencontohkan musik Punjabi yang meski kontroversial, tetap mampu menjadi ekspor budaya yang membanggakan. "Pertanyaannya bukan apakah Bhojpuri bisa dibuat terhormat, melainkan mengapa penutur Bhojpuri selalu harus membuktikan bahwa mereka terhormat," tegasnya.
Baik Udit maupun Shikriwal sama-sama berjuang untuk satu hal: mengembalikan harga diri budaya Bhojpuri. "Saya ingin orang melihat Bihar dan kembali melihat para filsuf," kata Shikriwal. "Kami menyebutnya Tanah Buddha, namun kami memperlakukan penduduknya dengan tidak hormat." Udit optimistis perubahan mulai terjadi. Sambutan luar biasa terhadap Kachaudi Gali menjadi bukti bahwa publik haus akan narasi yang lebih otentik. "Ini pengingat bahwa salah satu bahasa yang paling banyak dituturkan di India masih menunggu untuk didengar dengan caranya sendiri," pungkasnya.
Pertanyaan besarnya kini: akankah momentum ini cukup untuk menggeser persepsi dominan yang sudah mengakar? Ataukah Bhojpuri akan terus bergulat antara kebanggaan budaya dan stigma yang melekat? Jawabannya mungkin ada pada generasi baru pendengar yang tumbuh dengan akses tak terbatas pada musik dari seluruh dunia—dan mulai menghargai akar mereka sendiri.



