Rayan dan PR Jepang: Pekerjaan Rumah Brasil Sebelum Babak 32 Besar
Baca dalam 60 detik
- Brasil akan menghadapi Jepang di babak 32 besar Piala Dunia 2026 setelah memuncaki Grup C.
- Winger muda Rayan, yang mencetak assist termuda sejak Pele, mengakui belum mengenal pemain kunci Jepang dan harus belajar dari video.
- Pertemuan terakhir kedua tim berakhir dengan kemenangan Jepang 3-2 pada laga uji coba, menjadi peringatan bagi skuad asuhan Carlo Ancelotti.

Brasil bersiap menghadapi Jepang pada babak 32 besar Piala Dunia 2026 di Houston, Senin (28/6) mendatang, dengan satu pekerjaan rumah tambahan: mengenali kekuatan lawan yang pernah mengalahkan mereka di laga uji coba. Tim Samba lolos sebagai juara Grup C setelah menekuk Skotlandia 3-0 di Miami, namun catatan pertemuan terakhir memberi sinyal waspada.
Jepang bukan lawan sembarangan. Pada Oktober tahun lalu, dalam sebuah pertandingan persahabatan, Samurai Biru membalikkan keadaan setelah tertinggal 0-2 dan menang 3-2. Kekalahan itu masih membekas di benak para pemain Brasil, termasuk winger muda Rayan yang baru berusia 19 tahun. “Kami tahu Jepang tim yang sangat kuat. Kami bekerja keras untuk memberikan yang terbaik dan mengalahkan mereka,” ujar Rayan dalam konferensi pers di New Jersey, Jumat (25/6).
Namun, sebuah pertanyaan dari jurnalis televisi publik Jepang membuat Rayan tersenyum canggung. Ketika diminta menyebut pemain terbaik Jepang, ia mengaku tidak tahu. “Saya harus menonton video untuk bisa menjawabnya,” katanya. Momen ini justru menjadi pengingat bahwa persiapan tak hanya fisik, tetapi juga riset mendalam terhadap calon lawan.
Rayan sendiri menjadi sorotan setelah tampil impresif menggantikan Raphinha yang cedera hamstring. Penampilannya melawan Skotlandia menjadi bukti: ia merebut bola dari bek lawan dan memberikan umpan kepada Vinicius Jr hanya dalam tujuh menit. Assist itu mencatatkan namanya sebagai pemain termuda Brasil yang memberi assist di Piala Dunia sejak Pele pada 1958. Tak hanya itu, ia juga menjadi remaja keenam yang menjadi starter bagi Brasil di ajang ini, dan yang pertama sejak Marco Antonio pada 1970.
Pelatih Carlo Ancelotti menekankan pentingnya disiplin bertahan, bahkan dari lini depan. “Ancelotti sering bicara soal tugas defensif. Ia bilang marking dimulai dari penyerang,” ungkap Rayan. “Meski lelah, kami bertanggung jawab untuk menekan. Saya merasa peningkatan besar dalam aspek bertahan. Anda harus bertahan dulu, baru bermain.”
Bagi Indonesia, laga Brasil vs Jepang menyajikan tontonan menarik. Kedua tim memiliki basis penggemar besar di Tanah Air, dan gaya bermain disiplin ala Jepang kerap menjadi referensi bagi pengembangan sepak bola nasional. Pelajaran tentang pressing dan organisasi pertahanan yang ditunjukkan Brasil juga relevan dengan upaya Timnas Indonesia meningkatkan kualitas permainan.
Pertandingan nanti akan menjadi ujian sejauh mana Brasil mampu menaklukkan kelemahan mereka sendiri: kurangnya informasi tentang lawan. Jika Rayan dan kawan-kawan bisa menyelesaikan “PR” video mereka, bukan tidak mungkin langkah Brasil menuju babak 16 besar akan mulus. Namun, jika lengah, Jepang siap memberikan kejutan lain.



