Laos Berkabung: Presiden Majelis Nasional Xaysomphone Wafat, Ribuan Pejabat dan Rakyat Beri Penghormatan Terakhir
Baca dalam 60 detik
- Presiden Majelis Nasional Laos, Xaysomphone Phomvihane, meninggal dunia dan memicu masa berkabung nasional selama lima hari.
- Para pemimpin partai, negara, serta delegasi Vietnam hadir dalam upacara pemberian penghormatan terakhir di Vientiane.
- Kremasi akan digelar dengan kehormatan penuh di That Luang esplanade pada 12 Agustus, menandai akhir dari era kepemimpinan penting di Laos.

Vientiane, 11 Agustus 2026 โ Laos memasuki masa duka mendalam setelah Presiden Majelis Nasional, Xaysomphone Phomvihane, tutup usia pada Sabtu lalu. Ribuan pelayat, mulai dari pimpinan tertinggi partai hingga warga biasa, memadati National Convention Hall untuk memberikan penghormatan terakhir. Kepergian putra dari presiden pertama Laos, Kaysone Phomvihane, ini tidak hanya meninggalkan lubang besar di tubuh legislatif, tetapi juga menjadi ujian bagi stabilitas politik negara komunis tersebut.
Upacara yang berlangsung khidmat pada Minggu (9/8) itu dihadiri langsung oleh Sekretaris Jenderal Partai Revolusioner Rakyat Laos sekaligus Presiden, Thongloun Sisoulith. Ia memimpin delegasi pertama yang meletakkan karangan bunga, disusul oleh keluarga Sisoulith, jajaran pemerintah yang diwakili Perdana Menteri Sonexay Siphandone, serta perwakilan dari berbagai kementerian dan organisasi. Kehadiran para petinggi ini menegaskan besarnya pengaruh almarhum yang telah mengabdi selama puluhan tahun bagi negara.
Xaysomphone Phomvihane bukan sekadar pejabat tinggi. Ia adalah simbol kontinuitas dinasti politik Phomvihane yang telah mengakar sejak era kemerdekaan Laos. Kariernya di Majelis Nasional dianggap berhasil memperkuat lembaga legislatif, terutama dalam mendukung kebijakan pertahanan dan pembangunan ekonomi. Kepergiannya pun dirasakan sangat berat oleh rekan-rekan sejawatnya, yang menilai almarhum sebagai sosok penyeimbang dalam dinamika politik internal yang kerap tidak terlihat ke publik.
Kesedihan atas kepergian Xaysomphone tidak hanya dirasakan di dalam negeri. Vietnam, sebagai sahabat lama Laos, menunjukkan solidaritasnya dengan mengirimkan delegasi khusus yang dipimpin oleh Ketua Majelis Nasional Vietnam, Tran Thanh Man. Bahkan, Hanoi secara resmi mengumumkan dua hari masa berkabung nasional pada 10-11 Agustus. Langkah ini mencerminkan hubungan erat kedua negara yang telah terjalin sejak masa perjuangan melawan kolonialisme, dan kini diperkuat lagi melalui ikatan politik yang saling mendukung.
Bagi Indonesia, peristiwa ini memiliki relevansi tersendiri dalam konteks hubungan bilateral dan dinamika geopolitik Asia Tenggara. Laos dan Indonesia sama-sama anggota ASEAN, dan stabilitas politik di salah satu negara anggota selalu berdampak pada keseimbangan kawasan. Pergantian kepemimpinan di Laos, meskipun dalam kerangka partai tunggal yang mapan, tetap menjadi perhatian bagi investor dan mitra dagang, termasuk Indonesia yang memiliki hubungan ekonomi yang terus tumbuh dengan Vientiane.
Prosesi penghormatan terakhir ini direncanakan berlangsung hingga 11 Agustus, memberikan kesempatan bagi para pejabat, diplomat asing, dan masyarakat umum untuk memberikan salam perpisahan. Setelah itu, jenazah akan dikremasi dengan upacara militer penuh kehormatan di esplanade That Luang, salah satu situs paling suci di Laos. Ribuan warga diperkirakan akan hadir untuk mengantarkan kepergian pemimpin yang dianggap sebagai pilar bangsa.
Kepergian Xaysomphone meninggalkan tanda tanya besar tentang arah politik Laos ke depan. Siapa yang akan menggantikan posisinya di Majelis Nasional? Bagaimana keseimbangan kekuatan di dalam Politbiro akan bergeser? Pertanyaan-pertanyaan ini akan menjadi bahan diskusi hangat di kalangan analis politik, dan jawabannya akan menentukan apakah Laos mampu mempertahankan stabilitas yang selama ini dijaganya. Satu hal yang pasti, jejak pengabdian Xaysomphone akan terus dikenang, tidak hanya oleh rakyat Laos, tetapi juga oleh mereka yang memahami sejarah panjang perjalanan bangsa ini.



