Remaja Jepang Terjebak Layar 11 Jam Sehari: Alarm Kesehatan Mental Generasi Muda
Baca dalam 60 detik
- Seorang siswi SMP di Nagoya menghabiskan lebih dari 11 jam per hari untuk gawai, dua kali lipat rata-rata nasional, memicu kekhawatiran akan kecanduan digital.
- Psikiater anak menilai kecanduan gawai sering kali merupakan 'sinyal SOS' dari masalah sosial atau neurodevelopmental, bukan sekadar lemahnya kontrol diri.
- Penelitian menunjukkan paparan internet berlebih pada anak dapat menurunkan kecerdasan verbal dan menghambat perkembangan otak, mendesak perlunya intervensi dini.

Nagoya โ Seorang remaja perempuan berusia 14 tahun di Jepang tercatat menghabiskan waktu 11 jam 26 menit dalam sehari untuk bermain gawai, angka yang lebih dari dua kali lipat rata-rata nasional. Kondisi ini menjadi sorotan para ahli karena mencerminkan fenomena kecanduan digital yang kian mengkhawatirkan di kalangan pelajar.
Remaja yang disamarkan namanya sebagai Shiori ini tengah menjalani perawatan psikiater anak di Nagoya. Sejak memasuki jenjang SMP, ia mulai sering absen sekolah akibat konflik dengan wali kelasnya. Ketidakhadirannya yang semakin sering justru membuat durasi penggunaan ponselnya melonjak drastis. Kini, hampir sepanjang hari ia habiskan di rumah, menonton video dansa atau nail art, dan beraktivitas kreatif di dunia maya.
Fenomena ini tidak hanya dialami Shiori. Survei Badan Anak dan Keluarga Jepang mencatat rata-rata pelajar SMP menghabiskan 5 jam 24 menit per hari untuk online. Namun, kasus Shiori menunjukkan bagaimana masalah emosional dapat memperparah ketergantungan pada layar. Sang ibu mengaku kewalahan karena aturan waktu layar yang diterapkan tidak pernah berhasil. "Semakin buruk perasaannya, semakin lama ia menatap ponsel," ujarnya, seraya menambahkan bahwa ia kini menganggap penggunaan gawai anaknya sebagai indikator kondisi mental.
Direktur Klinik Mental Meieki Sako, psikiater anak Ryohei Niwa, mengungkapkan bahwa kliniknya kerap menerima pasien dengan tanda-tanda penggunaan media sosial bermasalah. "Ada beberapa tanda peringatan, seperti tidak mampu berhenti meski ingin, atau menjadi mudah marah saat dibatasi," jelasnya. Ia menekankan bahwa kecanduan digital pada anak bukan sekadar masalah kemauan, melainkan bisa menjadi sinyal adanya kesulitan sosial atau kondisi neurodevelopmental seperti ADHD dan autisme. Shiori sendiri didiagnosis memiliki ciri-ciri ADHD dan gangguan spektrum autisme.
Di sisi lain, profesor ilmu otak dari Universitas Tohoku, Ryuta Kawashima, menjelaskan bahwa anak-anak belum memiliki lobus frontal yang matang, sehingga sulit menahan diri dari rangsangan adiktif seperti media sosial. Ia menyoroti mekanisme "infinite scrolling" yang dirancang untuk terus memberikan kepuasan sesaat melalui kombinasi konten menarik dan membosankan. "Pengguna yang terus-menerus melihat 'hit' akan merasa bosan, tetapi sistem ini membuat mereka tetap terlibat dengan menyelipkan 'miss' sebelum memberikan 'hit' berikutnya," paparnya. Efek jangka panjangnya, menurut riset Kawashima, anak yang menggunakan internet lebih dari satu jam sehari cenderung mengalami penurunan kecerdasan verbal tiga tahun kemudian, serta gangguan pada materi abu-abu otak dan serabut saraf serebelum.
Di Indonesia, fenomena serupa juga mengemuka. Data Kementerian Komunikasi dan Informatika menyebut rata-rata anak Indonesia menghabiskan waktu 4-6 jam per hari di depan layar, dengan sebagian besar digunakan untuk media sosial dan gim. Psikolog anak dari Universitas Indonesia, Prof. Rose Mini, menilai bahwa tanpa pengawasan dan pendampingan yang tepat, risiko kecanduan digital pada anak Indonesia bisa lebih tinggi karena minimnya literasi digital orang tua. "Orang tua perlu menjadi teladan dalam penggunaan gawai, bukan sekadar melarang," ujarnya.
Shiori sendiri sebenarnya berusaha melawan kebiasaannya. Ia kadang membuat aturan sendiri, seperti mandi pukul tujuh malam, dan menggunakan obat untuk mengatur pola tidur. Meski mengalami pasang surut, ia perlahan mencoba membangun rutinitas harian yang lebih sehat. Psikiater Niwa menyarankan agar keluarga tidak ragu mencari bantuan profesional dan menangani masalah ini secara jangka panjang. "Kecanduan digital adalah masalah bersama yang perlu diselesaikan dengan pendekatan menyeluruh," tegasnya.
Ke depannya, pertanyaan besarnya adalah bagaimana sekolah dan keluarga dapat berkolaborasi menciptakan lingkungan yang mendukung anak-anak agar tidak terjebak dalam dunia maya. Apakah regulasi pembatasan usia media sosial akan menjadi solusi, atau justru pendidikan digital yang lebih humanis?



