BI Manfaatkan TIFF 2026 untuk Perluas Adopsi QRIS dan Jaga Inflasi Sulut
Baca dalam 60 detik
- Bank Indonesia memanfaatkan Tomohon International Flower Festival 2026 sebagai ajang promosi pembayaran digital QRIS kepada ribuan pengunjung dan pelaku usaha.
- Fitur QRIS Antarnegara kini berlaku di enam negara, memungkinkan transaksi lintas batas yang lebih mudah bagi wisatawan mancanegara.
- Selain transaksi digital, BI juga mengedukasi masyarakat tentang pengendalian inflasi melalui parade kendaraan hias bertema komoditas pemicu inflasi.

Bank Indonesia (BI) menggandeng Tomohon International Flower Festival (TIFF) 2026 sebagai panggung untuk mempercepat adopsi pembayaran digital di kalangan masyarakat dan pelaku usaha. Kepala BI Perwakilan Sulawesi Utara, Joko Supratikto, menegaskan bahwa festival yang digelar Rabu (12/8) ini menjadi momentum strategis untuk memperkenalkan QRIS kepada ribuan pengunjung, termasuk wisatawan mancanegara yang turut meramaikan acara.
QRIS, singkatan dari Quick Response Code Indonesian Standard, telah menjadi standar pembayaran yang diinisiasi BI untuk menyatukan berbagai metode pembayaran digital dalam satu kode QR. Kehadiran fitur QRIS Antarnegara semakin memperluas jangkauannya, dengan enam negara yang sudah terhubung: Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok. Ini berarti wisatawan dari negara-negara tersebut dapat langsung bertransaksi dengan pedagang lokal tanpa perlu menukar mata uang atau menggunakan kartu kredit.
Bagi pelaku usaha di Tomohon dan sekitarnya, momen ini adalah peluang emas. Festival yang diprediksi menarik ribuan pengunjung tidak hanya menjadi ajang promosi pariwisata, tetapi juga laboratorium nyata untuk menguji kesiapan transaksi digital. Joko menilai bahwa festival semacam TIFF adalah ruang efektif untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan digital, terutama bagi pedagang kecil yang selama ini masih bergantung pada uang tunai.
Selain mendorong transaksi non-tunai, BI juga menyisipkan pesan penting tentang pengendalian inflasi. Dalam parade kendaraan hias yang digelar selama festival, BI mengangkat tema inflasi dengan menghias kendaraan menggunakan komoditas yang kerap memicu kenaikan harga di Sulawesi Utara, seperti bawang merah dan cabai rawit. Langkah ini diambil untuk mengedukasi masyarakat agar lebih bijak dalam berbelanja, sehingga tekanan inflasi tetap terjaga.
Inisiatif ini sejalan dengan tren nasional di mana BI terus menggenjot penggunaan QRIS sebagai bagian dari transformasi digital ekonomi. Hingga saat ini, adopsi QRIS di Indonesia telah tumbuh signifikan, namun masih ada tantangan dalam hal pemerataan, terutama di daerah-daerah yang belum terjangkau infrastruktur digital. Festival seperti TIFF menjadi salah satu cara untuk menjembatani kesenjangan tersebut.
Ke depan, keberhasilan program ini akan diukur dari seberapa besar peningkatan transaksi QRIS selama festival berlangsung. Jika adopsi berjalan mulus, bukan tidak mungkin BI akan memperluas inisiatif serupa ke event-event besar lainnya di Indonesia Timur. Pertanyaannya, apakah para pelaku usaha di daerah siap beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan ini, atau justru akan tertinggal?



