Kebakaran Bromo Meluas, Akses Wisata Ditutup Total: Kerugian Ekonomi dan Ancaman Ekologis Mengintai
Baca dalam 60 detik
- Luas lahan terbakar di TNBTS mencapai 176 hektare, memicu penutupan total kawasan wisata Gunung Bromo tanpa batas waktu.
- Pemerintah mengerahkan tiga helikopter water bombing dan drone, sementara status siaga darurat Jatim diperpanjang hingga Oktober 2026.
- Para pegiat lingkungan mendesak pengawasan ketat di jalur tradisional dan sosialisasi mitigasi untuk mencegah karhutla berulang.

Hamparan padang sabana di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) yang selama ini menjadi ikon wisata alam berubah menjadi lahan hangus. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mulai terdeteksi sejak Senin (3/8) lalu kini melahap 176 hektare, memaksa otoritas menutup total akses wisata ke Gunung Bromo mulai Minggu (9/8). Keputusan ini diambil setelah video amatir yang diunggah warga menunjukkan hamparan rerumputan yang biasanya hijau berubah menjadi hitam, memicu kekhawatiran publik akan dampak ekonomi dan ekologis yang lebih luas.
Menurut Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, titik api pertama muncul di Blok Bantengan, jalur tradisional yang menghubungkan Desa Argosari dan Ranupani di Lumajang. Ia menduga kuat kebakaran dipicu faktor manusia, bukan alam. "Kemungkinan ada warga yang membuat perapian saat melintas di malam hari dan lupa memadamkannya," ujarnya. Dugaan ini diperkuat dengan fakta bahwa karhutla terjadi di tengah musim kemarau, di mana rumput kering mudah terbakar. Penutupan total ini tentu menjadi pukulan telak bagi sektor pariwisata lokal, yang sebelumnya hanya menutup dua pintu masuk, yakni Jemplang dan Senduro. Rata-rata kunjungan wisatawan pun dilaporkan turun hingga 25 persen selama periode kebakaran.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, yang meninjau langsung lokasi pada Jumat (7/8), telah berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mengerahkan armada udara. Satu helikopter TNI AL berkapasitas 1.000 liter air dan dua helikopter BNPB dikerahkan untuk menjangkau area terjal di Kaldera Tengger. "Semoga angin bersahabat sehingga water bombing bisa maksimal," kata Khofifah. Operasi serupa pernah dilakukan pada kebakaran 2023, namun kini sumber air diambil dari Danau Ranupani yang lebih dekat, mempercepat proses pemadaman. Sebelumnya, BPBD Jatim juga telah menerjunkan drone pengangkut 150 liter air untuk memantau titik api yang sulit dijangkau.
Kebakaran ini tidak hanya mengancam ekosistem, tetapi juga menyoroti kerentanan kawasan konservasi di tengah perubahan iklim. Rosek Nursahid, Ketua Profauna, menilai meskipun padang sabana yang terbakar minim satwa endemik, dampak ekologisnya tetap signifikan. "Padang sabana memiliki peran penting dalam TNBTS. Karhutla berpotensi menyebabkan degradasi ekosistem yang perlu kajian mendalam," jelasnya. Ia juga mengingatkan bahwa kebakaran bisa dipicu hal sepele seperti puntung rokok, dan mendesak adanya sosialisasi intensif serta penjagaan di jalur-jalur tidak resmi yang kerap digunakan warga desa penyangga. Temuan patroli Profauna di Gunung Arjuno yang menunjukkan aktivitas pembakaran rumput untuk pertanian menambah daftar panjang potensi karhutla di Jawa Timur.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan serta Kebakaran Hutan dan Lahan melalui Keputusan Gubernur Nomor 100.3.3.1/327/013/2026, berlaku sejak 26 Mei hingga 6 Oktober 2026. Bupati Probolinggo juga mengeluarkan keputusan serupa. Langkah ini memungkinkan mobilisasi sumber daya secara cepat, termasuk operasi modifikasi cuaca (OMC) yang disiapkan BNPB sebagai langkah tambahan. Namun, medan ekstrem dan angin kencang masih menjadi kendala utama. Titik api baru muncul di Desa Sariwani, Probolinggo, dan sekitar tugu perbatasan Malang-Lumajang, memaksa tim gabungan untuk terus memantau arah angin.
Bagi Indonesia, kebakaran Bromo bukan sekadar bencana lokal. Kawasan ini adalah salah satu destinasi wisata unggulan yang menyumbang pendapatan signifikan bagi masyarakat sekitar. Penutupan total yang berkepanjangan berisiko memukul ekonomi kreatif dan jasa pariwisata di Malang, Lumajang, Probolinggo, dan Pasuruan. Lebih jauh, karhutla yang berulang setiap musim kemarau menunjukkan perlunya strategi mitigasi jangka panjang, termasuk pengelolaan jalur tradisional dan penegakan aturan larangan api unggun. Pertanyaannya, akankah pemerintah dan masyarakat belajar dari peristiwa ini untuk mencegah terulangnya tragedi serupa di masa depan? Atau justru kita akan terus menyaksikan sabana hijau berubah menjadi padang hitam setiap tahunnya?



