Bos Wasit UEFA: VAR Bukan PlayStation, Saatnya Kembalikan Wewenang ke Wasit
Baca dalam 60 detik
- UEFA meluncurkan portal Clear Line untuk memandu penggunaan VAR secara konsisten di seluruh liga Eropa.
- Tingkat intervensi VAR di Premier League musim lalu menjadi yang terendah di Eropa, sementara Liga Champions tertinggi.
- Rosetti menekankan pentingnya konteks dan kecepatan normal dalam peninjauan, dengan batas waktu 90 detik agar kredibilitas terjaga.

Kepala perwasitan UEFA, Roberto Rosetti, menegaskan bahwa teknologi Video Assistant Referee (VAR) telah melenceng dari tujuan awalnya. Dalam peluncuran portal baru bernama Clear Line, ia menyatakan sejumlah tinjauan VAR belakangan ini "tidak berhubungan dengan sepak bola" dan meminta agar wasit kembali menjadi pusat pengambilan keputusan. Pernyataan ini muncul setelah pertemuan dengan pimpinan wasit dari lima liga top Eropa—Inggris, Spanyol, Jerman, Prancis, dan Italia—yang digelar bulan lalu bersama direktur teknis IFAB, David Elleray.
Rosetti, yang pernah memimpin final Euro 2008, mengakui bahwa kepuasan terhadap VAR sedang menurun di seluruh benua. "Kami sadar bahwa di mana-mana sekarang tidak ada kepuasan tentang bagaimana VAR memengaruhi sepak bola," ujarnya. Ia menekankan bahwa konteks permainan sangat penting dan VAR seharusnya hanya digunakan untuk kesalahan yang jelas dan nyata, bukan untuk situasi yang bersifat mikroskopis. "Ini sepak bola, bukan PlayStation," tegasnya.
Salah satu masalah terbesar yang disorot adalah interpretasi handball yang berbeda-beda antar liga. Data musim lalu menunjukkan Premier League memiliki interpretasi paling longgar dengan rata-rata satu penalti handball setiap 17,27 pertandingan. Bundesliga Jerman menyusul dengan 10,93 pertandingan per penalti, disusul La Liga Spanyol (10,56), Serie A Italia (10,00), dan Ligue 1 Prancis (9,27). Di Liga Champions, frekuensinya bahkan lebih tinggi—satu penalti setiap tujuh pertandingan—yang memperlihatkan sulitnya mencapai konsensus lintas kompetisi.
Untuk mengatasi ketimpangan ini, UEFA meluncurkan Clear Line, sebuah platform digital pertama yang dirancang sebagai panduan bagi penggemar untuk memahami kapan VAR seharusnya campur tangan. Portal ini memuat banyak contoh video, termasuk situasi handball, untuk menjelaskan apa yang dianggap sebagai pelanggaran. "Tujuannya agar penerapan aturan lebih konsisten," kata Rosetti. Meski demikian, ia mengakui bahwa perbedaan persepsi antarliga tidak akan hilang sepenuhnya. "Sepak bola tidak sempurna, dan kadang kita akan terus memiliki situasi serupa yang diinterpretasikan berbeda. Tapi setidaknya kita bekerja sama."
Data lain yang mencolok adalah tingkat intervensi VAR. Pada musim 2025-26, Premier League mencatat intervensi terendah di Eropa dengan 0,29 per pertandingan, sementara Liga Champions mencapai 0,47 per pertandingan. Rosetti menilai terlalu banyak tinjauan justru memengaruhi perilaku pemain, yang kerap mencoba memancing keputusan video. Ia merujuk pada gol 'Tangan Tuhan' Diego Maradona di Piala Dunia 1986 sebagai pengingat asal mula VAR. "Kami ingin kembali ke asal usul VAR," ujarnya. "Kami tidak lagi senang dengan penggunaan VAR seperti ini."
Rosetti juga menyoroti lamanya waktu peninjauan. Ia menegaskan bahwa pemeriksaan yang berlangsung lebih dari 90 detik berisiko "kehilangan kredibilitas" di mata suporter. Sebagai respons, disepakati protokol baru: ketika wasit meninjau monitor, mereka akan diperlihatkan gambar beku pada titik kontak, kemudian setengah kecepatan, dan akhirnya kecepatan penuh untuk menilai intensitas pelanggaran. "Kami menyukai wasit yang berkepribadian, mengambil keputusan di lapangan, dan VAR hanya campur tangan untuk situasi yang jelas dan nyata," jelasnya.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, isu ini relevan mengingat Liga 1 juga mengadopsi VAR mulai musim ini. Ketidakpuasan terhadap VAR bukan hanya fenomena Eropa; di dalam negeri, keputusan kontroversial kerap memicu perdebatan panas di media sosial. Langkah UEFA untuk membuat pedoman yang lebih jelas bisa menjadi referensi berharga bagi PSSI dan operator liga dalam menyempurnakan penerapan teknologi serupa. Konsistensi interpretasi, terutama untuk handball, menjadi tantangan yang sama di semua kompetisi.
Rosetti menggambarkan Clear Line sebagai "panduan untuk semua orang sepak bola", bukan hanya untuk ofisial. Portal ini menguraikan setiap area yang dicakup VAR—penalti, kartu merah, pelanggaran menyerang, keputusan faktual, dan kesalahan identitas—dengan contoh video yang detail. "Ini bukan halaman web untuk wasit. Ini ruang yang kami ingin Anda kunjungi setelah pertandingan Liga Champions untuk memeriksa bagaimana sebuah insiden dibandingkan dengan pustaka ini," jelasnya. "Ini untuk klub, pemain, dan penggemar."
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah inisiatif ini mampu menyamakan persepsi di tengah perbedaan budaya sepak bola antarnegara. Rosetti sendiri optimistis, tetapi ia juga realistis. "Setidaknya kami bekerja bersama," katanya. Dengan adanya Clear Line, harapannya adalah VAR kembali menjadi alat bantu, bukan pengambil alih keputusan. Namun, apakah wasit di lapangan benar-benar akan lebih berani memutuskan tanpa terus-menerus bergantung pada monitor? Hanya musim depan yang bisa menjawab.



