Baby Shark Boy: Bintang Video Viral 2016 Kini Debut K-Pop, Pinkfong Dukung Penuh
Baca dalam 60 detik
- Park Geon-roung, yang dikenal lewat video Baby Shark Dance pada 2016, akan debut sebagai penyanyi K-Pop dengan nama Baby Shark Boy.
- Debut resminya dijadwalkan pada 20 Agustus dengan single 'Wave' yang menampilkan Joohoney dari Monsta X, dan Pinkfong terlibat langsung dalam proyek ini.
- Langkah ini menandai evolusi dari fenomena viral menjadi karier musik profesional, dengan potensi dampak pada industri hiburan dan strategi pemasaran digital di Asia.

Sepuluh tahun setelah mempopulerkan lagu anak-anak yang mendunia, Park Geon-roung—yang dikenal sebagai bocah dalam video musik Baby Shark Dance—kini bersiap mengawali karier baru sebagai penyanyi K-Pop. Dengan nama panggung Baby Shark Boy, ia akan resmi debut pada 20 Agustus mendatang melalui single bertajuk "Wave" yang berkolaborasi dengan Joohoney, anggota grup Monsta X.
Video musik Baby Shark Dance yang diunggah Pinkfong pada 2016 telah menjadi fenomena global, mencatatkan lebih dari 17 miliar penonton di YouTube hingga 2026 dan menjadikannya video terpopuler sepanjang masa. Kini, Park yang dulu tampil dengan piyama bermotif gigi hiu, kembali ke sorotan dengan identitas baru yang tetap mengusung nuansa Baby Shark, seperti terlihat dalam teaser yang dirilis pada 10 Agustus.
Keterlibatan Pinkfong dalam proyek ini tidak main-main. Perusahaan pendidikan asal Korea Selatan itu secara aktif mempromosikan Baby Shark Boy di platform resminya, bahkan berencana merilis film dokumenter di balik layar. Menurut perwakilan Pinkfong dalam pernyataan kepada The Korea Herald, proyek ini merupakan upaya Park untuk "menceritakan kisahnya sendiri"—sebuah langkah yang dinilai sebagai strategi untuk mentransformasi ketenaran viral menjadi karier berkelanjutan.
Fenomena Baby Shark sendiri telah menjadi bagian dari budaya populer global, melampaui batas usia dan geografi. Di Indonesia, lagu ini sempat menjadi favorit anak-anak dan sering diputar di berbagai acara keluarga. Kehadiran Baby Shark Boy dapat membuka peluang baru bagi industri hiburan Tanah Air, terutama dalam hal kolaborasi lintas negara dan pemanfaatan tren digital untuk membangun karier artis.
Langkah Pinkfong untuk mengorbitkan Baby Shark Boy tidak lepas dari tren industri K-Pop yang semakin agresif dalam memanfaatkan fenomena viral. Beberapa tahun terakhir, agensi dan perusahaan hiburan Korea Selatan gencar menggaet kreator konten digital untuk menjadi idola, mengingat basis penggemar yang sudah terbentuk. Namun, tantangan terbesar adalah membangun kredibilitas di industri yang sangat kompetitif, di mana bakat dan kualitas musik tetap menjadi penentu utama.
Bagi penggemar K-Pop di Indonesia, kehadiran Baby Shark Boy bisa menjadi angin segar. Kolaborasi dengan Joohoney dari Monsta X—yang memiliki basis penggemar kuat di Asia Tenggara—dapat memperluas jangkauan pasar. Selain itu, strategi pemasaran yang mengedepankan narasi personal seperti "kisah sendiri" berpotensi menarik simpati publik, terutama generasi muda yang tumbuh bersama fenomena Baby Shark.
Meski demikian, skeptisisme tetap muncul. Sebagian kalangan menilai bahwa mengandalkan ketenaran masa lalu tidak cukup untuk bertahan di industri musik. Pertanyaannya, apakah Baby Shark Boy mampu melepas bayang-bayang masa lalunya dan diterima sebagai artis yang mandiri? Atau justru identitas lamanya menjadi daya tarik utama yang menguntungkan secara komersial?
Ke depan, kesuksesan Baby Shark Boy akan menjadi ujian bagi model bisnis baru di industri hiburan: bagaimana mengubah fenomena viral menjadi karier jangka panjang. Jika berhasil, bukan tidak mungkin akan muncul lebih banyak kreator digital yang mengikuti jejaknya. Namun, jika gagal, hal ini bisa menjadi pelajaran berharga tentang batas antara ketenaran sesaat dan keberlanjutan karier.



