Surat untuk Taylor Swift dan Robyn: Sutradara Netflix Rela 'Mengemis' Demi Lagu
Baca dalam 60 detik
- Sutradara Leah McKendrick mengirim surat pribadi ke Taylor Swift dan Robyn untuk meminta izin menggunakan lagu mereka di film Netflix 'Voicemails for Isabelle'.
- Leah menganggap lagu 'Marjorie' dan 'Dancing On My Own' sebagai elemen naratif yang tak tergantikan, bukan sekadar latar belakang.
- Kisah ini menyoroti betapa pentingnya musik dalam membangun emosi film, serta tantangan lisensi yang dihadapi sineas independen.

Proses kreatif di balik film Netflix Voicemails for Isabelle tidak hanya melibatkan arahan kamera dan akting, tetapi juga perjuangan pribadi sang sutradara, Leah McKendrick, untuk meyakinkan dua ikon musik dunia—Taylor Swift dan Robyn—agar mengizinkan lagu mereka digunakan. Leah mengaku rela menulis surat panjang dan bahkan 'mengemis' demi mendapatkan hak lisensi, karena ia merasa tidak ada pengganti yang setara untuk adegan-adegan kunci dalam filmnya.
Film yang dibintangi Zoey Deutch dan Nick Robinson ini memakan waktu delapan tahun untuk rampung. Dalam wawancara dengan Deadline, Leah mengungkapkan bahwa skor musik adalah tulang punggung emosional cerita. Ia tidak memiliki rencana cadangan saat memilih lagu; setiap adegan ditulis dengan satu lagu tertentu di benaknya. “Ketika pilihannya hanya satu, Anda tidak punya pilihan selain berjuang dan memohon,” ujarnya.
Surat untuk Taylor Swift difokuskan pada lagu Marjorie, yang ditulis Swift tentang neneknya yang meninggal. Leah ingin lagu itu mengilustrasikan duka mendalam yang dialami karakter Jill (Deutch) setelah kehilangan saudara perempuannya. Pengalaman pribadi Leah saat menyaksikan konser Eras Tour—di mana ia menangis mendengar Marjorie bersama penggemar lain—semakin menguatkan tekadnya. “Itu adalah pengalaman spiritual,” kenangnya. Beruntung, tim Netflix juga penggemar Swift, sehingga dukungan internal pun mengalir. Swift akhirnya memberikan izin dengan murah hati.
Tidak hanya Swift, Leah juga mengirimkan surat dan presentasi khusus kepada Robyn untuk lagu Dancing On My Own. Ia menekankan bahwa lagu itu bukan sekadar tempelan latar, melainkan menjelma menjadi karakter tersendiri dalam film. “Ini bukan sekadar needle drop. Ini adalah karakter. Kamu adalah karakter dalam filmku,” tulis Leah dalam suratnya. Pendekatan personal ini menunjukkan bagaimana seorang sineas memandang musik sebagai mitra naratif, bukan sekadar properti.
Kisah Leah McKendrick menjadi pengingat bahwa di balik layar, proses perizinan musik bisa menjadi medan pertempuran emosional dan administratif. Bagi sineas independen, mendapatkan lagu dari artis papan atas sering kali bergantung pada relasi, keberuntungan, dan kegigihan. Di Indonesia, fenomena serupa juga kerap terjadi—banyak film lokal harus bernegosiasi panjang dengan label musik atau pencipta lagu untuk mendapatkan hak cipta, terutama jika lagu tersebut sudah melekat di benak publik. Tantangan ini kerap menjadi kendala bagi industri perfilman Tanah Air yang ingin menggunakan musik populer secara legal.
Ke depan, model pendekatan personal seperti yang dilakukan Leah mungkin bisa menjadi inspirasi bagi sineas Indonesia: bahwa surat yang tulus dan visi artistik yang jelas bisa membuka pintu yang biasanya tertutup. Pertanyaannya, akankah para musisi Indonesia—dari Noah hingga Raisa—bersikap semurah hati Taylor Swift dan Robyn terhadap permintaan serupa dari sineas lokal?



