Bubble Tech Mengkhawatirkan, Bursa Asia Babak Belur: Kospi Anjlok 6% dalam Sepekan
Baca dalam 60 detik
- Indeks Kospi Korea Selatan ambles nyaris 6% pada Jumat (26/6), memicu penghentian perdagangan sementara di tengah kekhawatiran gelembung saham teknologi.
- Aksi jual besar-besaran dipicu oleh koreksi di Wall Street setelah Apple dan raksasa teknologi lainnya tertekan kenaikan harga produk serta ancaman regulasi digital Uni Eropa.
- Pelemahan ini berpotensi merembet ke pasar Indonesia melalui tekanan pada saham teknologi dan sentimen risk-off di kawasan Asia.

Indeks utama bursa Korea Selatan, Kospi, ambrol nyaris 6 persen pada Jumat (26/6) dan sempat menyentuh level terendah dengan penurunan hingga 9 persen di sesi tengah hari, menandai pekan yang penuh gejolak bagi pasar Asia. Aksi jual massal ini dipicu oleh kekhawatiran yang semakin nyata akan terbentuknya gelembung di sektor teknologi global, terutama setelah saham-saham unggulan di Wall Street mengalami tekanan berat.
Dalam lima hari terakhir, Kospi mencatat pergerakan liar yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pada Selasa lalu, indeks tersebut ambrol 10 persen dan memicu penghentian perdagangan selama 20 menit, sebelum pulih pada Rabu dan Kamis. Namun, reli singkat itu tak bertahan lama. Jumat menjadi puncak kepanikan setelah saham-saham teknologi besar seperti SK hynix dan Samsung Electronics masing-masing merosot lebih dari 8 persen dan 5,3 persen. Total kapitalisasi pasar yang lenyap dalam sepekan diperkirakan mencapai puluhan miliar dolar.
Kekhawatiran akan valuasi yang terlalu tinggi di sektor teknologi bukanlah hal baru. Namun, kombinasi beberapa faktor dalam sepekan terakhir memperparah sentimen. Di Amerika Serikat, Apple mengumumkan kenaikan harga untuk lini laptop, tablet, dan produk lainnya dengan alasan biaya produksi yang meningkat. Langkah ini langsung menekan sahamnya dan memicu aksi jual di Nasdaq dan S&P 500. Sementara itu, Amazon dan Microsoft mendapat tekanan tambahan setelah Uni Eropa menegaskan akan memberlakukan aturan persaingan digital yang lebih ketat terhadap dominasi mereka di komputasi awan.
Analis dari Miller Tabak, Matt Maley, mengingatkan bahwa keretakan di sektor teknologi mulai terlihat. "Beberapa retakan telah berkembang di sektor teknologi belakangan ini. Kami percaya sangat penting untuk mengamati bagaimana perusahaan-perusahaan raksasa ini bergerak ke depan, karena jika mereka terus menurun, akan sangat sulit bagi pasar lainnya untuk maju," ujarnya. Pernyataan ini mencerminkan kekhawatiran bahwa sektor teknologi yang selama ini menjadi motor penggerak pasar global justru berpotensi menjadi sumber koreksi besar.
Di Jepang, indeks Nikkei merosot lebih dari 4 persen, dengan SoftBank Group ambles hingga 12 persen setelah laporan bahwa OpenAI, pengembang ChatGPT, mempertimbangkan untuk menunda penawaran umum perdana (IPO) hingga 2027. Berita ini menambah sentimen negatif terhadap investasi di bidang kecerdasan buatan yang selama ini menjadi primadona. Sementara itu, bursa Hong Kong, Shanghai, Taipei, Singapura, Jakarta, Manila, dan Bangkok semuanya mencatat kerugian signifikan, menunjukkan bahwa aksi jual ini bersifat regional.
Menariknya, pelemahan ini terjadi meskipun ekspektasi kenaikan suku bunga AS sedikit mereda setelah data inflasi yang dipantau Federal Reserve menunjukkan angka yang lebih rendah dari perkiraan pada Mei. Hal ini mengindikasikan bahwa kekhawatiran investor saat ini lebih terfokus pada valuasi sektor teknologi dan prospek keuntungan perusahaan, bukan pada kebijakan moneter.
Bagi Indonesia, gejolak di bursa Asia ini menjadi sinyal waspada. Meskipun IHSG tidak terkoreksi sedalam bursa Korea atau Jepang, tekanan jual asing diperkirakan akan meningkat. Saham-saham teknologi di Bursa Efek Indonesia, seperti emiten digital dan perusahaan yang terkait ekosistem AI, berpotensi terkena imbas. Selain itu, sentimen risk-off global dapat mendorong investor asing untuk menarik dana dari pasar emerging market, termasuk Indonesia.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah koreksi ini hanya bersifat sementara atau merupakan awal dari penurunan yang lebih dalam. Para pelaku pasar akan mencermati laporan keuangan kuartal kedua dari perusahaan teknologi besar AS dan Asia. Jika hasilnya tidak sesuai harapan, bukan tidak mungkin aksi jual akan berlanjut dan menguji level support berikutnya.



