Duncan Locke, Sosok 'Q' di Balik Gadget Canggih Timnas Rugby Inggris
Baca dalam 60 detik
- Duncan Locke, kepala inovasi RFU, menguji puluhan teknologi setiap tahun untuk meningkatkan performa pemain rugby Inggris.
- Dari kacamata strobo hingga masker hipoksia, teknologi ini dirancang untuk memberikan keunggulan marjinal ala tim sepeda Inggris.
- Locke menekankan bahwa inovasi tidak menggantikan intuisi dan hubungan manusia, melainkan melengkapi keputusan pelatih.

Di balik persiapan timnas rugby Inggris menghadapi Afrika Selatan di ketinggian 1.724 meter di atas permukaan laut, ada seorang pria yang bertugas memastikan para pemain tidak kehabisan napas di kuarter akhir. Namanya Duncan Locke, kepala layanan performa dan inovasi di Rugby Football Union (RFU), yang oleh rekan-rekannya dijuluki 'Q'—sosok penyedia gadget canggih untuk James Bond.
Locke, yang sebelumnya bekerja dengan tim balap sepeda Inggris di Olimpiade Beijing 2008, membawa filosofi 'marginal gains' ke dunia rugby. Ia mengaku telah meninjau hampir 60 teknologi berbeda dalam dua tahun terakhir, namun hanya lima atau enam yang benar-benar digunakan. "Ada begitu banyak perusahaan rintisan dan firma teknologi baru, mudah untuk terpikat oleh gadget terbaru yang mencolok," ujarnya kepada BBC Sport. "Tugas kami memastikan bahwa apa pun yang kami terapkan valid secara riset, efisien biaya, dan yang terpenting, berdampak pada performa."
Teknologi yang digunakan Inggris beragam, mulai dari kacamata strobo yang melatih pemain memproses lintasan bola lebih cepat, hingga masker hipoksia yang mereplikasi kondisi oksigen tipis di ketinggian. Untuk laga melawan Afrika Selatan, Locke dan pelatih memutuskan menggunakan masker tersebut dalam sesi sepeda statis intensif. Hasilnya diharapkan meningkatkan kapasitas aerobik dan ketahanan pemain saat menghadapi juara dunia empat kali itu.
Locke juga mengadopsi teknologi dari luar rugby. Sistem pelatihan pengambil keputusan ala quarterback NFL digunakan untuk melatih pemain Inggris mengenali pola pertahanan dan ruang kosong. Drone merekam sesi latihan dari atas untuk memberikan pandangan menyeluruh tentang formasi tim. Sementara itu, visi komputer—cabang kecerdasan buatan yang awalnya dikembangkan untuk pengawasan—memungkinkan kamera analisis mengenali dan melacak pemain secara otomatis di tengah kekacauan latihan.
Pendekatan Locke tidak hanya terbatas pada perangkat keras. Ia juga mempelajari teori pembelajaran di dunia pendidikan untuk menyesuaikan cara pelatih menyampaikan instruksi. "Cara berinteraksi dengan pemain berusia 17-18 tahun sangat berbeda dengan pemain 32-34 tahun," jelasnya. "Dengan generasi media sosial, kami memikirkan bagaimana memanfaatkan proses yang sudah mereka bangun dalam kehidupan sehari-hari, seperti TikTok atau Instagram Stories, tetapi disesuaikan untuk lingkungan rugby."
Salah satu dampak terbesar teknologi adalah menjaga pemain tetap fit dan mencegah cedera. Berbagi data antara klub dan tim nasional memungkinkan Inggris memantau beban latihan pemain dan mengidentifikasi siapa yang rentan cedera. Sensor elektromiografi nirkabel (EMG) memberikan ukuran pemulihan otot yang cedera secara langsung, sementara pelacakan anggota tubuh yang dulu hanya bisa dilakukan di fasilitas khusus kini bisa dilakukan di pinggir lapangan menggunakan iPad.
Meski demikian, Locke sadar bahwa keunggulan teknologi hanya bersifat sementara. "Tim lain pasti akan segera meniru teknologi yang berhasil," katanya. "Kami hanya punya jendela kecil untuk menerapkannya sebelum orang lain menyusul." Di sisi lain, Afrika Selatan di bawah pelatih Rassie Erasmus juga dikenal inovatif, menggunakan lampu berwarna untuk komunikasi dan antarmuka taktik Outfox yang dikendalikan dengan kontroler Xbox.
Locke menekankan bahwa inovasi bukanlah revolusi. "Ada kutipan bagus dari sosiologi: 'Tidak semua yang berarti bisa dihitung, dan tidak semua yang bisa dihitung berarti'," pungkasnya. "Kami beruntung memiliki data untuk menginformasikan keputusan, tetapi hubungan dan emosi juga melekat dalam permainan. Intuisi, perasaan, dan pengalaman tetap penting untuk mempersiapkan tim dan membuat keputusan yang baik." Pertanyaannya, akankah perpaduan teknologi dan sentuhan manusia ini cukup untuk mengalahkan Afrika Selatan di kandang mereka?



