Investasi Asing Mengalir Deras, AS Bergegas Menambal Celah Rantai Pasok Manufaktur
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah AS meluncurkan program percontohan untuk menghubungkan investor asing dengan pemasok domestik, menyusul lonjakan investasi manufaktur.
- Kunjungan pejabat ke galangan kapal Hanwha di Philadelphia menyoroti upaya menutup kesenjangan pasokan komponen, dengan investasi $5 miliar yang dijanjikan.
- Inisiatif ini berpotongan dengan kebijakan tarif dan deregulasi, namun implementasinya masih dalam tahap awal tanpa panduan rinci.

Pemerintah Amerika Serikat tengah berupaya keras menjembatani kesenjangan dalam rantai pasok manufaktur domestik di tengah gelombang investasi asing yang kian deras. Dalam kunjungan ke galangan kapal bersejarah di Philadelphia, dua pejabat senior pemerintahan Donald Trump menegaskan komitmen untuk membantu usaha kecil dan menengah agar mampu memenuhi lonjakan permintaan yang dipicu oleh kebijakan tarif dan deregulasi.
Asisten Menteri Keuangan Chris Pilkerton dan Administrator Badan Usaha Kecil (SBA) Kelly Loeffler, dalam wawancara dengan Reuters, mengungkapkan bahwa tarif impor dan pelonggaran regulasi telah berhasil menarik minat investor asing. Namun, mereka menggarisbawahi bahwa ketersediaan komponen menjadi faktor krusial yang tak boleh diabaikan. Kunjungan ke galangan kapal yang diakuisisi oleh Hanwha Ocean dan Hanwha Group asal Korea Selatan pada Desember 2024 itu menjadi simbol nyata dari upaya tersebut.
Galangan kapal yang sebelumnya dikenal sebagai Philadelphia Shipyard itu kini berada di bawah kendali Hanwha setelah melalui proses tinjauan Komite Investasi Asing di AS (CFIUS), yang dipimpin langsung oleh Pilkerton. CEO Hanwha Philly Shipyard, David Kim, menyatakan perusahaannya berkomitmen menanamkan investasi hingga US$5 miliar dalam beberapa tahun ke depan. Dana tersebut diharapkan dapat meningkatkan jumlah tenaga kerja di lokasi dari sekitar 2.000 menjadi 10.000 orang. Hingga saat ini, Hanwha telah mengucurkan lebih dari US$200 juta untuk memodernisasi kapasitas dan keterampilan pekerja.
Kim juga memaparkan bahwa setiap kapal raksasa yang mereka produksi membutuhkan lebih dari 1.000 pemasok, dengan sekitar dua pertiganya berasal dari dalam negeri AS. Jumlah ini diproyeksikan bertambah seiring rencana perusahaan untuk mengadopsi teknologi pembuatan kapal berbasis kecerdasan buatan (AI) yang sudah diterapkan di Korea Selatan. Langkah ini tak hanya akan mempercepat produksi, tetapi juga membuka peluang bagi lebih banyak pemasok lokal untuk terlibat.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Pilkerton meluncurkan program percontohan bernama Strategic Vendor Program. Program ini dirancang untuk memperkuat rantai pasok domestik dan mendukung keberlanjutan bisnis yang dimiliki asing. Namun, inisiatif tersebut masih dalam tahap uji coba dan belum memiliki panduan rinci mengenai bagaimana vendor akan diseleksi. Pilkerton, yang pernah menjabat sebagai penjabat administrator SBA di akhir masa jabatan pertama Trump, mengaku memanfaatkan pengalamannya untuk merancang program ini.
Pilkerton mencontohkan kunjungannya ke perusahaan pendingin kuantum yang diakuisisi oleh Bluefors, perusahaan asal Finlandia, di Syracuse, New York. Para eksekutif di sana mengeluhkan kesulitan menemukan pemasok domestik untuk kompresor kering. "Mudah untuk berbicara soal rantai pasok di tingkat makro. Semua orang menginginkannya, tapi Anda harus menemukan komponennya," ujarnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa retorika saja tidak cukup; dibutuhkan aksi konkret di lapangan.
Selain program vendor, pemerintahan Trump juga berupaya membuat proses tinjauan CFIUS lebih transparan dan cepat. Pada Juli lalu, Departemen Keuangan meluncurkan situs web baru untuk membantu perusahaan, investor, dan pengacara memahami cara kerja panel tersebut. Ada pula Known Investor Program yang dirancang untuk mempercepat proses bagi investor yang sudah sering berinvestasi, setelah melalui pemeriksaan mendalam di awal.
Di sisi lain, Loeffler mengungkapkan bahwa SBA telah menyediakan dana sebesar US$3 miliar untuk produsen pada 2025, termasuk US$32 juta khusus untuk industri pembuatan kapal. Langkah ini diambil untuk memulihkan kapasitas produksi setelah AS kehilangan sekitar 90.000 pabrik dan 5 juta lapangan kerja manufaktur dalam lima dekade terakhir. Angka tersebut menjadi pengingat betapa dalamnya luka industri manufaktur AS.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menawarkan pelajaran berharga. Arus investasi asing yang masuk ke sektor manufaktur memang menjanjikan, tetapi tanpa rantai pasok domestik yang kuat, manfaatnya bisa bocor ke luar negeri. Pemerintah Indonesia, yang tengah gencar mendorong hilirisasi dan kemandirian industri, perlu memastikan bahwa investor asing tidak hanya membawa modal, tetapi juga terintegrasi dengan pemasok lokal. Program serupa dengan Strategic Vendor Program bisa menjadi inspirasi untuk memperkuat ekosistem industri nasional.
Ke depan, efektivitas program-program ini akan sangat menentukan. Akankah AS mampu menutup kesenjangan rantai pasoknya sebelum gelombang investasi asing mereda? Atau justru ketergantungan pada komponen impor akan terus berlanjut? Jawabannya akan menjadi indikator penting bagi arah kebijakan industri AS, sekaligus pelajaran bagi negara berkembang seperti Indonesia yang tengah berupaya menaikkan kelas industrinya.



