Roma Pilih Bayar Denda UEFA daripada Jual Bintang, Strategi Berani di Tengah Tekanan FFP
Baca dalam 60 detik
- Klub Serie A Roma dikabarkan akan membayar denda UEFA daripada melepas pemain kunci demi memenuhi batas Financial Fair Play.
- Keputusan ini diambil di bawah desakan pelatih Gian Piero Gasperini dan setelah lolos ke Liga Champions, dengan optimisme peningkatan pendapatan.
- Sanksi UEFA bisa berupa denda dan pembatasan skuad untuk turnamen Eropa 2027-28, namun pemilik klub siap menanggung risikonya.

AS Roma dilaporkan siap mengambil langkah tak lazim dalam memenuhi aturan Financial Fair Play (FFP) UEFA: membayar denda daripada menjual pemain bintang mereka. Keputusan ini menjadi sorotan karena klub-klub Italia kerap kali harus merelakan aset terbaiknya demi menyeimbangkan neraca keuangan.
Berdasarkan laporan La Gazzetta dello Sport, keluarga Friedkin selaku pemilik Roma memilih untuk menanggung sanksi finansial dari UEFA ketimbang membubarkan skuad yang baru saja mengamankan tiket ke Liga Champions musim depan. Langkah ini diambil di bawah tekanan pelatih Gian Piero Gasperini, yang menginginkan stabilitas tim setelah keberhasilan di kompetisi domestik dan Eropa.
Batas waktu 30 Juni menjadi momen krusial bagi Roma untuk mengumpulkan dana yang cukup agar tetap berada dalam batas kesepakatan penyelesaian dengan UEFA. Sebelumnya, klub diyakini akan melepas setidaknya satu pemain top, dengan Matias Soulé menjadi kandidat utama menuju Liga Saudi. Nama-nama seperti Manu Koné, Evan Ndicka, dan Mile Svilar juga disebut memiliki tawaran dari klub lain.
Namun, Roma yakin dapat mengumpulkan dana dari sumber lain, seperti penggantian hak siar televisi dan klaim asuransi atas kondisi jantung Edoardo Bove. Meski beberapa pemain seperti Tommaso Baldanzi dan Alessandro Romano sudah dijual, jumlahnya dinilai belum mencukupi. Alhasil, klub siap menerima denda dan kemungkinan pembatasan daftar skuad untuk turnamen UEFA pada 2027-28.
Keputusan ini mencerminkan keberanian keluarga Friedkin dalam mempertahankan daya saing tim. Mereka percaya bahwa pendapatan akan meningkat signifikan berkat partisipasi di Liga Champions dan peluang sponsor saat perayaan 100 tahun klub. Bagi pengamat sepak bola Italia, langkah ini bisa menjadi preseden baru bagi klub-klub yang menghadapi dilema serupa.
Di Indonesia, keputusan Roma ini menarik perhatian karena banyak penggemar Serie A yang mengikuti perkembangan klub ibu kota Italia. Jika strategi ini berhasil, Roma bisa menjadi contoh bagaimana klub besar tetap kompetitif tanpa harus menjual bintangnya. Namun, jika pendapatan tidak sesuai proyeksi, risiko sanksi lebih berat di masa depan tetap mengintai.
Pertanyaan besarnya: akankah klub-klub lain mengikuti jejak Roma, atau justru UEFA akan memperketat aturan untuk mencegah praktik semacam ini? Hanya waktu yang akan menjawab.



