Korea Selatan dan AS Gelar Latihan Militer Besar-besaran, Respons atas Ancaman Drone dan Perang Siber Korea Utara
Baca dalam 60 detik
- Latihan gabungan Ulchi Freedom Shield akan berlangsung 17-27 Agustus, melibatkan 18.000 tentara Korea Selatan.
- Fokus latihan meliputi kontra-drone, gangguan GPS, dan serangan siber, mencerminkan perubahan sifat perang modern.
- Pakar menilai pengalaman tempur Korea Utara di Ukraina menjadi perhatian utama dalam penyusunan skenario latihan.

Seoul — Korea Selatan dan Amerika Serikat akan menggelar latihan militer gabungan tahunan bertajuk Ulchi Freedom Shield pada 17–27 Agustus mendatang. Latihan ini tidak hanya menguji kesiapan tempur konvensional, tetapi juga menyertakan skenario kontra-drone, gangguan sinyal GPS, dan serangan siber sebagai respons atas perkembangan kemampuan militer Korea Utara yang dinilai semakin kompleks.
Dalam pernyataan bersama yang dirilis Selasa (11/8), kedua negara menegaskan bahwa latihan ini dirancang untuk memperkuat postur pertahanan dan mendukung simulasi tanggap darurat pemerintah Korea Selatan. Ribuan personel militer akan diterjunkan, dengan sekitar 18.000 tentara Korea Selatan ikut serta — jumlah yang relatif sama dengan tahun-tahun sebelumnya, menurut Kapten Jang Do-young dari Kepala Staf Gabungan Korea Selatan.
Yang menarik, latihan tahun ini secara eksplisit memasukkan elemen perang modern yang selama ini jarang disorot: penggunaan sistem nir awak, peperangan elektronik, dan operasi siber. Kolonel Ryan Donald, direktur urusan publik untuk Komando Pasukan Gabungan, Komando PBB, dan Pasukan AS di Korea, menyebut perubahan ini mencerminkan karakter perang yang terus berevolusi. “Tentara Korea Utara telah dikerahkan dan bertempur di Ukraina, dan mereka membawa pulang pelajaran berharga dari sana,” ujarnya, merujuk pada laporan keterlibatan pasukan Pyongyang dalam konflik Rusia-Ukraina.
Pernyataan Donald menggarisbawahi kekhawatiran bahwa pengalaman tempur nyata yang diperoleh Korea Utara di medan perang Eropa Timur dapat meningkatkan kapabilitasnya secara signifikan. “Itu mengubah kemampuan Korea Utara, dan pelatihan kami memperhitungkan ancaman tersebut,” tambahnya. Meski demikian, ia menegaskan bahwa latihan ini murni difokuskan pada ancaman di Semenanjung Korea dan pertahanan Korea Selatan, bukan sebagai provokasi terhadap negara lain.
Bagi Indonesia, dinamika keamanan di Semenanjung Korea memiliki resonansi tersendiri. Sebagai negara yang aktif dalam forum regional seperti ASEAN dan mitra dialog Korea Selatan, Jakarta perlu mencermati eskalasi ketegangan yang dapat berdampak pada stabilitas kawasan Indo-Pasifik. Selain itu, pengalaman Korea Selatan dalam menghadapi ancaman siber dan drone dari Korea Utara dapat menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia yang tengah memperkuat pertahanan siber nasional dan modernisasi alutsista.
Pyongyang, seperti biasa, diperkirakan akan mengecam latihan ini sebagai provokasi yang meningkatkan ketegangan. Sikap keras Korea Utara terhadap Seoul semakin nyata setelah merevisi konstitusi tahun ini, menghapus referensi reunifikasi dan secara eksplisit mendefinisikan wilayahnya sebagai negara yang berbatasan dengan Korea Selatan. Langkah ini menandai pergeseran kebijakan jangka panjang Pyongyang dari narasi persatuan menuju pengakuan de facto dua negara.
Para analis menilai bahwa latihan gabungan ini adalah sinyal nyata dari aliansi Seoul-Washington untuk beradaptasi dengan ancaman yang semakin asimetris. Namun, pertanyaan yang menggantung adalah sejauh mana Pyongyang akan merespons — apakah akan meluncurkan provokasi baru, seperti uji coba rudal atau gangguan siber, yang dapat memicu siklus ketegangan yang lebih dalam di kawasan?



