Trump Kecam Serangan Drone Iran di Selat Hormuz: Pelanggaran Gencatan Senjata yang 'Bodoh'
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump mengecam serangan drone Iran yang menghantam kapal kargo di Selat Hormuz, menyebutnya sebagai pelanggaran 'bodoh' terhadap gencatan senjata.
- Serangan itu memaksa PBB menangguhkan evakuasi 600 kapal dan 11.000 pelaut yang terdampar di Teluk sejak perang pecah pada Februari lalu.
- Insiden ini mempertegas kerapuhan gencatan senjata 8 April dan meningkatkan risiko gangguan pada jalur pelayaran vital minyak dunia.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengecam serangan drone Iran yang menghantam sebuah kapal kargo di Selat Hormuz, Jumat (26/6), sebagai pelanggaran 'bodoh' terhadap kesepakatan gencatan senjata yang telah berlangsung sejak April. Serangan itu terjadi di tengah upaya evakuasi ratusan kapal dan ribuan pelaut yang masih terdampar di kawasan Teluk sejak perang regional pecah pada akhir Februari.
Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump menyatakan bahwa salah satu drone Iran berhasil mengenai geladak atas sebuah kapal kargo besar dan mahal, sementara tiga drone lainnya berhasil ditembak jatuh. Ia menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap perjanjian gencatan senjata yang telah disepakati sebelumnya. Pernyataan Trump muncul sehari setelah Badan Keamanan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan bahwa sebuah kapal kargo di Selat Hormuz terkena proyektil tak dikenal di sisi kanan, menyebabkan kerusakan pada anjungan kapal. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam insiden yang terjadi hanya 7,5 mil laut (14 kilometer) dari pesisir Oman itu.
Serangan ini langsung memicu reaksi berantai di tingkat internasional. Sekretaris Jenderal Organisasi Maritim Internasional (IMO) PBB, Arsenio Dominguez, mengumumkan penghentian sementara operasi evakuasi terhadap sekitar 600 kapal dan 11.000 pelaut yang masih terperangkap di Teluk. Operasi evakuasi tersebut merupakan bagian dari upaya kemanusiaan yang dimulai setelah perang yang diluncurkan AS dan Israel pada 28 Februari lalu. Gencatan senjata yang mulai berlaku pada 8 April sempat memberi harapan, tetapi kekerasan sporadisโtermasuk serangan terhadap kapal oleh pasukan Iran dan serangan balasan ASโterus mewarnai kawasan tersebut.
Bagi Indonesia, eskalasi di Selat Hormuz memiliki implikasi langsung. Selat ini merupakan jalur utama pasokan minyak mentah dari Timur Tengah ke Asia, termasuk Indonesia. Gangguan berkelanjutan di kawasan itu berpotensi memicu volatilitas harga minyak global dan mengerek biaya impor energi nasional. Pemerintah Indonesia perlu mencermati perkembangan ini, mengingat ketergantungan pada minyak impor masih signifikan. Selain itu, keselamatan pelaut Indonesia yang mungkin bertugas di kapal-kapal yang terdampak juga menjadi perhatian serius.
Para analis menilai bahwa serangan ini menunjukkan lemahnya mekanisme penegakan gencatan senjata di kawasan tersebut. Meskipun ada kesepakatan damai, aktor-aktor di lapangan masih memiliki ruang untuk melancarkan serangan terbatas tanpa konsekuensi berarti. โIni adalah pengingat bahwa gencatan senjata hanyalah secarik kertas tanpa komitmen nyata dari semua pihak,โ ujar seorang pengamat geopolitik dari lembaga kajian strategis di Jakarta. Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah AS dan Iran mampu menahan diri untuk tidak memicu eskalasi lebih lanjut, atau justru insiden ini akan menjadi awal dari babak baru konfrontasi terbuka di jalur pelayaran paling vital di dunia.



