Serangan Pakistan ke Afghanistan: Gencatan Senjata Runtuh, Puluhan Tewas
Baca dalam 60 detik
- Pakistan melancarkan serangan darat dan udara ke tiga provinsi Afghanistan, menewaskan puluhan orang menurut klaim kedua pihak.
- Serangan ini dipicu oleh aksi bunuh diri di Karachi yang menewaskan tiga personel paramiliter Pakistan, diklaim oleh faksi pecahan TTP.
- Gencatan senjata Oktober lalu kembali gagal, memperpanjang siklus kekerasan di perbatasan yang telah menelan ratusan korban jiwa.

Pakistan kembali melancarkan serangan militer ke wilayah Afghanistan pada Minggu (24/12), mengirimkan pasukan darat dan jet tempur ke provinsi perbatasan Paktia, Paktika, dan Kunar. Otoritas Taliban di Kabul mengklaim sedikitnya 100 orang tewas atau terluka, termasuk warga sipil, sementara Islamabad menyebut 29 militan tewas dalam operasi yang menargetkan persembunyian mereka.
Serangan ini terjadi sehari setelah aksi bom bunuh diri di markas Sindh Rangers di Karachi menewaskan tiga personel paramiliter Pakistan dan tiga pelaku. Kelompok Jamaat-ul-Ahrar, faksi pecahan Tehrik-i-Taliban Pakistan (TTP), mengklaim bertanggung jawab atas serangan Sabtu itu. Pakistan menuduh Afghanistan menjadi tempat persembunyian kelompok teroris yang melancarkan serangan lintas batas, tuduhan yang selalu dibantah oleh Taliban Afghanistan.
Ketegangan kedua negara sebenarnya sudah mereda setelah gencatan senjata yang dimediasi pihak internasional pada Oktober lalu. Namun, kesepakatan itu kembali kandas, seperti halnya perjanjian serupa sebelumnya. Dalam beberapa bulan terakhir, bentrokan dan serangan udara sporadis telah menewaskan puluhan orang di kedua sisi perbatasan. Pada Februari lalu, bentrokan perbatasan menewaskan puluhan orang; Maret, serangan Pakistan ke pusat rehabilitasi narkoba di Kabul menewaskan ratusan orang; dan awal Juni, serangan udara Pakistan menewaskan 26 militan, sementara Taliban mengklaim 13 warga sipil, sebagian besar anak-anak, juga menjadi korban.
Bagi Indonesia, eskalasi di perbatasan Pakistan-Afghanistan menjadi perhatian serius. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar dan anggota OKI, Indonesia kerap menjadi mediator dalam dialog perdamaian Afghanistan. Ketidakstabilan di kawasan itu berpotensi memperkuat jaringan kelompok ekstremis transnasional, termasuk yang pernah terafiliasi dengan jaringan teror di Asia Tenggara. Selain itu, konflik berkepanjangan dapat memicu gelombang pengungsi baru yang membebani negara-negara tetangga, termasuk Indonesia yang selama ini menjadi tujuan pengungsi Rohingya dan Afghanistan.
Menurut analis keamanan dari Universitas Indonesia, siklus serangan balasan antara Pakistan dan Taliban Afghanistan menunjukkan kegagalan pendekatan militer dalam menyelesaikan konflik perbatasan. โTanpa dialog komprehensif yang melibatkan suku-suku lokal dan penanganan akar masalah seperti kemiskinan dan radikalisme, kekerasan akan terus berulang,โ ujarnya. Pakistan, di sisi lain, merasa frustrasi karena Taliban Afghanistan dianggap tidak mampu mengendalikan kelompok militan yang beroperasi dari wilayahnya.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah komunitas internasional, termasuk Indonesia, dapat mendorong kedua pihak kembali ke meja perundingan sebelum konflik meluas menjadi perang terbuka. Dengan catatan pelanggaran gencatan senjata yang berulang, optimisme untuk perdamaian jangka panjang semakin tipis.



