Peselancar Muda AS Sawyer Lindblad Akhirnya Cicipi Kemenangan Perdana di World Surf League
Baca dalam 60 detik
- Sawyer Lindblad, rookie of the year 2024, memenangkan gelar pertamanya di ajang World Surf League Rio Pro setelah tiga kali menjadi runner-up.
- Yago Dora, juara dunia bertahan asal Brasil, juga meraih kemenangan perdananya musim ini di nomor putra dan naik ke peringkat tiga dunia.
- Kondisi ombak kecil dan berarus balik di Saquarema menjadi tantangan besar bagi para peserta, menghasilkan skor total yang rendah di final putri.

Peselancar asal California, Sawyer Lindblad, akhirnya memecah kebuntuan dengan meraih kemenangan perdana di ajang World Surf League (WSL) Championship Tour saat tampil di Rio Pro, Brasil, Jumat lalu. Gelar ini menjadi penebus kegagalannya di tiga final sebelumnya.
Dalam final putri yang berlangsung di Pantai Saquarema, dekat Rio de Janeiro, Lindblad yang kini berusia 20 tahun mengalahkan remaja Prancis Tya Zebrowski. Keduanya harus berjuang keras di tengah ombak kecil dan tidak stabil yang dipengaruhi arus balik, sehingga skor akhir hanya 7,67 poin dari maksimal 20 poin untuk dua ombak terbaik. Lindblad unggul tipis setelah Zebrowski gagal menyelesaikan ombak di detik-detik akhir.
“Saya sangat emosional. Saya sudah bekerja keras untuk ini. Saya sering menjadi runner-up, dan akhirnya hari ini milik saya,” ujar Lindblad, yang dinobatkan sebagai pendatang baru terbaik tahun 2024. Perjalanannya menuju final tidak mudah: ia harus melewati babak demi babak dengan skor tipis.
Di sisi lain, Zebrowski—peselancar termuda yang lolos ke world tour pada usia 14 tahun—menunjukkan performa gemilang di babak sebelumnya. Ia sukses menyingkirkan juara dunia delapan kali Stephanie Gilmore dan juara dunia lima kali Carissa Moore. Namun, di final ia gagal menemukan ritme terbaiknya.
Sementara itu, di nomor putra, juara dunia bertahan asal Brasil Yago Dora sukses meraih kemenangan pertamanya musim ini. Ia mengalahkan atlet Italia Leonardo Fioravanti dengan skor meyakinkan 15,00 berkat aksi aerial full rotation di ombak kritis yang mendapat nilai 8,50. Dora, yang sebelumnya menyingkirkan Ethan Ewing dari Australia, mengaku terkejut dengan dukungan penonton yang tetap datang meski hujan dan badai. “Saya pikir pantai akan sepi hari ini,” katanya.
Fioravanti, yang baru saja memenangkan gelar perdananya setelah menunggu lebih dari satu dekade di El Salvador awal bulan ini, berusaha bangkit dengan kombinasi turn-to-aerial bernilai 7,50. Namun ia gagal menemukan ombak besar kedua dan harus puas dengan skor akhir 13,17. Kemenangan Dora mendorongnya ke peringkat 3 dunia, di belakang Filipe Toledo (Brasil) dan Jack Robinson (Australia), sekaligus memperketat persaingan di papan atas klasemen.
Bagi penggemar selancar di Indonesia, ajang WSL Championship Tour selalu menarik perhatian karena banyak peselancar top berlatih di ombak Indonesia seperti di Bali, Lombok, dan Mentawai. Keberhasilan Lindblad dan Dora menunjukkan bahwa konsistensi dan adaptasi terhadap kondisi ombak yang menantang menjadi kunci sukses. Dengan 12 seri dalam satu musim, persaingan gelar juara dunia masih terbuka lebar. Akankah peselancar Indonesia suatu hari mampu menembus panggung dunia seperti mereka?



