Ingebrigtsen Kembali dari Cedera, Rebut Emas 5.000 Meter Eropa dengan Sprint Akhir yang Mencekam
Baca dalam 60 detik
- Jakob Ingebrigtsen mencatatkan waktu 13 menit 15,29 detik untuk meraih emas ketujuh di Kejuaraan Atletik Eropa, menyamai rekor Sandra Elkasevic.
- Pelari Norwegia itu menjalani operasi Achilles pada Januari dan baru kembali berlatih enam pekan sebelum tampil di Birmingham, menunjukkan pemulihan yang luar biasa.
- Kemenangan ini menegaskan dominasi Ingebrigtsen di pentas Eropa, dengan 12 kemenangan beruntun di final lintasan sejak 2019, dan membuka peluangnya untuk tampil di Olimpiade Paris 2024.

Jakob Ingebrigtsen membuktikan kelasnya dengan merebut medali emas nomor 5.000 meter pada Kejuaraan Atletik Eropa di Birmingham, Inggris, Selasa (11/6/2024). Kemenangan ini terasa istimewa karena pelari Norwegia itu baru saja pulih dari cedera Achilles yang nyaris menghentikan kariernya. Dengan catatan waktu 13 menit 15,29 detik, Ingebrigtsen menyamai rekor tujuh emas Eropa milik pelempar cakram asal Kroasia, Sandra Elkasevic.
Perjalanan Ingebrigtsen menuju podium tertinggi tidaklah mulus. Ia menjalani operasi Achilles pada Januari lalu dan baru kembali berlatih intensif enam pekan sebelum kejuaraan. Bahkan, 324 hari berlalu sejak terakhir kali ia berlomba di nomor 5.000 meter, tepatnya saat tampil di Kejuaraan Dunia Tokyo pada September tahun lalu. Saat itu, ia hanya mampu finis kesepuluh, jauh dari ekspektasi sebagai juara bertahan dua kali.
Keputusan untuk tampil di Birmingham sempat diragukan banyak pihak. Namun, Ingebrigtsen memilih nekat setelah berdiskusi dengan tim pelatihnya. "Jika Anda menunggu persiapan sempurna, kondisi ideal, dan waktu yang tepat, Anda akan menunggu seumur hidup," tulisnya di media sosial sebelum lomba. Sikap ini mencerminkan mentalitas seorang juara yang tidak mau menyerah pada keadaan.
Di lintasan, Ingebrigtsen sempat tertahan di belakang pelari Prancis, Jimmy Gressier, pada lap terakhir. Namun, dengan sprint akhir yang luar biasa, ia berhasil melewati lawannya dan finis pertama. Mantan pemegang rekor dunia maraton, Paula Radcliffe, menyebut penampilan Ingebrigtsen sebagai "contoh klasik bagaimana seharusnya tidak berlari dalam lomba comeback". Namun, ia juga memuji kegigihan pelari 25 tahun tersebut. "Sulit membayangkan betapa beratnya baginya untuk kembali setelah operasi seperti itu," ujar Radcliffe di BBC.
Kemenangan ini tidak hanya menegaskan dominasi Ingebrigtsen di Eropa, tetapi juga menjadi sinyal kuat bagi persaingan menuju Olimpiade Paris 2024. Dengan kondisi fisik yang semakin pulih, ia diprediksi akan menjadi ancaman serius bagi pelari-pelari Kenya dan Ethiopia yang selama ini mendominasi nomor jarak jauh. Bagi Indonesia, prestasi Ingebrigtsen menjadi pengingat bahwa pemulihan dari cedera bukanlah akhir dari segalanya. Atlet-atlet Tanah Air, seperti pelari sprinter Lalu Muhammad Zohri, dapat mengambil pelajaran tentang pentingnya kesabaran dan kerja keras dalam menghadapi masa pemulihan.
Sejak 2019, Ingebrigtsen hanya sekali gagal meraih emas di final Eropa, yaitu saat ia harus puas dengan perak di nomor 1.500 meter indoor. Catatan ini menunjukkan konsistensi yang luar biasa, terutama di tengah tekanan cedera yang berkepanjangan. Namun, pertanyaan besarnya kini adalah: dapatkah ia mempertahankan performa ini hingga Olimpiade Paris? Dengan persaingan yang semakin ketat, jawabannya akan menjadi ujian sejati bagi ketahanan fisik dan mentalnya.



