Gempa 7,4 Magnitudo Guncang Kolombia: 111 Tewas, Keadaan Darurat Ditetapkan
Baca dalam 60 detik
- Gempa dangkal berkekuatan 7,4 SR meluluhlantakkan wilayah barat Kolombia, menewaskan sedikitnya 111 orang dan melukai 87 lainnya.
- Presiden baru Kolombia, Abelardo de la Espriella, langsung mengumumkan status darurat nasional dan memprioritaskan evakuasi korban dari reruntuhan.
- Dampak terparah terjadi di Pereira dan Manizales, dengan kerusakan infrastruktur kritis dan gangguan komunikasi yang menghambat upaya penyelamatan.

Guncangan dahsyat berkekuatan 7,4 magnitudo mengguncang wilayah barat Kolombia pada Senin (10/8) waktu setempat, meruntuhkan puluhan bangunan dan menewaskan sedikitnya 111 orang. Presiden yang baru dilantik, Abelardo de la Espriella, langsung menetapkan status darurat nasional dalam pidato yang disiarkan televisi, menegaskan bahwa prioritas utama pemerintah adalah menyelamatkan warga yang masih terjebak di bawah puing-puing.
Menurut catatan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), pusat gempa berada di kedalaman 107 kilometer. Meski relatif dalam, Badan Geologi Kolombia menyebut ini sebagai gempa terkuat yang pernah tercatat di negara tersebut sepanjang abad ke-21. Getarannya terasa hingga ke sejumlah kota besar, termasuk Cali, Pereira, dan Manizales, yang merupakan bagian dari kawasan penghasil kopi yang padat penduduk.
Laporan sementara dari otoritas setempat menyebutkan 87 orang mengalami luka-luka, sementara puluhan bangunan runtuh total. Di Pereira, ibu kota departemen Risaralda, sebuah gedung berlantai empat ambruk dan tim penyelamat masih berupaya menjangkau korban yang diduga tertimbun. Rekaman video yang beredar menunjukkan menara samping katedral neo-Gotik ikonik di Manizales ikut roboh, menimbun jalan-jalan di sekitarnya dengan puing-puing.
Di Cali, petugas pemadam kebakaran Mauricio Andrade menuturkan kepada Reuters bahwa timnya berhasil mengevakuasi dua perempuan dewasa dan dua anak-anak dari satu bangunan yang runtuh. "Mereka masih hidup. Kami sedang membuat ruang agar bisa membebaskan mereka dan mengeluarkannya," ujarnya. Sementara itu, warga sipil membentuk rantai manusia untuk memindahkan reruntuhan secara manual, seperti diungkapkan Juan Carlos Osorio kepada stasiun televisi Caracol. "Kami butuh alat berat. Masih banyak orang yang terjebak," katanya.
Gangguan komunikasi menjadi kendala besar di wilayah Choco yang dekat dengan episentrum. Gubernur Nubia Carolina Cordoba melaporkan 12 orang tewas dan 84 luka-luka di daerah yang sebagian besar berupa pedesaan itu, namun angka tersebut diperkirakan masih akan bertambah seiring pulihnya jaringan telepon seluler. Otoritas penerbangan sipil Kolombia juga menghentikan operasi di enam bandara di barat negara itu, termasuk Pereira, Manizales, dan Quibdo, untuk inspeksi keamanan struktur.
Kolombia memang terletak di Cincin Api Pasifik, kawasan dengan aktivitas seismik tinggi yang mencatat ribuan gempa kecil setiap bulannya. Namun, ahli seismologi dari Universitas Northwestern, Suzan van der Lee, menyoroti keanehan gempa kali ini. "Gempa ini berada jauh di bawah kerak bumi, dan secara teori seharusnya tidak menyebabkan guncangan sebesar itu. Tetapi pada magnitudo ini, guncangannya ternyata sangat kuat," jelasnya. Kombinasi kekuatan besar, lokasi di daratan, dan mekanisme sesar mendatar diduga memperparah kerusakan di lembah-lembah padat penduduk.
Bencana ini mengingatkan pada gempa 6,2 SR yang meluluhlantakkan kawasan kopi Kolombia pada 1999, menewaskan lebih dari 1.000 orang, terutama di Armenia dan Pereira. Kini, dengan infrastruktur yang belum sepenuhnya pulih dari pandemi dan tekanan ekonomi, pemerintah dihadapkan pada tugas berat rekonstruksi di tengah status darurat. Pertanyaannya, apakah sistem tanggap darurat yang ada mampu bergerak cepat sebelum gempa susulan kembali menimbulkan korban jiwa?



