Menginap di Tengah Sejarah: Ohana Ryokan, Satu-Satunya Penginapan di Area Cagar Budaya Nasional Jepang
Baca dalam 60 detik
- Ohana Ryokan di Yanagawa, Fukuoka, menjadi satu-satunya penginapan di Jepang yang berada di dalam kawasan Taman Nasional Tempat Keindahan Pemandangan, dengan sejarah keluarga samurai Tachibana selama 400 tahun.
- Setelah restorasi besar-besaran, ryokan ini kembali beroperasi pada Januari 2025, menawarkan 20 kamar yang memadukan elemen arsitektur asli dengan sentuhan modern, serta pengalaman budaya seperti sarapan di atas perahu kanal.
- Dengan koleksi museum 50.000 artefak dan taman pinus berusia 200 tahun, Ohana Ryokan menjadi destinasi wisata budaya yang menarik minat wisatawan global, termasuk potensi pasar Indonesia yang haus pengalaman autentik.

Di tengah hiruk-pikuk modernitas Jepang, sebuah penginapan tradisional di Yanagawa, Fukuoka, menawarkan pengalaman yang tak tertandingi: menjadi satu-satunya tempat menginap di kawasan yang ditetapkan sebagai Tempat Keindahan Pemandangan (Place of Scenic Beauty) tingkat nasional. Ohana Ryokan, yang dikelola oleh keturunan ke-18 keluarga samurai Tachibana, bukan sekadar hotel, melainkan museum hidup yang menyimpan 400 tahun sejarah, taman pinus berusia dua abad, dan jaringan kanal yang membentuk lanskap kota.
Keunikan Ohana Ryokan terletak pada statusnya yang langka. Kawasan ini masuk dalam daftar resmi pemerintah Jepang bersama dengan Hutan Bambu Arashiyama di Kyoto dan kawasan Gunung Fuji. Namun, hanya Ohana yang mengizinkan tamu untuk bermalam di dalam area cagar budaya tersebut. Chizuka Tachibana, CEO yang mengambil alih pengelolaan dari ayahnya pada 2015, menjelaskan bahwa visinya adalah menjaga warisan keluarga sambil membuka pintu bagi wisatawan untuk merasakan atmosfer yang dulu hanya dinikmati kalangan bangsawan.
Sejarah Ohana dimulai pada 1738 ketika kepala klan keenam, Sadayoshi Tachibana, membangun kediaman untuk selir dan anak-anaknya. Namun, titik balik terjadi setelah Perang Dunia II, ketika nenek Chizuka, Ayako Tachibana, memutuskan mengubah lahan seluas 23.000 meter persegi menjadi ryotei-ryokan (restoran tradisional dengan penginapan) pada 1950. Keputusan ini lahir dari keterpaksaan ekonomi: reformasi agraria dan pajak warisan yang tinggi telah menggerus kekayaan keluarga bangsawan. Ayako rela melepas kediaman di Tokyo demi mempertahankan properti bersejarah ini.
Restorasi besar-besaran yang dilakukan Chizuka sejak 2015 tidak hanya memperkuat struktur bangunan terhadap gempa, tetapi juga mempertahankan elemen asli seperti tiang penyangga, ambang pintu, dan langit-langit kayu. "Kami ingin melestarikan bangunan ini untuk 100 tahun ke depan," ujarnya. Setelah ditutup sementara, Ohana kembali beroperasi pada 11 Januari 2025, bertepatan dengan perayaan 75 tahun berdirinya sebagai bisnis perhotelan. Kini, 20 kamar yang tersedia dirancang untuk memanjakan mata dengan pemandangan taman, sambil tetap mempertahankan sentuhan tradisional seperti tatami igusa dan plester hitam khas daerah.
Bagi wisatawan Indonesia, Ohana Ryokan menawarkan pelajaran berharga tentang pelestarian warisan budaya. Di tengah maraknya pembangunan hotel modern, model pengelolaan yang menggabungkan sejarah, seni, dan keramahan ini bisa menjadi inspirasi bagi pengelola destinasi di Indonesia, seperti kawasan Kotagede di Yogyakarta atau kampung-kampung tua di Jakarta. Keberhasilan Ohana menarik wisatawan global juga menunjukkan bahwa autentisitas dan cerita lokal adalah daya tarik utama yang tidak bisa ditiru oleh bangunan baru.
Pengalaman menginap di Ohana tidak hanya tentang kemewahan, tetapi juga interaksi dengan alam dan budaya. Tamu dapat menikmati sarapan di atas perahu donkobune yang menyusuri kanal, atau menyaksikan bebek migran dari Siberia yang singgah di kolam taman antara Oktober hingga Maret. Di musim dingin, perahu kotatsu yang dipanaskan menawarkan cara unik menikmati hidangan lokal sambil berkeliling kota. Kolaborasi dengan merek desain Denmark, Fritz Hansen, pada Februari 2025 juga menunjukkan bahwa warisan budaya bisa berdialog dengan kreativitas kontemporer tanpa kehilangan jati diri.
Di balik keindahan arsitektur, tersimpan kisah perjuangan keluarga Tachibana yang patut direnungkan. Ayako, yang tumbuh sebagai putri bangsawan dan pernah memenangkan turnamen tenis nasional pada 1933, harus beradaptasi menjadi pengusaha di usia senja. "Mereka tidak punya uang, hanya rumah ini. Jika nenek saya tidak memulai Ohana, bangunan ini mungkin tidak akan ada," kenang Chizuka. Semangat inilah yang membuat Ohana bukan sekadar tempat menginap, melainkan monumen hidup ketangguhan manusia.
Bagi mereka yang merencanakan perjalanan ke Jepang, Ohana Ryokan menawarkan lebih dari sekadar akomodasi. Ini adalah undangan untuk menyelami sejarah, menikmati ketenangan taman pinus, dan merasakan keramahan yang diwariskan turun-temurun. Namun, pertanyaan yang menggoda: apakah model pelestarian seperti ini dapat direplikasi di Indonesia, di tengah tekanan komersialisasi dan modernisasi? Jawabannya mungkin terletak pada keberanian untuk memprioritaskan nilai warisan di atas keuntungan jangka pendek.



