Laga Timnas Irlandia vs Israel Dipindah ke Serbia, Tekanan Politik Menguat
Baca dalam 60 detik
- Pertandingan Nations League antara Republik Irlandia dan Israel akan digelar di Serbia tanpa penonton setelah dipindah dari Dublin.
- Keputusan ini dipicu gelombang protes pro-Palestina di Irlandia, termasuk kampanye boikot dan aksi di parlemen.
- FAI mengaku terpaksa memindahkan laga untuk menghindari sanksi pengurangan poin yang bisa menjatuhkan peringkat tim.

Laga Nations League antara Republik Irlandia dan Israel resmi dipindahkan ke Serbia setelah tekanan politik dan protes pro-Palestina di Dublin kian memanas. Pertandingan yang semula dijadwalkan berlangsung di Aviva Stadium pada 4 Oktober itu kini akan digelar di TSC Arena, Backa Topola, Serbia, tanpa kehadiran penonton.
Keputusan ini diambil oleh Asosiasi Sepak Bola Irlandia (FAI) setelah mendapat persetujuan UEFA selaku otoritas sepak bola Eropa. Langkah tersebut merupakan respons terhadap aksi demonstrasi besar-besaran di luar gedung parlemen Irlandia (Dail) serta gangguan dalam laga persahabatan melawan Qatar pada Mei lalu, di mana bola tenis bergambar bendera Palestina dilemparkan ke lapangan sebanyak dua kali. Kelompok Irish Sport for Palestine juga meluncurkan kampanye bertajuk 'Stop the Game' yang mendesak pembatalan pertandingan.
Meski menghadapi desakan boikot, FAI bersikeras tetap menjalani laga tersebut. Dalam pernyataan resminya, FAI menilai bahwa mundur dari pertandingan akan berdampak besar pada sepak bola Irlandia secara keseluruhan. Jika tidak memenuhi kewajiban, Irlandia terancam kehilangan enam poin yang bisa menyebabkan degradasi ke Liga C Nations League, serta memengaruhi peringkat UEFA dan FIFA. Lebih jauh, FAI menyoroti bahwa konsekuensi sebaliknya justru akan menguntungkan Israel, membuka peluang promosi dan lolos ke Euro 2028.
Dalam proses pemindahan ini, FAI sempat mengutip pernyataan dari Asosiasi Sepak Bola Palestina (PFA) yang disebutnya menghormati keputusan FAI. Namun, PFA kemudian mengklarifikasi bahwa mereka tidak pernah mengeluarkan pernyataan yang mendukung atau menyetujui pertandingan tersebut. "Setiap interpretasi yang menyiratkan PFA memberikan restu terhadap pertandingan ini tidak mencerminkan posisi kami secara akurat," tegas PFA dalam rilis terpisah.
Konflik Gaza yang melatarbelakangi ketegangan ini masih berlangsung. Serangan militer Israel di Gaza dimulai setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 warga. Menurut kementerian kesehatan yang dikelola Hamas, lebih dari 73.000 warga Gaza tewas, termasuk 21.280 anak-anakโangka yang dianggap kredibel oleh PBB. Situasi ini memicu gelombang solidaritas global, termasuk di Irlandia yang memiliki sejarah kuat dukungan terhadap Palestina.
Bagi publik Indonesia, dinamika ini relevan mengingat posisi Indonesia yang konsisten mendukung kemerdekaan Palestina. Kasus Irlandia menunjukkan bagaimana tekanan politik dan opini publik dapat memengaruhi penyelenggaraan olahraga internasional. Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah model pemindahan laga ke netral ini akan menjadi preseden bagi pertandingan lain yang melibatkan Israel, atau justru memperkuat gerakan boikot di kancah sepak bola Eropa.



